Rawit-rawit Penguasa Pasar

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
panen cabai rawit
Varietas sirup meski mahal banyak diminati

“Masyarakat Minahasa terkenal doyan pedas,” papar Dr Ir Lucky Longdong MEd, wakil kepala Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Utara. Tak heran jika rawit menjadi pilihan konsumen ketimbang cabai besar. Tiga jenis di antaranya sirop, jarum, dan banggai

Kalau masakan padang identik bersantan, masakan kawanua populer dengan rasa pedasnya. Sebut saja rinteg wuuk, tinorangsat, ayam bakar rica, atau tumis pepaya. Semuanya bernuansa pedas. Bahkan gohu-asinan pepaya khas Manadopun pedas menggigit lidah.

Diperkirakan konsumsi cabai masyarakat Minahasa minimal 6 kg/ kapita/tahun. Dari asumsi itu kebutuhan mereka yang mencapai 1.350.000 jiwa (tersebar di Manado, Minahasa, dan Bitung, red) saat ini 8.100 ton/tahun, atau 22,2 ton/hari. Jumlah ini jelas tak mampu dipenuhi produksi lokal yang rata-rata 2.500-3.000 ton/tahun.

“Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, didatangkan rawit dari daerah tetangga seperti Gorontalo dan Sulawesi Tengah terpaksa dilakukan,” papar Lucky. Bahkan pada kemarau panjang, rawit asal Surabaya dan sekitarnya ikut menyerbu pasar Manado, Minahasa, dan Bitung.

Perkebunan Skala kecil

cabai sirup
Varietas jarum, tak sepedas sirup

Tak hanya di Minahasa, di Provinsi Gorontalo rawit juga mendominasi pasar. “Meski tak sehebat lidah orang Manado, masyarakat Gorontalo juga suka pedas,” papar Dr Ir Djamaluddin MS, kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu rawit mendominasi areal penanam cabai di provinsi itu. Malah, hampir tak ada petani yang mengembangkan cabai besar.

Sentra rawit terdapat di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Boalemo dengan total luas areal 800 ha. “Sentra terbesar di Kecamatan Isimu dan Tibawa di Kabupaten Gorontalo serta Paguyaman di Kabupaten Boalemo,” papar Mardi Susilo, Kasubdin Hortikultura.

Memang, rawit tidak dikembangkan dalam hamparan luas. Dari pengamatan Mardi, luas kepemilikan lahan 2.000- 3.000 m2. Lahan milik seorang petani di Isimu bahkan hanya sekitar 1.000 m2. Saat Mitra Usaha Tani berkunjung, setiap pucuk tanaman masih disesaki buah. Padahal, panen sudah beberapa kali dilakukan. Menurut Djafar, pemiliknya, meski harga fluktuatif, ia tetap menikmati keuntungan. Sebab, umur panen tanaman panjang sehingga harga baik pasti tetap dirasakan setiap musim.

Pemasaran Sampai Sampai Kaltim

Rawit memang tak sulit dipasarkan. “Ada pedagang pengumpul yang siap menampung,” papar Djafar. Di antaranya UD Barito di Desa Datau, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Perusahaan yang berkantor pusat di Kelurahan Tuminting, Manado, itu serap hari mengirim minimal 1 truk berisi 5 ton ke pasar Manado. Malah menurut Yunus Antuke, kepala cabang UD Barito, kalau lagi ramai ia menambah pasokan 1 colt setara 3 ton.

Cabai asal Gorontalo kebanyakan dikirim ke luar daerah. Dari produksi rata-rata 8.000 ton/tahun, hanya 30% yang dikonsumsi sendiri. Selebihnya mengisi pasar Manado, Palu, Surabaya, dan Kalimantan Timur. “Minimal 5 colt yang keluar tiap hari dari sini,” paparnya.

Menurut Djamaluddin, pelaku agribisnis cabai di wilayahnya paham soal pasar. “Kalau harga basah menguntungkan, ia jual basah. “Kalau harga basah menurun, cabai akan dikeringkan untuk dipasarkan sewaktu-waktu diperlukan,” lanjut doktor alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Cabai Rawit Jenis lokal

areal perkebunan cabai
Cabai Jenis Rawit dominasi areal perkebunan

Menurut Djamaluddin, rawit yang dikembangkan petani kebanyakan rawit lokal. “Rawit introduksi justru kurang disenangi,” paparnya. Alasannya, rawit introduksi kurang pedas. Pasar lokal menghendaki rawit pedas.

Ada 2 jenis rawit yang dikenal di sana: sirop dan jarum. Di antara keduanya, sirop yang lebih menggigit rasanya. Karena itu meski harga lebih mahal, ia lebih diminati. Di pengepul harga sirop minimal Rp3.000/ kg, jarum, paling tinggi Rp2.500.

Sosok tanaman kedua jenis cabai itu hampir sama. Tinggi sekitar 1 meter dengan percabangan rimbun. Tajuk melebar berdiameter 1 m. Karena itu tajuk tanaman saling berpaut meski jarak tanam selebar 1 m. Produksi per tanaman 2-3 kg.

Perbedaan terlihat pada sosok dan warna buah. Sirop lebih pendek, hanya 2,5-3 cm panjangnya. Postur agak gemuk. Ia disebut sirop karena warna kulit kurang menarik: matang merah buram tidak mengkilap. Waktu muda berwarna hijau muda, dan kuning waktu mengkal.

Warna jarum lebih mengkilap. Hijau waktu muda, dan merah terang saat matang. Bentuk buah lebih ramping, panjang 3-3,5 cm. Karena itu ia disebut jarum. Selain kedua rawit lokal itu, pasar Manado dan Gorontalo juga dibanjiri rawit lokal Kepulauan Banggai.

Rawit banggai itu berukuran lebih kecil, panjang hanya sekitar 2 cm. Meski begitu, rasanya paling pedas. “Rasanya panas dan sangat pedas menggigit lidah,” papar Hud Gallus SP, kepala Seksi Perluasan Areal Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Saking pedasnya, hampir tak ada yang berani memanen dengan tangan telanjang.