Potensi budidaya perikanan di indonesia

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Dasar anak ikan!” itulah kata-kata yang tercetus sebelum terbentuknya Pulau Samosir. Mendengar anaknya dimarahi seperti itu, ibunya menangis, hingga air matanya tergenang menjadi danau. Maka jangan heran kalau Anda sering melihat bangunan berbentuk ikan di dusun-dusun seputar Danau Toba Na Uli, yang indah! Konon, anak-anak Tapanuli yang cerdas dan berani itu dilahirkan oleh seekor ikan. Itulah tanda bakti anak-anak Sumatera Utara, menghormati ikan sebagai awal kehidupan.

Di Medan, saya mengenal ibu Soekirman (boru Purba!), yang memelihara ikan gurami sejak kelahiran anak sulungnya. Sekarang si anak sudah 20 tahun dan kuliah. “Saudara kembarnya” si gurami sudah sebesar bantal, mondar-mandir dalam bak berdinding kaca, di samping meja dapurnya. Maklum, semua potongan sayur dan sisa makanan bisa dijadikan pakan.

Ikan memang hewan paling dekat dengan manusia. Demikian dekatnya, sampai-sampai kita rela “jatuh hati” pada puteri duyung, yang separuh tubuhnya ikan. Lebih dari itu, ada juga kepercayaan bahwa ikan lambang cinta Allah kepada manusia. Makanya jangan heran kalau melihat simbol ikan di jubah rohaniwan dan di berbagai altar.

Bila dibandingkan dengan manusia dan mahluk mamalia, ikan memang jauh lebih tua. Ia sudah ada berjuta tahun sebelum mahluk darat dan angkasa menghuni bumi. Mungkin ini terkait dengan kenyataan, asal muasal kehidupan. Ikan begitu dekat, bahkan seperti menjadi bagian dari air itu sendiri.

Dalam dunia ekonomi, kesehatan, teknologi, perdagangan, ikan memberi kontribusi yang banyak. Di lapangan ekonomi, ikan memberi spektrum tersendiri. Ikan asin untuk orang miskin, ikan salmon dan kaviar (telur ikan) untuk kaya. Di dunia hobi ikan menggerakkan berbagai olahraga memancing, sampai industri akuaria, lengkap dengan berbagai aksesorisnya yang bernilai ribuan dolar.

Bagaimana hubungan Anda dengan ikan? Mulai dengan minyak ikan, ibu membekali kita badan yang sehat dan pikiran cemerlang. Tak hanya di Jepang, tapi juga di kampung nelayan maupun pertanian di puncak gunung. Ikan kering dan basah adalah lauk utama secara turun temurun, boleh dikata untuk hampir semua bangsa. Untuk bangsa bahari seperti Inggris, bahkan hanya kenal satu menu kebangsaan: fish & chip. Begitu juga Jepang dengan sashimi, alias ikan mentah.

Pertanyaan kita sekarang adalah, apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan kemajuan perikanan indonesia, bahkan mengembangkan berbagai jenis ikan? Pencemaran air di berbagai sungai, danau, dan lautan telah membuat berbagai varietas punah. Namun, bermacam upaya penangkaran dan budidaya ikan hias, bisa sedikit menghibur. Misalnya saja dengan semakin mantapnya kedudukan ikan koi sebagai status symbol kemapanan bagi banyak keluarga. Juga pengembangan jenis ornamental lainnya, lou han, arwana, mas koki, diskus, frontosa, dan seterusnya.

Ikan dan rumah tangga

Ikan teri adalah makanan kesukaan saya semenjak kecil. Sebelum belajar membeli permen,terbiasa disuruh membeli “anak-anak ikan” yang akan saya makan. Rasanya, sampai dewasa, belum pernah satu pekan pun terbebas dari ikan sama sekali. Bukan hanya ikan teri, tapi juga tongkol, bandeng, bader, sepat, bawal, ikan mas, sepat, mujair, tenggiri, lele, gabus, nila, dan gurami.

