Ramai-ramai Tanam Makuto Dewo

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
buah makuto dewo

Siapa sangka buah si malakama itu bakal mencuat namanya di awal abad ini? Buah nan cantik mirip apel merah impor itu dulu tidak dilirik orang. Mendekati pohonnya saja ada yang tak berani karena takut keracunan. Kini, ia malah diburu orang.

Bila Anda berkunjung ke Desa Kemusu, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, coba cermati setiap halaman rumah penduduk. Anda pasti menemukan 1-2 pohon makuto dewo di sana. Sejak akhir tahun lalu, kepala desa setempat memang mewajibkan penanaman minimal 1 pohon di setiap rumah.

Hal sama terjadi di Desa Nanggulan, Kelurahan Jatisrono, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo. Alasannya, “Selain untuk tanaman obat keluarga, ia juga laku dijual,” papar Kahuno Raharjo, warga Nanggulan.

Karena alasan itu pula warga Desa Semaken, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, marak mengembangkan makuto dewo. “Setahun ini orang ramai-ramai tanam makuto dewo,” papar Sri Supardini, pengobat tradisional.

Menurut ketua Kelompok Jamu Sari Jatra itu, baru 5-6 orang yang menanam makuto dewo di Semaken. Itu pun hanya 5-10 tanaman per orang. Namun melihat maraknya permintaan, “Saya sudah menyuruh 30 anggota kelompok untuk mengembangkan di sela-sela tanaman empon-empon yang selama ini digeluti mereka,” tuturnya. Selain menyarankan anggotanya, ia juga kini menanam 30 tanaman di pekarangan. Saat Mitra Usaha Tani berkunjung pertengahan April, tanaman baru berumur 3 bulan.

Anthonius Wahyuni di Kumendaman, Yogyakarta, juga tertarik mengebunkan si malakama karena alasan pasar. “Pengepul siap menampung,” paparnya. Februari lalu ia mencoba di lahan 200 m2. Dengan jarak tanam 1 m x 1,5 m, populasi mencapai 130 tanaman. Namun, jika prospeknya baik, ia berniat mengembangkan lebih luas.

Pasar yang terbuka luas dan mudah

Wajar jika banyak pengepul yang langsung berburu hingga ke desa-desa. Sebab, pasokan buah masih terbatas. Aryadi misalnya, dalam 9 bulan terakhir hanya mendapatkan 4 ton basah. “Setiap 5 hari hanya 2 kuintal yang dipasok para bakul,” papar penampung di Kumendaman, Yogyakarta itu. Setiap kilo dihargai Rp4.000-Rp6.000. Setelah dikeringkan hanya jadi 20 kg. Padahal, penampung di Jakarta meminta banyak.

Untuk memenuhi pemintaan, Aryadi terpaksa harus berburu pula ke Pasar Beringhaijo, Yogyakarta, meski harganya lebih mahal, Rp7.000-Rp8.000/kg. Malah, saat harga melonjak Rpl6.500/kg pada Agustus 2002 lantaran kemarau panjang, ia terpaksa membeli. Sebab, pasokannya terus ditunggu oleh penampung langganan.

Di Pasar Beringharjo, buah makuto dewo juga mulai banyak dicari. Contohnya di kios Mujono, minimal 5 kg buah segar terjual setiap hari. Tak hanya buah segar, rajangan kering juga laku 4-5 kg/minggu meski harganya Rp80.000/kg. “Kalau ada barang, 10 kg sehari pun bisa laku,” tuturnya. Sayangnya, pasokan dari pengepul terbatas. Satu bakul paling-paling hanya membawa 100-200 kg/minggu. Padahal, di pasar itu tak kurang dari 10 pedagang yang menjual makuto dewo.

pohon Makuto Dewo
Makuto Dewo Banyak ditanam di pekarangan

Potensi ekspor

Yelia Mangan, pengobat tradisional di Kalibata, Jakarta Selatan, memang mengakui, mulai melirik makuto dewo sebagai obat. “Dulu saya tidak menggunakannya karena tahu ia beracun,” paparnya. Kini ia memakainya meski hanya sebagai pendukung ramuan obat kanker, lever, diabetes, dan narkoba. Menurut Yelia, kebutuhannya saat ini 20- 30 kg kering per minggu.

Wuryaning Setyowati Harmanto, produsen obat tradisional di Plumpang, Jakarta Utara, juga meningkat kebutuhan bahan bakunya. Sampai akhir 2001, ia hanya butuh 1 ton/bulan. Kini, kebutuhan per minggu mencapai 1 ton. Wajar, kalau dulu hanya sebatas kerabat yang mengkonsumsi produknya, “Kini permintaan datang dari berbagai daerah dan mancanegara,” papar Ning Harmanto, sapaan akrabnya.

Direktur PT Mahkota Dewa Indonesia itu juga sebenarnya butuh pasokan untuk permintaan ekspor. “Singapura sempat meminta pasokan 10 ton kering per minggu,” ungkapnya. Namun, karena tak ada barang permintaan tak dipenuhi.

Di Lampung, Yayasan Sinar Jati, panti rehabilitasi ketergantungan obat, malah harus mengembangkan sendiri lantaran buah sulit ditemui di pasaran. Padahal, “Sejak 1997 kami sudah menggunakan makuto dewo sebagai obat,” tutur Sukri Atmojo, pemilik yayasan. Kini, 50 kg per bulan dipanen dari sekitar 100 pohon berumur 5 tahun. Namun, itu hanya untuk dipakai sendiri.