Popularitas Ikan Louhan Di Indonesia Dan Malaysia

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

“Harganya Rp 1,2-miliar,” kata Lim Meng, pengelola Mermaid Explorer di Kualalumpur sambil menunjuk seekor lou ban yang tengah hilir-mudik di akuarium. Siklid berjidat super besar itu bermotif wanita dengan rambut tergerai dan tangan terentang ke atas. Ikan hoki itu kini mewabah di Indonesia, hingga seorang hobiis berani membeli seekor lou ban Rp 160-juta. Berdasarkan lacakan Mitra Usaha Tani lou ban itulah yang memegang rekor termahal di tanah air.

Sang pemilik, Doddy Purba membelinya dari importir di Cipanas, Cianjur. Ikan sepanjang 25 cm itu memang istimewa. Motifjelas dan warna sangat indah. Ikan hias itu bisa diajak bermain. Bergerak ke sana ke mari mengikuti arah telunjuk. Ketika telunjuk lelaki tinggi besar itu dicelupkan ke permukan air, “kleep”, mulut mungil lou han mengecupnya. “Asyik, sehingga kadang lupa waktu. Bisa sampai pukul 02.00 dini hari saya baru tidur,” ungkap warga Ciputat, Jakarta Selatan, itu.

Ada 12 lou han berbagai ukuran yang dikoleksi Doddy. Dua di antaranya coronatian link, berukuran 20 cm seharga Rp 60-juta dan 1 lagi lou han termahal di atas. Selebihnya baru 10-15 cm, antara lain flame of the forest, leopard, unique track, dan tornado effect. “Maunya sebanyak mungkin. Minimal semua yang terpampang di poster terkoleksi,” tutur karyawan di sebuah perusahaan asing itu. Sebuah poster terbitan Meng Aquarium, agen di Malaysia memuat 17 jenis lou han.

Doddy sudah kegilaan lou han, hingga tak terhitung rupiah yang telah dibelanjakan. Di negeri asalnya, Malaysia, yang dilanda demam lou han sejak 2000 jarang hobiis mengoleksi banyak lou han. Hampir setiap rumah memelihara lou han. Namun, kepemilikannya 1-2 ekor. Kalaupun belasan ekor, dipelihara dari kecil, harganya tak begitu mahal. “Saya punya 1 ekor di rumah ukuran 6 inci. Tapi dibeli sejak 2 inci,” tutur P. G. Tan, sales iklan suatu majalah di Selangor, Malaysia. Tengah marak

Di Indonesia hobiis seperti Doddy bermunculan di mana-mana. Di rumah Jimmy Humardani, di Tomang Raya, Jakarta Barat, 2 lou han berukuran 16 dan 20 cm, serta belasan ekor masih kecil menghiasi ruang tamu. Pimpinan sebuah perusahaan distributor mesin pendingin itu kesengsem lou han pascamengunjungi pameran ikan hias di Plaza Gajah Mada.

Lou han
Bermain dengan Rp 60-juta

“Lou han punya daya tarik tinggi; sosok, warna, dan dipercaya membawa hoki,” ujar Abin di Telukgong, Jakarta Utara. Pria yang sehari-hari mengelola toko kosmetik itu mengoleksi 60 ekor. Rata-rata 10 cm dan ada 15 ekor berukuran 15 cm. Abin membelinya 3 bulan lalu ketika berukuran 5-7 cm. Harganya Rp 100.000-Rp 200.000 per ekor.

Di Bintaro, Jakarta Selatan, Markus Ahadi pun sudah 4 bulan kecanduan lou han. “Sejak kecil saya senang ikan. Makanya ketika lou han banyak dibicarakan, ingin memiliki,” papar Markus. Salah satu kebanggaannya/fome of theforest ukuran 6 inci. Ikan yang sangat jinak itu tak bermotif, kepala merah dan sekujur tubuh kuning.

Lou han mewabah tidak hanya di Jakarta, “Hampir di seluruh kota besar, seperti Semarang, Surabaya, Pekalongan, Solo, Yokyakarta, Bandung, dan Malang,” sebut Iskandar, importir di Ciledug, Tangerang. Demikian juga di Bangka, Palembang, Pangkalpinang, Batam, dan Banjarmasin.