Di Palembang, saya pernah disuguhi sayur ikan patin dari kolam plastik di belakang rumah. Padahal kolamnya hanya 6 m x 6 m. Namun, dengan membalik kelambu nilon, dan melemparkan sisa-sisa dapur, ikan-ikan patin bisa tumbuh sehat dan lezat.

Itulah keistimewaan seorang ibu. Tentu bukan hanya ikan patin. Ikan gurami, mas, bahkan tambra pun bisa dipelihara serupa. Di atasnya bisa dibuat kandang ayam atau itik. Air didapat dari rembesan sungai. Kebetulan daerahnya berasal dari rawa-rawa, tak jauh dari sungai Musi.

Secara alamiah, ikan-ikan peliharaan bisa hidup sendiri. Dalam banyak kasus, justru kalau terlalu banyak diberi makan, ikan mudah mati. Konsentrasi dan penumpukan pakan yang berlebihan justru dapat meracuni ikan. Karenanya sering ada berita ribuan ikan mati mengambang, akibat siklus air terhenti, misalnya tak ada hujan dan akumulasi sisa pakan.

Di alam bebas, sedikitnya ada enam macam pakan alami baik zooplankton maupun fithoplankton. Di antara yang paling banyak dikenal dan telah dibudidayakan adalah: rotifera, infusoria, artemia, jentik nyamuk, dan cacing sutera.

Seorang pejabat pada Dinas Perikanan Jawa Barat, Deden Djaelani AS, telah memberi penyuluhan, cara mentemakkan pakan-pakan alami itu.

Deden, yang pemah belajar di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Bogor, boleh dikata cukup sukses dengan menulis buku Usaha Pembenihan Ikan Hias Air Tawar (Penebar Swadaya, 2001). Salah satu kiat sederhana yang dikembangkannya adalah pengkulturan kutu air dari jenis moina dan daphnia. Kutu air dapat ditumbuhkan secara massal dalam bak plastik, fiberglas, tanah maupun semen, dan dipanen setiap pekan. Dari bibit yang hanya 30 ekor per liter, dalam 7 hari bisa menjadi 3.000- 5.000 ekor per liter, yang siap dipakai sebagai umpan.

Singkatnya, ikan memberi peluang munculnya banyak pekerjaan dan rezeki buat manusia. Mulai dari pengadaan pakan, pembenihan, sampai teknik perawatan dan teknologi pengemasan ikan hidup untuk diekspor. Rakyat kecil mulai diuntungkan dengan munculnya peternakan kutu air dan cacing-sutera di sana-sini. Namun, sayang untuk artemia kita masih mengimpor.* De’fflikian juga berbagai makanan ikan hias. Padahal, kecintaan pada ikan ini bisa dimulai dari dapur, oleh setiap ibu Indonesia.

Masalahnya kita sedang dihadapkan pada pilihan, “Makan ayam atau makan ikan?” Kalau makan ikan yang untung nelayan, sedangkan makan ayam yang untung Amerika. Alangkah sedihnya kalau kita kalah kampanye dalam hal ini. Semoga presiden 5 tahun mendatang bisa menjamin ketersediaan ikan untuk seluruh lapisan masyarakat. Jangan sampai tak ada ikan di dapur kita. Baik abon ikan, ikan kering, ikan basah dalam kulkas, dan yang paling baik, memelihara ikan di kolam maupun akuarium sendiri.

Maju bersama ikan

Di bidang konsumsi pangan bangsa Indonesia, mestinya sektor perikanan menjadi kebanggaan tersendiri. Sering kita merasa malu, bangsa ini menjadi pengimpor beras. Namun jarang kita sadari bahwa kita cukup kuat, bahkan nyaris mandiri dalam hal ikan. Sedikitnya 20 juta dolar devisa bisa diraup dari ekspor ikan hias setiap tahunnya.

Pada 2019, total pemasukan negara kita dari ekspor ikan hias bahkan melebihi 25-juta dolar Amerika. Setelah diperkenalkan bio-terorism act, oleh Amerika Serikat, ekspor ikan hias dari Indonesia menurun tajam. Meski demikian, Menteri Perdagangan, Rini Suwandi, mencatat, pada 2003, Indonesia masih berhasil mengirim lebih dari 120 juta ekor ikan ke 52 negara.

