Rasakan Kelezatan Durian Strum Srondolkidul

Itulah durian strum milik Tatir Sudarman di Srondolkulon, Banyumanik, Semarang. “Kadar alkoholnya tinggi mencapai 60 sampai 70%, sehingga banyak orang yang tidak tahan mencium baunya,” kata Darman, panggilan akrab Tatir Sudarman. Makanya, ia selalu menganjurkan jika membawa strum kaca jendela mobil dibuka supaya ada sirkulasi udara. Jika tidak, penumpangnya pasti mabuk.

Anjuran itu bukan tanpa alasan. Suatu ketika pada 1998 ia membawa beberapa buah strum untuk temannya di Semarang. Sadar akan risiko, di dalam bus pria kelahiran 1965 itu memilih duduk di belakang. Namun, rupanya aroma durian tetap menguar ke seluruh bus. Para penumpang berteriak-teriak tak kuat menahan bau durian yang menyengat. Bahkan beberapa di antaranya mabuk dan semaput. Tanpa pikir panjang akhirnya Darman turun dari bus, meski belum sampai ke tempat tujuan.

Durian strum banyak dicari

durian enak
Durian strum

Kendati memabukkan, di saat musim berbuah, telepon di rumah Darman terus berdering. Penelepon tidak lain penikmat fanatik strum dari berbagai kota seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, Bogor, bahkan Manado. Sebelum datang mereka biasanya menanyakan terlebih dahulu ada-tidaknya durian jatuh hari itu. Maklum, strum hanya dipanen jatuhan. “Jika tersedia stok si penelepon segera mengabarkan kedatangannya, besok atau lusa,” kata Darman.

Berawal dari sistem panen itulah petaka kerap terjadi. Sebab, durian yang dipanen jatuhan, lalu dimakan 2 sampai 3 hari kemudian, kadar alkoholnya tinggi. Aromanya tajam menyengat. Rasanya pun pahit dan ketika ditelan panas di tenggorokkan. “Dalam kondisi seperti itu untuk menghabiskan 1 buah berbobot 2 kg pun sulit,” ujar Darman. Berbeda ketika baru dipetik, aroma tidak terlalu menyengat dan rasa manis legit sehingga disukai pemula. “Berdua dengan kakak, saya bisa menghabiskan 16 buah,” imbuhnya.

Bagi mania durian justru aroma tajam yang dicari. Itulah sebabnya, “Pelanggan dari Manado sesekali datang ke sini hanya karena kangen durian strum,” ujar lelaki pembuat taman itu. Strum dianggap istimewa lantaran paduan aroma, rasa, dan tekstur pas untuk dinikmati. Apalagi dagingnya juga tebal, 6 sampai 7 mm, kering, warna kuning emas, dan berbiji sedang.

Pohon durian Seperempat abad

“Dulu namanya si ijo, lantaran kulitnya hijau cerah,” tutur Darman. Nama strum disematkan oleh pelanggan fanatik, Peter Segond. Pemilik toko saprotan Mumi Tani di Semarang itu pemburu durian berkelas. Secara kebetulan pada 1994 ia bertemu dengan Darman keduanya pemain bonsai yang langsung mengajaknya ke rumah untuk makan durian.

Peter tersentak saat disodorkan sebuah durian berbobot 2 kg. Hidungnya bergerak-gerak kembung-kempis mencium bau durian. “Ini durian yang disebut-sebut kakek sangat enak,” ujar Peter sebagaimana ditirukan Darman. Sambil melahap pongge demi pongge, ia berguman “Durian strum, durian strum.” Sejak itulah si ijo berganti nama menjadi strum karena Peter merasa kaget seperti terkena strum (aliran listrik, red) begitu menghirup aroma durian yang sangat tajam.

Strum kini menjadi incaran para mania durian. Ia demikian terkenal di seputaran Banyumanik salah satu sentra durian di Jawa Tengah. Buahnya selalu menjadi rebutan. Wajar jika ingin mencicipinya perlu pesan jauh-jauh hari. Padahal, setiap musim pada Desember sampai Januari, dari pohon berumur 250 tahun itu dihasilkan 600 sampai 1.000 buah berbobot 1,5 sampai 2 kg. Ketika Trubus berkunjung pun tinggal 1 buah bergelayut di batang bergaris tengah 125 cm. “Saya jual tidak mahal, hanya Rp20.000 sampai Rp25.000/buah,” kata Darman.

Last Modified: 9th Jan 2021