Rabu, Oktober 20, 2021
BerandahobiPertaruhkan Kualitas Kicauan Dengan Manajemen Kandang Yang Tepat

Pertaruhkan Kualitas Kicauan Dengan Manajemen Kandang Yang Tepat

“Pak, mohon disiapkan untuk saya anakan cucak rawa sepasang. Uang segera dikirim.” Itulah percakapan melalui kawat komunikasi seorang konsumen di Kalimantan dengan Muchsinin, perawat kandang Megananda Bird Farm (MBF) di Bogor, Jawa Barat. Para konsumen yang kepincut burung-burung keluaran MBF mesti bersabar. Musababnya piyik masih terbungkus cangkang telur pun sudah antre diinden hobiis.

Katuranggan baik serta volume suara besar dan kuat merupakan penyebab tangkaran Megananda Daryono, sang pemilik, diburu para mania burung kicauan. Di arena kontes, banyak burung-burung keluaran MBF mengukir prestasi. Sri Melayu misalnya, merebut gelar jawara pada Gamako X di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara. murai batu berumur 2 tahun itu memiliki ketajaman dan variasi suara baik.

“Saya mengutamakan kualitas, bukan kuantitas,” ujar Mega sampai panggilan akrab Megananda. Tak heran dari 10 kandang cucak rawa, hanya dihasilkan 5 sampai 6 pasang per 3 bulan. Demikian juga murai batu, dari 17 kandang hanya 4 sampai 5 pasang. Harga dipatok Rp2 sampai 2,5-juta untuk setiap pasang. Beberapa induk masih pasangan muda sehingga produksi belum maksimal.

Burung dilepas ketika berumur 2 sampai 3 minggu. Burung seumur itu sudah dapat makan sendiri dan belajar mengoceh. Para pembeli harus datang langsung ke kandang agar mereka bisa melihat dan mendengar ocehan burung pilihannya. Meski MBF mensyaratkan pembelian seperti itu, “Peminat dari Kalimantan, Jawa tengah, Tasikmalaya, Yogyakarta, dan Jakarta tetap berdatangan,” lanjut Mega.

Kandang Tertata Rapi

Penangkaran milik Megananda berlokasi di Kampung Cijujungtengah, Ciluar, Bogor. Areal seluas 6.000 m2 itu dibagi untuk kandang cucak rawa, murai batu, dan jalak suren. Ketika Trubus berkunjung tampak deretan kandang tertata rapi dan bersih. Khusus kandang cucak rawa, terlihat pepohonan yang sengaja ditanam di dalam kandang. “Kondisi kandang diusahakan sesuai habitat asli burung itu berasal,” ujar Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Farm yang dibangun sejak 1999 itu terwujud melalui perjalanan panjang. Pembangunan memakan waktu hingga 2 tahun. Maklum sebelum dibangun, ia harus berkonsultasi, dan mencari informasi kandang ideal. Termasuk berdiskusi dengan Cuan Lie, penangkar burung kicauan senior dari Palembang dilakoninya.

Lokasi itu cocok untuk penangkaran lantaran jauh dari keramaian dan lingkungan masih alami. “Di sini sejuk dan hari hujan lebih tinggi sehingga burung-burung terpacu untuk kawin,” ujar ayah 2 putri itu.

Kandang yang bersih
Kandang tertata rapi dan bersih

Atas kerja kerasnya menata tempat penangkaran yang demikian apik, pada 2019 Taman Burung TMII bersama Pelestari Burung Indonesia (PBI) pusat menetapkan MBF sebagai farm percontohan burung kicauan.

Pemilihan Indukan Berkualitas

Indukan yang digunakan untuk menghasilkan anakan berkualitas diambil dari koleksi sendiri. Sebelumnya, ia memiliki 5 pasang cucak rawa, 10 pasang murai batu, dan 2 pasang anis kembang. Kini, total indukan 44 pasang terdiri dari 20 pasang cucak rawa, 17 pasang murai batu, 2 pasang anis kembang, dan 5 pasang jalak suren.

Untuk memasarkan burung hasil tangkaran bagi MBF bukan hal sulit. Kesertaannya dalam kontes-kontes burung menjadi jalan pembuka berhubungan dengan para hobiis. ’’Kontes itu adalah sarana tepat untuk promosi,” kata lulusan SMU 3 Jakarta itu. Selain itu ia pun banyak berhubungan dengan instansi terkait sehingga sering tampil di berbagai seminar dan pameran.

Megananda
Megananda, obsesi bangun kondang penangkaran yang terbaik

Karena jaringan pasar telah terbentuk dan kualitas hasil tangkaran terjamin, usaha penangkarannya cepat berkembang. “Saya puas hobi tersalurkan dengan baik, meski belum meraup untung,” ujarnya. Ia tetap bergeming untuk terus melanjutkan penangkaran yang dinilainya prospektif.

Populasi Menipis di alam

Obsesi Mega membangun penangkaran bermula ketika ia ditugaskan kantornya ke Medan, Sumatera Utara. Di sana pria 52 tahun itu melihat populasi burung-burung bersuara merdu itu di alam makin menipis. “Bayangkan kalau murai batu dari Tapanuli Selatan punah, kasihan anak cucu kita,” ujar peraih Gelar Master di Pace of University, New York itu. cucak rawa di hutan-hutan Aceh, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan yang tak kalah indah juga hampir punah. Burung-burung itu memang mudah ditangkap sehingga penurunan populasi demikian cepat.

Kecintaan Mega pada burung sebetulnya telah ditunjukkan sejak kuliah. Di tempat kosnya ada beberapa sangkar berisi cucak rawa, murai batu, kenari, dan lain-lain.Bahkan Mega kerap menjual-beli burung. Otomatis sehari-hari tak lepas dari memanjakan diri dengan klangenannya. Hingga lulus pada 1979 dan bekerja di sebuah perusahaan perkebunan, hobinya tak pernah pudar, malah kian menggila.

Buktinya ketika sekolah di Amerika Serikat ia juga memelihara burung. Di apartemen ia tak bisa tidur tanpa ditemani kicauan burung. Saat itu kenari menjadi pilihan. Pria berkacamata itu membeli 2 sampai 3 ekor. Tak hanya itu, karena suaranya yang bagus klangenannya diikutkan kontes.

Kandang cucak rawa
Kandang cucak rawa dibuat seperti di alam

“Kontes di sana berbeda dengan Indonesia,” kenang pria kelahiran Bukittinggi, 20 Januari 1952 itu. Suasana hening, tak ada teriakan penonton seperti kontes-kontes di tanah air. Burung maju satu per satu untuk dinilai para juri. Setelah semua kontestan dinilai, pemenangnya langsung diumumkan.

“Kurang seru karena kita tidak bisa berteriak,” ujar Mega. Justru dengan teriakan itulah kita bisa refreshing. Kini tak hanya kontes yang rajin diikuti, kedatangannya 2 kali setiap pekan ke penangkaran bisa mengusir kepenatan. Apalagi jika telepon berdering, menandakan pesanan kembali mengalir. (Mitra)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments