Rahasia Menjaga Kualitas Mutu Jamur Merang Ada Di Kumbung Kubah Tinggi

Kualitas jamur hasil panen pekebun di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, itu bermutu rendah Kuncinya terletak pada jarak antara rak paling atas dengan puncak atap berbentuk kubah yang mencapai 1,7 m.

Mutu jamur merang cenderung anjlok pada musim hujan. Sahim mampu mempertahankan kualitas.

Meski puluhan tahun membudidayakan jamur merang, H Ato Sutisna hanya pasrah menghadapi musim hujan. Kualitas jamur hasil panen pekebun di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, itu bermutu rendah. Tubuh buah berwarna kehitaman. Padahal, saat kemarau mayoritas-lebih dari 75%-merang berkualitas baik, tubuh buah putih mulus, la menuai rata-rata 120 kg jamur setiap hari.

Sahim: Kubah tinggi mempertahankan panas
Kubah tinggi mempertahankan panas

Jamur merang berwarna kehitaman itu memang masih aman konsumsi, tetapi konsumen kurang meminatinya karena tampak kotor. Keruan saja harga jamur merang yang menghitam lebih rendah, yakni Rp10.000; sedangkan jamur yang bersih, Rp18.000 per kg Akibatnya laba bersih Ato yang mengelola 12 kumbung jamur-ada yang besar dan kecil-itu pun merosot.

Kuncinya ada di suhu kumbung

Dr Iwan Saskiawan, peneliti jamur konsumsi di Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menuturkan pada musim hujan mutu merang rendah karena pekebun tak bisa menjaga suhu kumbung. Jika suhu lebih rendah, muncul warna kehitaman,” katanya. Sementara jika suhu lebih dari 35°C, jamur akan pecah membentuk payung terbuka.

Padahal, jamur merang dalam benak konsumen berbentuk bulat dan putih bersih. Bentuk payung itu pun tidak disukai sehingga tergolong apkir. Ato memiliki kumbung berlantai tanah lunak dan berdinding bilik bambu yang tertutup rapat. Pria bertubuh subur itu menuturkan model kumbung itu memudahkannya menurunkan suhu saat kemarau. “Kalau panas cukup mengalirkan air di lantai sehingga suhu pun turun,” kata pekebun berusia 52 tahun itu.

Sayangnya, saat musim hujan, konstruksi itu menyebabkan kumbungbanyakkehilangan panas sehingga suhunya anjlok. Dampaknya banyak tubuh jamur menghitam. Kondisi itu berbeda dengan kumbung milik Sahim, pekebun di Karawang, Jawa Barat Walau musim hujan, Sahim menuai jamur merang berkualitas prima, 90% bertubuh buah putih. Mutu itu setara dengan panen pada musim kemarau.

Perhatikan Jarak Antar Rak

Kuncinya terletak pada jarak antara rak paling atas dengan puncak atap berbentuk kubah yang mencapai 1,7 m. “Atap tinggi mampu menyimpan lebih banyak uap panas sehingga suhu dalam kumbung tak mudah turun,” kata pria berusia 50 tahun itu. Terbukti hingga 15 hari setelah pasteurisasi, suhu dalam kumbung tetap ajek pada 33°C. Di kumbung lain, suhu biasanya tinggal 31-32°C, bahkan kurang dari 30°C. Keuntungan lain, “Pekerja dapat lebih leluasa memanen jamur di rak teratas tanpa harus sering-sering mengelus kepala yang terantuk rangka atap,” kata Sahim.

Untuk mempertahankan suhu dalam kumbung berukuran 4,3 m x 8 m, Sahim memasang jendela berukuran 40 cm x 90 cm dengan posisi sejajar rak teratas. Jumlah jendela 2 buah, masing-masing terletak di atas pintu. Dengan demikian masih ada jarak 1,3 m dari tepi atas jendela ke puncak atap kubah. Tujuannya agar saat jendela dibuka, udara panas yang keluar hanya dari sekitar rak budidaya jamur bagian atas. Sementara udara panas di bawah lengkungan kubah hanya sedikit yang mengalir keluar. Itu sesuai sifat udara panas yang selalu menuju tempat tertinggi.