Medan, malah lebih dulu dirasuki lou han. “Awal 2001 saya datangkan dari Malaysia. Dalam tempo 3 bulan sudah memasyarakat,” ucap Budi Widoto, pemilik Bonavide Aquarium Tetap Jaya. Dari hari ke hari tokonya di Medan, ramai dikunjungi hobiis ikan.

Kedai gunting rambut

Di Indonesia demam lou han baru di lingkungan penggemar ikan hias. Di Malaysia sudah memasyarakat. Pegawai kantor, pengusaha, pedagang, buruh, hingga sopir taksi sekalipun mengetahui keberadaan lou han.

“Di sini semua orang senang lou han, Arab-kah, India, Cina, atau Melayu,” jelas Yip Seng Onn, manajer Sakura Aquarium di Ipoh, Malaysia. Itu sebabnya, kios yang berukuran 6 m x 10 m dipenuhi lou han.

Toko khusus penyedia lou han tak terhitung banyaknya. “Saya buka 21 agen di kota-kota, mulai dari Kualumpur, Shahalam, Selangor, Malaka, Alastar, Penang, Ipoh, sampai Johor,” kata Terence S. C. Jiam, distributor di Malaysia.

Padahal, selain Terence ada beberapa agen besar lain. Mermaid Explorer, misalnya, membentuk 7 agen. Jangan heran bila di setiap sudut kota Malaysia, lou han mudah ditemukan. Tempat-tempat umum seperti perkantoran, restoran, usaha percetakan, hingga kedai gunting rambut melengkapi lou han.

Mitra Usaha Tani menyaksikan lou han coronation link sepanjang 35 cm dipajang di sebuah kantor kontraktor di Petalingjaya, Subangjaya, Malaysia. “Pimpinan kami senang ngasih makan lou han, lalu mengelus-ngelusnya,” ucap Ng Siew Phing, sekretaris PT Segar Teliti itu.

Demikian yang dilakukan Ronnie Chan W.W. di Puchong, Bandarpucong Jaya, Malaysia. Ia selalu kangen bermain-main dengan lou han. Sehingga daripada bolak-balik pulang ke rumah, beberapa akuarium dibawa ke kantor percetakannya.

Mitos di seputaran Lou Han

Sama seperti di tanah air, penggemar di Malaysia tertarik lou han lantaran fisik dan mitos. Badan siklid yang nenek-moyangnya dari Amerika Selatan itu bermotif huruf-huruf mandarin. Warna cerah, perpaduan 4-5 warna bagai pelangi. Yang tak kalah menarik jidat menggelembung sebesar bola bekel.

“Saya suka lou han karena punya kepala sangat unik, mirip monyet,” ujar Allen B. W. Geh, hobiis di Kampung Jawa, Klang, Malaysia. Namun, Allen tak menyangkal mitos memotivasi mengoleksi lou han. Lou han pembawa rezeki, membuat panjang umur, dan melindungi dari segala marabahaya.

Seorang pengusaha di Subang Jaya bangkrut setelah menjual lou han koleksinya. Usahanya maju kembali setelah lou han itu dibeli lagi. Demikian dua orang polisi mendadak kaya raya karena menang lotre dari angka yang tertera di badan lou han.

“Saya lihat di Plaza Gajah Mada, pada badan lou han angka 1721,” kata Jimmi. Ia percaya, lou han dapat menangkal gangguan penyakit atau musibah lain. Sehingga,

“Jangan kaget bila mendadak sakit atau malah mati. Lou han telah menggantikan posisi sang pemilik dari malapetaka,” lanjut Jimmi.

Kisah-kisah yang berkaitan dengan mitos terus berkembang. Namun, hobiis di Malaysia maupun Indonesia terpincut lou han karena penampilannya. “Sebelumnya saya tidak memelihara ikan karena tidak senang. Setelah melihat lou han langsung tertarik,” ungkap Frankie Lee, hobiis di Kualalumpur. Awalnya ia membeli 2 ekor ukuran 5 inci, sekarang menjadi 7 ekor.

