Prospek Bisnis Menjanjikan Budidaya Ayam Seramah

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
ayam serama

Sejak mengenal ayam serama pada awal 2019 Johan langsung tergila-gila. Beberapa ayam mungil itu dibelinya dari pedagang di Durensawit, Jakarta Timur. Namun, “Saya kurang puas karena di negeri asalnya, Malaysia, sosok Ayam serama jauh lebih kecil hanya 250-300 g,” ungkapnya. Yang ia beli di Jakarta berbobot 500 g. Karyawan di sebuah instansi pemerintahan di Jakarta itu lalu mencoba menghubungi beberapa penangkar di Malaysia.

Setelah berkali-kali berkomunikasi lewat pesan singkat, suami Humiyati itu mendapat kepastian pengiriman ayam serama asli malaysia awal Juli 2004. “Senang bukan main saya mendapatkannya. Sosoknya betul-betul sempurna, bobot kurang dari 300 g, dan warna bulu beragam,” ujar Johan sambil menunjuk kerumunan serama yang tengah mematuk-matuk pakan.

Bacaan Lainnya

ayam serama asli malaysia yang didatangkan terdiri atas 7 betina dan seekor jantan. Semua dewasa, berumur rata-rata 1 tahun, sehingga pada hari pertama kedatangan pun ada 2 ekor yang bertelur. Kedatangan serama berkualitas itu tidak saja menyenangkan hati Johan, tapi disambut sukacita para pemain lain. Musababnya, beberapa bulan sebelumnya Badan Karantina Hewan melarang impor unggas untuk mencegah terjangkitnya flu burung.

Kalaupun beberapa hobiis dan pedagang sempat mengimpor, kualitasnya tidak sebaik milik Johan. “Mereka tidak mendatangkan dari Pulau Penang, Kelantan, atau Kedah, melainkan dari Johor, bahkan sebagian dari Thailand,” ungkap Rudiasfie Sjofinal alias Rudi Pelung, pelopor pengembangan serama di Indonesia.

Kebanjiran Pesanan

Antusiasme para penangkar mendatangkan serama dari negeri asalnya, Malaysia, tak lepas dari permintaan pasar yang begitu besar. Padahal ayah Abi Rochmadin dan Sabrina Widiasfita itu sudah berusaha mengumpulkan anakan serama dari para hobiis yang dulu membeli darinya.

Saking banyaknya permintaan Rudi Pelung tak sempat meregenerasi indukan karena anakan umur 1 hari pun sudah diincar pembeli. Bahkan “Telurnya saya lepas Rp 250.000/butir karena tidak tega melihat orang merengek-rengek ingin serama,” papar suami Widaningsih itu. Order serama datang tak hanya dari kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta, tapi juga Medan, Makassar, Sumbawa, Lampung, Pontianak, dan Pekanbaru.

Menurut Rudi populasi Ayam serama di tanah air masih terbatas, tidak lebih dari 1.000 ekor. Itu pun sudah termasuk anakan dan dewasa. Maklum serama di Indonesia baru mencuat pada Agustus 2019, sehingga jumlah hobiis-lebih-lebih peternak-hanya hitungan jari. Ia mengaku sejak Agustus 2019 hingga Juli 2019 baru menjual 200 ekor dari berbagai umur dengan harga bervariasi mulai dari Rp 250.000-Rp 5-juta per ekor.

Itu setali tiga uang yang dialami Hengky Tanjung. “Penelepon yang minta dikirim bantam fowl sehari rata-rata 15 orang. Makanya saya akan mencoba untuk menernakannya lebih intensif,” ucap penggemar derkuku yang sebetulnya mengoleksi serama sekadar hobi. Dari 6 induk betina yang dibeli setahun lalu Hengky sudah menjual 40 anakan umur kurang dari 1 bulan dan beberapa butir telur.

Ia mematok harga anakan kualitas A Rp 1-juta; B, Rp 300-ribu-Rp 500-ribu per ekor. Sedangkan telur setiap butirnya dijual Rp 300.000 untuk grade A; Rp 150.000, grade B; dan Rp 50.000, grade C. Tak aneh jika Ir H Achmad Yusuf di Serpong, Tangerang, pun mencoba melirik bisnis ayam liliput itu. Semula pemilik Farm 45 yang lebih dikenal sebagai pemain perkutut bangkok itu hanya iseng memelihara serama.

