Pisang Formosana: Setandan Sama Besar

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

“Luar biasa,” ujar Mohammad Reza Tirtawinata terkagum-kagum saat melihat Pohon Pisang formosana. Pisang di kebun Taiwan Banana Research Institute itu memang istimewa. Ukuran buah dalam satu tandan seragam, mulai sisir atas hingga dekat jantung. Akibatnya bentuk tandan lurus. Di Indonesia segitiga terbalik karena buah kian mengecil ke bawah.

Pekebun di tanah air kerap mengeluh minimal 3 sisir pisang terakhir tidak laku lantaran ukuran buah mini. Supaya tidak rugi pisang dijual per tandan. Berbagai cara dilakukan supaya ukuran sisir terbawah besar. Salah satunya, setelah jantung dipotong bagian itu “dikompres” 2 sendok makan urea. Hasilnya ukuran buah seragam tetapi butuh ekstra biaya dan tenaga kerja.

Di Taiwan cara itu tidak dilakukan lantaran biaya tenaga kerja mahal, Rp300-ribu per hari. Padahal, pisang termasuk komoditas yang dicari pasar domestik dan ekspor. Dr Ching-Yan Tang, staf peneliti Taiwan Banana Research Institute tergugah menciptakan buah berukuran sama Dari 20 varietas yang diseleksi muncullah Formosana pada 1998. Julukan itu diambil dari nama pulau Formosa dan banana.

Besar Buah Yang Seragam

Tandan Pisang Formosana
Tandan lurus dan rapat

Keistimewaan formosana ukuran buah tiap sisir dalam satu tandan sama besar. Jika dilepaskan dari tandan tidak dapat dibedakan sisir atas dan bawah. Selain itu sisir menempel rapat memutari tandan, hampir tidak ada celah. Berarti tak memungkinkan disusupi hama seperti kumbang atau ulat. Itu sebabnya ukuran tandan lebih pendek meski jumlah sisir sama, 12 buah.

Sepintas sosoknya mirip cavendish. Namun, ukuran lebih pendek dan agak gemuk. Saat matang warna kulit kuning cerah dan mulus. Daging buah berwarna krem. Penampilan sempurna, itu patokan konsumen di sana. Ada sedikit bintik hitam mereka enggan menyentuhnya. Sementara rasa nomor dua, sehingga formosana yang tidak seenak ambon atau sereh rasa kurang manis dan agak keras tetap diminati. Untuk lidah Indonesia yang terbiasa dengan pisang manis dan lembut jelas tidak cocok.

“Jari” formosana sedikit bengkok sehingga puting tidak tampak. Bentuk itu menguntungkan ketika pengemasan. Selain mengurangi cacat buah juga irit tempat. Jari cavendish yang lurus kerap membentur dinding kardus kemasan dan membutuhkan ruang lebih banyak. Padahal sekali terbentur pisang gampang bonyok.

Keunggulan lain formosana tidak mudah copot dari tangkai. Meski buah sudah berwarna kuning, tangkai tetap hijau. Buah dipetik 3-4 bulan sejak bunga mekar. Setelah itu diperam hingga warna kuning timbul.

Dikembangkan secara Intensif

Pengembangbiakan pisang
Batang tegak, tahan tusarium

Menanam Pisang formosana berarti irit biaya penyemprotan. Ia tahan serangan fusarium yang jadi momok pekebun. Suatu ketika penanaman cavendish di pusat penelitian itu ludes akibat penyakit layu bakteri; formosana selamat. Kekebalan itu warisan dari induknya Tai-Chiao No.2.

Tai-Chiao merupakan turunan cavendish berbatang pendek. Ketika diperbanyak dengan teknik kultur jaringan terjadi mutasi. Dari yang mutasi ada beberapa tanaman menunjukkan sifat unggul. Itulah yang dinamakan formosana.Wajar jika formosana mirip cavendish. Kini ia jadi primadona pekebun mengalahkan Pei-Chiao pisang andalan Taiwan.

Sejak dilepas 2001, pekebun di Pingtung, selatan Taiwan, berbondong-bondong menanam. Dataran rendah bersuhu hangat memang cocok untuk formosana. Ketika panen, Musa paradisiaca itu jadi incaran eksportir. Jika ditanam di Indonesia yang udaranya lebih lembap rentan serangan cendawan.

Penanaman di Pingtung dilakukan secara intensif: pemupukan rutin, jumlah anakan dan buah dibatasi. Setiap tanaman disangga bambu agar tidak tumbang kena terpaan angin.

Petani mudah mendapatkan bibit seperti yang dijajakan di bursa bibit Taiwan Banana Research Institute. Sayang, untuk hijrah ke Indonesia sulit karena bibit tidak boleh sembarangan keluar dari Taiwan.