Philodendron Terbaik, Adenium Dominan

Avatar
  • Whatsapp
mirip bonsai
bongol dan akar besar mirip bonsai

Senyum ceria merekah di wajah Heri Syaefudin. Kolektor tanaman hias asal Depok itu gembira kala juri menancapkan tanda grand champion di pot philodendron andalannya. Ia berhasil mengalahkan jawara aglaonema dan anthurium. Sejak awal tanaman itu memang diprediksi menjadi primadona kontes. Di kontes tanaman hias, Fiona 2003 juga digelar lomba perdana adenium memperebutkan penghargaan Boediardjo.

Philodendron berdaun lebat di pot 026 itu pantas menyandang gelar the best of the best. “Penampilannya luar biasa. Daun mulus, sehat, simetris, rapi, dan ukurannya jumbo,” ujar Ir Herlina, juri asal Jakarta. Nilai kelangkaannya juga tinggi. Jenis williamsii berdaun kecil itu termasuk jarang di Indonesia. Ia melesat 11 poin, meninggalkan rival terberatnya philodendron williamsii x bipinatifidum di pot 086.

Sosok tanaman milik Apu, kolektor tanaman hias asal Jakarta itu sebenarnya tak kalah cantik. Tanaman hasil silangan Greg Hambali itu berdaun lebar dengan batang besar dan tinggi. Sayang, ia terkesan padat dan kurang rapi. Padahal, nilai penampilan mencapai 20% dari total.

Persaingan super Ketat

Yang turut memperebutkan tahta grand champion adalah jawara aglaonema di pot 010. Nilainya sama dengan philodendron pot nomor 086. Penampilan aglaonema milik Tati Soeroyo itu juga istimewa. Sosoknya anggun. Daun mulus, kompak, berwarna hijau keputihan dengan gurat merah pada tulang daun. Itu yang membuat kelima juri yang terdiri atas Sukasdi, D. Herlina, Eka Wilaksmani Asih, Daeng, dan Syah Angkasa sepakat mengganjar tanaman hasil silangan Greg Hambali sebagai juara.

Justru aglaonema andalan Tati Soerojo di pot 007 yang menduduki juara ke 2. Ia tertinggal 9 poin. Padahal dari corak ia lebih mencolok. Warna merah muda mendominasi dengan sedikit bercak hijau memperindah penampilan. Namun, anggota famili Araceae itu agak menunduk dan jumlah batang minim, cuma 2. “Jenis itu memang akan menunduk pada umur tertentu. Bukan karena sakit,” ujar Tati, kolektor ratusan aglaonema itu.

Persaingan ketat terjadi di kategori anthurium. Tanaman daun milik Soeroso itu menang telak atas anthurium milik Harry S. Keistimewaan anthurium di pot 091 itu terletak pada daun bertekstur tebal, mulus, dan kompak. Ia memang kerap jadi juara di berbagai kontes. Prestasi terakhir juara I penghargaan Boediardjo di Tingal Orchid, Ciputat.

Philodendron williamsii
Philodendron williamsii diprediksi jadi grand champion

Kontes adenium Perdana

Kontes adenium juga menyedot perhatian pengunjung. Kamboja jepang itu tak kalah pamor meski tak diikutkan dalam perebutan grand champion. Walaupun baru pertama kali dilombakan, tetapi animo cukup besar. Terbukti ada 53 tanaman bersaing memperebutkan penghargaan Boediardjo.

Di kelas kecil (< 50 cm) adenium milik Chandra Gunawan merajai kontes. Gelar juara 1, 2, 3, dan harapan 2 jatuh pada pemilik Godongijo nursery itu. Wajar saja, sosok keempat adenium itu luar biasa. Terutama penghuni pot 189. “Bonggol dan akar besar, kokoh, dan artistik menyerupai bonsai,” ujar Syah Angkasa, juri dari Mitra Usaha Tani. Selain itu tajuk kompak berselimut bunga berwarna putih semu pink. Rivalnya di pot 186 tertinggal 17 poin meski dengan jenis bunga yang sama, half moon white.

Sementara di kelas besar (> 50 cm) tanaman di pot 177 berhasil mengalahkan adenium di pot 196 milik Chandra Gunawan dan 212 milik Kiki. Penampilan kamboja jepang milik Sasongko, kolektor tanaman hias asal Jakarta itu prima. Bonggol besar, cabang banyak, rimbun dengan bunga merah muda menyembul di antara dedaunan. Ia menang telak dengan nilai 447.

Kontes yang diselenggarakan di lapangan Banteng, Jakarta Pusat, itu diikuti lebih dari 160 tanaman. Peserta kebanyakan hobiis asal Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Semarang, dan Magelang. “Even ini sudah diselenggarakan kedua kalinya dan dijadikan ajang silaturahmi para hobiis tanaman hias,” tutur Suhandono BBM, ketua panitia.

Jumlah peserta dibanding tahun lalu memang lebih sedikit tetapi dari kualitas meningkat. Kategori yang dilombakan berdasarkan hasil pooling pada Fiona 2002. Oleh karena itu tiap tahun kategorinya selalu berubah tergantung selera pasar.

juara kontes
Para Juara