Pisang Sepatu Amora Tanpa Jantung, Tahan Hama Penyakit

Di sebuah kebun di Amorang, Sulawesi Utara. Belasan batang pisang tampak berbuah lebat. Namun, tidak terlihat jantung yang menjuntai di ujung tandan seperti lazimnya. Itulah sepatu amora. Pisang manis dan lezat tanpa jantung itu tahan …

Di sebuah kebun di Amorang, Sulawesi Utara. Belasan batang pisang tampak berbuah lebat. Namun, tidak terlihat jantung yang menjuntai di ujung tandan seperti lazimnya. Itulah sepatu amora. Pisang manis dan lezat tanpa jantung itu tahan layu bakteri dan penyakit darah.

Pisang sepatu amora adalah varietas lokal asli Indonesia yang tumbuh di Maluku, dan Papua. Ia termasuk kelompok pisang kepok, jenis pisang olahan—misal dibuat gorengan atau kolak—yang digemari masyarakat. Yang istimewa, rasa sepatu amora lebih enak dan manis dibandingkan kepok kuning.

Kadar gula sepatu amora mencapai 30° briks, sedang kepok kuning 28—29° briks. Lantaran lebih manis, sepatu amora layak dikembangkan di Indonesia. Apalagi ciri khas kepok tetap melekat. Kulit buah tebal dan tekstur agak keras. Masyarakat tidak akan merasa asing dengan bentuk dan rasa buahnya bila ia menjadi pendatang baru di jagad perpisangan nusantara.

Tidak ada yang tahu pasti kenapa pisang itu disebut sepatu amora. Diduga kata amora diambil dari kata Amorang, sebuah daerah di Provinsi Sulawesi Utara. Amora pun tidak ada kaitannya dengan dewa amor, sang pemanah jantung hati alias dewa cinta dalam mitologi Yunani Kuno. Kata sepatu diduga karena bentuk buah mirip sepatu klasik.

Daftar Isi

Tidak memerlukan kawin buatan

Sepatu amora tidak mempunyai bunga jantan dan jantung seperti lazimnya pisang lain. Namun, buah tetap muncul karena ia termasuk partenokarpi. Yaitu jenis tanaman yang mampu membentuk buah tanpa memerlukan penyerbukan bunga jantan terhadap bunga betina.

Pisang tanpa bunga jantan dan jantung sangat istimewa. Ia akan terbebas dari penyakit utama pisang seperti layu bakteri dan penyakit darah yang ditularkan oleh serangga pengunjung bunga. Layu bakteri disebabkan oleh Ralstonia
(Pseudomonas) solanacearum. Bakteri lain, bacterial blood disease alias BBD disebut penyakit darah. Bila menyerang tanaman berbuah gejalanya laten.

Buah pisang dari luar tampak mulus, tetapi pada saat dikupas isinya hitam tidak dapat dimakan. Bila buah terserang dikocok-kocok terdengar seperti ada batu di dalamnya. Menurut beberapa laporan dari pekebun di Sumatera Barat, tanaman pisang sakit menyebabkan keracunan bila dimakan hewan seperti sapi atau kambing.

Varietas Pisang Tahan penyakit


Pada pisang yang memiliki bunga jantan dan jantung, kedua penyakit itu dicegah dengan cara membrongsong atau memotong jantung pisang. Cara itu telah direkomendasikan oleh beberapa pakar di dalam atau luar negeri. Akan tetapi kedua teknik itu kurang diminati masyarakat. Di Sumatera Barat, pisang yang dibrongsong tidak disukai konsumen karena tidak ada bercak-bercak alias mulus. Pisang berkulit mulus dianggap bukan pisang lezat. Pemotongan jantung pisang pun menuai masalah.

Nah, pisang sepatu amora mempunyai sistem pertahanan alami karena tidak punya jantung. Dari pengamatan penulis di daerah endemis penyakit layu bakteri, sepatu amora umumnya bertahan hidup. Buah yang dihasilkan normal dan sehat.

Informasi itu segera direspon oleh para peneliti pisang di dunia. Terbukti informasi itu kembali terungkap pada pertemuan Penyakit Layu Fusarium Pisang di Brazil pada 2003. Disebutkan sepatu amora layak ditanam untuk mengantisipasi serangan penyakit layu pisang di dunia.

Melihat respon pakar penyakit pisang dunia, negara kita tidak boleh ketinggalan kereta. Pengembangan sepatu amora oleh pekebun sebagai pisang komersial adalah sebuah keharusan. Bukankah pisang itu milik kita? Ayo kembangkan. Siapa cepat, pasti dapat. Yang lambat, pasti terpuruk. (Mitra)

Document Last Updated on 4 September 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.