Namun, setelah melihat peluang pasar terbuka, 6 induk betina dan beberapa jantan bantam fowl dipacu untuk berproduksi. “Kalau mau terima, yang berniat inden serama daftarnya panjang sekali. Tapi karena produksi sedikit terpaksa saya ditolak,” kata Yusuf. Selama ini pengusaha atap sirap itu baru melepas 30-40 serama berbagai umur hanya untuk teman-temannya. Peminat dari Ambon, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Makassar disuruh bersabar.

ayam seramah
Bobot dan tinggi terus-menerus diturunkan

Jual ayam serama Skala Rumahan

Menurut Hengky selain indukan berkualitas, untuk menangkarkan serama tak ada kendala. Si mungil itu bisa diternak skala rumahan. Dengan luasan 1,5 m x 3 m minimal bisa dipelihara 6 induk betina dan 1 jantan. Jika setiap induk menghasilkan 3 ekor per bulan, peternak bisa berpenghasilan Rp 5-juta-Rp 8-juta/bulan. Rinciannya, dari 18 ekor kualitas B dijual Rp 300.000 umur 1 bulan. Biaya pakan dan tenaga kerja tidak lebih
dari Rp 400.000. Keuntungan akan menggelembung jika yang dihasilkan serama kualitas A berharga Rp 1-juta/ ekor.

Itu pula yang ada di Malaysia, serama dihasilkan dari peternak-peternak skala rumahan. Pantauan Mitra Usaha Tani ke Kualalumpur, Pulau Penang, dan Kedah sentra-sentra serama di Malaysia hanya satu dua farm yang agak besar, berjumlah 25-50 induk. Selebihnya hobiis yang mempunyai 4- 6 ekor dan memanfaatkan waktu luang menemakan koleksinya.

Albert Tan yang memasok Ayam serama ke mancanegara pun masih tergolong skala rumahan. Indukannya hanya sekitar 30 ekor dan dikelola dengan manajemen konvensional. Namun, beberapa bulan terakhir ia melayani order dari Amerika Serikat, Inggris, Afrika Selatan, Kuwait, Filipina, dan Singapura.

Karena skala kecil, manajer di sebuah perusahaan elektronik itu merasa kesulitan memenuhi permintaan ekspor. Beruntung The Leong Toh, peternak kenamaan di Pulau Penang yang menjadi teman dekatnya sejak 35 tahun lalu intensif mencari indukan-indukan berkualitas. Semua hasil temakannya berkualitas A dan super A berbobot 250-300 g, layak impor. “Kuncinya, garis keturunan pasangan induk harus diketahui pasti. Jika tidak, munculnya serama berkualitas tinggi faktor kebetulan belaka,” ujar Chooi, sapaan akrab The Leong Toh.

Untuk memelihara Ayam seramah tak perlu halaman luas, perawatan pun mudah dan murah. Albert menghitung biaya pakan ayam serama dewasa tidak lebih dari RM1 atau setara Rp 2.500 per bulan. Sebab, ia tak perlu pakan istimewa, cukup voer yang mudah ditemukan di pasaran.

bantam fowl seramah
bantam fowl seramah Umur 3 bulan kemolekannnya sudah mulai terlihat

Lucu dan naik

Sebagai klangenan, ayam hasil silangan Wee Yean Een, peternak di Kelantan, Malaysia, itu sangat ideal. “Serama berlekuk tubuh cantik, tidak berisik, dan tak boros pakan,” kata Ghazali. Ia pun penghilang stres yang mujarab. Tak heran jika puluhan serama dikoleksi di kediamannya di Kampong Baru, Alor Setar, Kedah. Mungkin karena itu pula popularitas serama cepat meroket ke seluruh pelosok Malaysia. Buktinya sopir taksi yang mengantar Mitra Usaha Tani ke sebuah farm hingga pramuniaga pasar swalayan mengenal serama dengan baik.

Puncak kepopuleran serama terjadi pada 2000-2001. Sayang pada saat tren lou han ia agak tenggelam. Kini sejalan popularitas lou han meredup, minat untuk mengoleksi serama muncul lagi. “Di sini tua-muda, pria dan wanita menyukai serama,” kata Syarifuddin, sopir asal Payakumbuh, Sumatera Barat, yang sudah 15 tahun mengais rezeki di Malaysia. Semua kalangan bisa main serama lantaran harga bervariasi mulai ratusan hingga puluhan ribu ringgit.

Tak berbeda di Indonesia, ayam serama asli malaysia mendapat tempat di hari para penggemar unggas ketika diperkenalkan pada pertengahan 2019. Jangankan pemain ayam, hobiis burung banyak yang tertarik untuk mengoleksinya. ’’Rudiasfie dan saya sebetulnya penggemar burung derkuku dan belum pernah main ayam. Tapi melihat keunikan serama, sulit untuk melewatkannya,” ujar Hengky Tanjung.