Persiapan Media tumbuh

Sahim menggunakan dinding plastik transparan 0,3 mm untuk melapisi dinding kumbung bagian dalam berbentuk kubah. Tujuannya agar kondisi di dalam tidak terlalu gelap. Saat matahari bersinar kuat, cahaya justru mesti dikurangi. Oleh karena itu Sahim mengurung kumbung plastik dengan kumbung dari bilik bambu.

Kunci sukses Sahim juga terletak pada media tumbuh, la menyimpan jerami minimal 1 bulan sebelum fermentasi. Semakin lama semakin baik. Yang jelas, “Jangan pernah menggunakan jerami yang benar-benar masih baru dari sawah,” kata Sahim. Untuk setiap kumbung, ia memasukkan 300 ikat jerami (bobot 1 ikat 1-3 kg), 500 kg limbah kapas, 20 kg kapur pertanian, serta 100 kg dedak.

Mula-mula ia merendam jerami di bak air selama 10-15 menit sambil menginjak-injak supaya benar-benar “basah” sampai ke dalam, sekaligus menghilangkan sisa pestisida. Selanjutnya ia mengeluarkan jerami dari bak, meniriskan, menambahkan, dan mengaduk rata semua bahan di atas, lalu menangkupkan terpal dan mendiamkannya. Selang 5 hari, Sahim mengaduk ulang jerami sehingga posisi jerami yang semula di bawah beralih ke atas.

Langkah berikutnya, ayah 3 anak itu memindahkan jerami ke serambi kumbung, menangkupkan terpal dan kembali mendiamkannya. Lima hari berselang, media siap digunakan. Sahim membersihkan kumbung, menaburkan media setebal 30 cm di atas bedengan rak, mempasteurisasi dengan uap panas selama 7 jam, lalu menyemprotkan air sisa steam sehingga kelembapan naik menjadi 90%. Hari berikutnya, saat suhu turun menjadi 33-35°C, Sahim pun menebarkan bibit jamur dengan kepadatan 1 baglog bibit per m2.

  1. Posisi kumbung dalam berdinding plastik dan kumbung luar berdinding bilik bambu
  2. Konstruksi rak di kumbung dalam

Penanganan Pada saat panen

Untuk populasi itu ia menyiapkan bedengan rak dengan konstruksi khusus agar pertumbuhan jamur optimal. Pekebun jamur merang sejak 2001 itu membelah batang bambu menjadi 4 bagian sama besar, lalu memasang berjajar, dengan spasi 4-5 cm antarbatang. “Nantinya jamur bisa dipanen dari atas dan bawah media,” kata Sahim. Setelah itu ia menutup kumbung rapat-rapat selama 3 hari. Pada hari ke-4 pascainokulasi, ia mengulang penyemprotan, juga menggunakan air sisa steam yang masih hangat sehingga terbebas dari potensi cendawan parasit. Selanjutnya kumbung kembali ditutup rapat.

Pada hari ke-8-9, ia memanen jamur merang sampai hari ke-15-20 pasca inokulasi. Total jenderal, Sahim memanen 3-4 kuintal Volvariella volvacea per kumbung berkualitas baik. Pada tingkat harga Rpl8.000 per kg, omzet Sahim Rp5,4-juta dari sebuah kumbung selama 20 hari.

Padahal, ia mengelola 8 kumbung dengan produksi setara, maka Sahim pun mengantongi Rp43,2-juta. Itu belum termasuk 50-75 kg jamur apkir dari 8 kumbung. Pengepul keliling rutin menyambangi kumbung membeli jamur apkir Rpl0.000 per kg. Sahim memperoleh produksi bermutu tinggi itu pada musim hujan dan kemarau. Musim hujan pun bukan kendala bagi Sahim.

Document Last Updated on 3 Desember 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.