Itulah yang dikatakannya pada peresmian terminal perdagangan ikan hias di Rancamaya, Bogor awal 2004. Jawa Barat sangat berambisi menjadi provinsi termaju pada 2010, antara lain dengan membangun terminal perdagangan ikan hias seluas 25 ha di Rancamaya. Kalau berhasil, mungkin itulah terminal perdagangan ikan hias terbesar di dunia. Jangan heran, tempat itu memang terkait dengan Leungli, gadis kecil yang pandai bicara dengan ikan mas dalam legenda Parahiyangan.

Selama ini 70 persen ekspor ikan hias Indonesia berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Sentra-sentra produksi ikan hias di Jawa Barat terletak di Cianjur, Sukabumi, Subang, Bogor, dan Purwakarta. Hal ini tentu perlu dikejar oleh daerah-daerah lain yang potensial baik di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan Papua.

Sudah jelas ikan berkah utama bagi bangsa bahari. Ikan tuna, cakalang, paus, sirip hiu, serta berbagai jenis makanan laut lain tetap menjadi andalan ekspor. Lebih penting lagi, ikan menjadi tumpuan harapan bagi anak-anak bangsa di masa depan. Latihan-latihan memantau tempat pemijahan ikan seperti yang diadakan di Bunaken, harus sering diadakan. Demikian juga pengembangan teknologi eksplorasinya.

Almarhum Prof Ir Johanes dari Universitas Gajah Mada pernah mengatakan, kecerdasan anak Indonesia merosot drastis ketika diberlakukan larangan mengimpor kapal bekas. Mengapa? Sebab peralatan nelayan kita tergantung sepenuhnya pada impor kapal tua. Produksi galangan kapal sendiri masih rendah, dan impor kapal baru dengan teknologi mutakhir juga belum teijangkau.

Karenanya, syukur juga pembelian kapal bekas kembali dibebaskan setelah reformasi. Diharapkan dengan semakin banyaknya kapal, penangkapan ikan bisa lebih intens, hasil lebih banyak dan pasar-pasar ikan menjadi lebih semarak. Kakek saya di Malang Selatan selalu punya ikan mas di antara batang padi di sawah. Kalau cucu-cucunya datang, diserok sebentar saja, kita sudah berpesta sampai kenyang. Kami sangat bahagia sebagai pencinta ikan. Kakek memang salah satu pelopor program mina-padi. Ia sangat bahagia ketika enam ekor ikannya dibawa orang ke Singapura.

Sekarang, budidaya ikan di Indonesia terutama kemajuan teknologi hasil perikanan telah membawa membawa peluang besar. Namun, perjuangan untuk memasyarakatkan ikan masih panjang. Kita telah memiliki Persatuan Pedagang Ikan (PPI) Bintang Samudera, dengan pangkalan ikan di Puger, Jawa Timur, dan sebagainya. Namun rasanya para pembela ikan di lapangan masih harus selalu didorong, diberdayakan.

Konsekuensi industrialisasi ikan, antara lain adalah pentingnya air yang sehat. Penanggulangan pencemaran laut, pengelolaan air tawar, daerah aliran sungai, dan tabungan air hujan sudah saatnya digarap serius. Di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, tokoh lingkungan D. Ashari, telah mempelopori pendidikan cinta ikan dengan membangun Akuarium Air Tawar terbesar di dunia. Alangkah baiknya kalau fasilitas itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa.

Banyak yang percaya masa depan bangsa ini terletak di laut. Karena itu, langkah pertamanya tentu mencintai ikan. Penebar Swadaya, saudara kembar penerbit majalah ini, telah menerbitkan beragam buku panduan Atlas Cupang Hias dan Cupang Adu, Permasalahan Louhan dan Solusinya, Ikan Siklid, Frontosa, dan banyak lagi. Semuanya disajikan untuk melayani dan memupuk kecintaan bangsa ini pada ikan,

 

perikanan bulelengkab.go.id