Tak berlebihan jika V Prananta, pemilik nurseri di Kebonjeruk, Jakarta Barat, segera mengontak sahabatnya di negeri jiran usai melihat gambar serama di prangko keluaran 2000. “Sudah lama saya mengenal serama. Hanya karena harga terlalu tinggi, saat itu niat untuk beli diurungkan,” tutur perempuan yang menginjak usia 66 tahun itu. Serama dinilai Prananta memiliki banyak daya tarik. “Lucu dan unik. Daya tarik ini belum saya temukan di ayam hias lain,” lanjutnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Penikmat berbagai ayam hias itu memergoki serama dijajakan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada sebuah pameran. Dua pasang diambilnya untuk mengisi kandang kosong di loteng. Kokoknya yang tak terlalu keras acap kali terdengar menghangatkan suasana rumah. “Ia cocok dipelihara di mana pun kita berada. Tak terkecuali di apartemen karena suaranya tak mengganggu tetangga,” ujar Prananta.

Ketinggalan zaman

Rudiasfie menyadari kualitas Ayam serama di Indonesia jauh dari bagus. “Tapi apa boleh buat, tingkat apresiasi para penggemar serama di tanah air juga masih belum mencapai tahap ideal,” tutur sarjana Arsitektur alumnus Universitas Pancasila. Dengan standar pas-pasan itu banyak orang terkagum-kagum. Mereka heran melihat ayam berukuran lebih kecil daripada ayam katai. Apalagi dada membusung dan bobotnya hanya 500 g.

Berdasarkan penilaian Albert Tan dan para juri di Malaysia, serama-serama yang ada di Indonesia sudah lepas (ketinggalan, red) zaman. Ia lebih layak disebut serama kapan, karena kakinya masih panjang. Di Malaysia serama berbobot 500 g tidak dilirik lagi.

Itu adalah serama-serama generasi pertama yang keluar pada 1990-an. Yang sekarang dikoleksi umumnya berbobot 250-300 g dengan tinggi 20-22,5 cm. “Kita menargetkan setiap 2 tahun berhasil menurunkan bobot 50 g dan tinggi 2,5 cm. Sehingga pada 2019 akan muncul serama berbobot 200 g dengan tinggi hanya 17,5 cm,” tutur Albert.

Meski demikian di negeri jiran serama-serama berbobot 500 g bukan berarti tidak ada. Para peternak yang kurang memperhatikan kualitas induk masih memungkinkan mendapatkan grade B itu. Serama-serama itulah yang dilarikan ke Indonesia atau Thailand. Pantauan Mitra Usaha Tani di Hat Yai, Thailand Selatan, dan pasar Chatuchak, Bangkok, kualitas serama di sana hampir sama dengan di Indonesia.

Thailand juga mengimpor dari Malaysia seperti yang dilakukan Chong Poh Seng. Setiap 2 minggu, pedagang di pasar Chatuchak itu mendatangkan 73 ekor dari Pulau Penang dan sekitarnya. Pria yang bermain serama sejak 1993 itu mengambil ayam-ayam yang berharga 3.000 baht. “Meski demam serama di Thailand sudah lama, hobiis belum berani membeli yang berkualitas,” tuturnya.

Harga Jual Ayam Serama Cukup Tinggi

“Kami masih coba-coba, jadi tak mau yang mahal,” ujar Baneha Kong In, pengacara di Hat Yai, Thailand. Lajang 44 tahun itu memelihara serama sejak 5 tahun lalu. Dari 2 pasang indukan yang dibelinya kini beranak pinak hingga 50 ekor. “Saya hanya bagikan ke teman-teman dekat, belum dikomersialkan,” lanjutnya. Menurutnya serama lambat laun akan sepopuler perkutut. Sebab kontes memperebutkan piala raja pun diselenggarakan rutin sejak 2015.

Di kios Surachai Suwapanichphan di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand, dari 37 ekor yang dijajakan, hanya 3 ekor berkualitas A, selebihnya B. Serama kualitas A berbobot 250- 300 g; B 350-500 g. “Yang banyak terjual kualitas B mencapai 20 ekor/bulan. Kualitas A jarang yang beli karena harganya tinggi,” kata Surachai.

Pria yang sudah 10 tahun berjualan serama itu mematok harga 300-400 baht setara Rp 60.000- Rp 80.000 per ekor kualitas B; kualitas A 3.000-4.000 baht. Sedangkan yang pernah menang kontes 30.000-50.000 baht per ekor.

Beternak Ayam serama memang memberikan peluang yang menjanjikan, pantas kalau Johan Nasution nekat mencemplungkan puluhan juta rupiah hanya untuk mengimpor beberapa induk serama. “Saya yakin dalam waktu 1 tahun modal kembali dari hasil menjual anakan,” tandas ayah 3 putra itu.

Di pasaran harga serama kualitas standar umur 2-3 bulan Rp 500-ribu-Rp 2-juta. Yang kualitas kontes sekitar Rp 5-juta saat berumur 3 bulan; dewasa mencapai Rp lO-juta. Di Malaysia bahkan ada yang berharga RM35.OOO setara Rp 87-juta.

 

Pos terkait