Harga jual tinggi

Lou han yang dipelihara hobiis Malaysia umumnya berukuran besar. Di Indonesia rata-rata kecil di bawah 10 cm. Maklum, lou han baru dikenal beberapa bulan lalu dan mahal. Untuk mengoleksi seekor berukuran 2 inci saja harus merogoh Rp 125.000. Besar sedikit, 3 inci, Rp 300-ribu-Rp 400-ribu.

Untuk ukuran 10-15 cm, berkisar Rp 3,5-juta-Rp 10-juta/ekor. Lalu, “Di atas 20 cm tak ada standar harga karena bergantung kualitas, puluhan hingga ratusan juta rupiah,” sebut Iskandar.

Harga di Indonesia sebetulnya jauh lebih murah ketimbang di Malaysia. Di kedai milik Ah Boy, Flower Hom Cafe & Aquatic Center, lou han rising rainbow 2 inci dibandrol Rp l-juta; absolut wonder 3 inci Rp 1,5-juta. Lou han-lou han 15-25 cm ada yang Rp 15-juta-Rp 600-juta per ekor. “Lou han yang kami sediakan kualitas istimewa, grade A,” kata Ah Boy ketika ditemui di Kualalumpur.

Tingginya harga, menurut Terence Jiam, lantaran sulit mendapatkan lou han berkualitas. Sekali memijah, induk lou han menghasilkan 2.000-3.000 burayak. Ketika berukuran 2 inci grade A hanya 5%. Selebihnya, 45% grade B dan 50% C. Nah, semakin besar lou han, persentase grade A menurun tinggal 1%. Harga grade A Rp 750.000-Rp 900.000, B Rp 150.000, dan C Rp 30.000/’ekor.

Kendati harga mahal, hobiis terus menyerbu lou han. “Pesanan terus mengalir baik dari dalam maupun luar kota,” kata Suwandi Surya penyedia lou han di Cipanas. Setiap bulan Suwandi mengimpor 3.000 ekor dari Malaysia.

Tentu saja lou han yang banyak teijual ukuran 2-3 inci yang dianggap murah. Padahal, “Kalau ada uang beli yang besar supaya tidak terkecoh lou han palsu,” anjur Doddy Purba. Risiko mati sangat kecil karena lou han mudah dipelihara dan tahan banting

Awas Lou Han Palsu!

Ketika lou han naik daun, siklid lain menumpang kepopulerannya. Itulah yang terjadi di Indonesia. Di pusat-pusat penjualan ikan 1 ditawarkan lohan aspal alias asli tapi sebetulnya palsu. Yang dijual ikan berukuran 1-2 inci seharga Rp 20.000 per ekor. Padahal harga siklid yang disebut-sebut lou han oleh penjajanya itu cuma Rp 500 per ekor. Keruan saja penjual meraih keuntungan berlipat. Hanya karena lou han tengah populer, siklid itu d’\-mark up harganya.

Siklid yang disamarkan sebagai lou han itu sama-sama genus Cichlasoma.

Contohnya antara lain Cichlasoma trimaculatum, C. synspilum, C. miculicauda, atau C. festae “Sewaktu berukuran kecil 1-2 inci memang sulit dibedakan dengan lou han,” ungkap Iskandar importir di Tangerang. Sebab, badan bermotif walau hanya bercak hitam. Kepala juga sama dengan lou han. Konon jenis itu sebagai salah satu silangan untuk menghasilkan lou han. Oleh karena itu siklid murah itu tidak bisa dibilang palsu.

“Kalau kita cermati, perbedaan dengan lou han antara lain badan dan mulut panjang sehingga terlihat monyong seperti tikus. Sirip punggung rata,” tutur Suwandi Surya, importir lou han di Cipanas, Cianjur. Menurutnya, dari muka juga telihat. Si “palsu” dari mulut hingga jidat membentuk garis lurus. Lou han, tepat di atas mata ada lekukan seperti gunung.

Lou han-lou han “palsu” itu bisa menjebak karena tidak Setelah berukuran 3 inci motif di tubuh akan melebar, tipis, dan semakin kabur. Demikian warna akan tetap kusam tidak seperti lou han yang kian besar kian cemerlang. Oleh karena itu, “Sebaiknya beli lou han ukuran di atas 3 inci, atau datang langsung | ke penyedia yang dapat o dipercaya,” ujar Markus, hobiis di A Bintaro, Jakarta Selatan.