Rezeki Berlimpah Dari Peti Kemas Albisia

Albisia, sengon, jeungjing, atau apapun namanya selalu merujuk pada pohon yang banyak dimanfaatkan untuk kemasan buah dan sayuran. Namun, sebetulnya itu bukan produk utama tanaman anggota keluarga Mimosaceae (petai-petaian) tersebut. PT Chiper misalnya, menjadikan sengon …

Albisia, sengon, jeungjing, atau apapun namanya selalu merujuk pada pohon yang banyak dimanfaatkan untuk kemasan buah dan sayuran. Namun, sebetulnya itu bukan produk utama tanaman anggota keluarga Mimosaceae (petai-petaian) tersebut.

PT Chiper misalnya, menjadikan sengon sebagai bahan baku bistek alias penggulung kabel. Setiap hari ia memasok 5 kubik papan sengon kepada sebuah perusahaan di Balaraja, Tangerang.

Papan yang dihasilkan berketebalan 3cm dan lebar 15 cm. Perusahaan yang berdiri pada 1982 itu menjual sekubik papan sengon dengan harga Rp500.000.

Peti kemasan dari kayu sengon
pembuatan Peti kemasan dari sengon

Rendemen pembuatan papan mencapai 70% bila diameter log 20cm. Harga log saat ini berkisar antara Rp100.000 sampai Rp150.000.

Kayu Sengon Banyak Digunakan Sebagai Bahan Baku Peti tomat

Setelah digergaji, sebuah log menghasilkan beberapa papan tergantung pada ukuran garis tengah. Pengolahan itu juga memunculkan sampah berupa keempat sisi log. Masyarakat Sukabumi, Jawa Barat, menyebutnya sebagai babiran.

Bahan yang tidak dapat digunakan untuk bistek itu, “Saya manfaatkan untuk peti tomat,” tutur penanggungjawab produksi Chiper, Lukmanulhakim.

Pemanfaatan babiran sebetulnya tidak melulu untuk mengemas tomat. Duku, jeruk, atau salak juga dikemas menggunakan peti dari babiran. Namun, peti berukuran 40cm X 30cm X 20cm itu oleh petani Lembang dan Ciwidey keduanya kecamatan di Kabupaten Bandung lazim dimanfaatkan untuk mengemas tomat. Jadi, nama peti tomat seperti dipatenkan. Soalnya, sayuran lain tak biasa diangkut menggunakan kemasan kayu sengon.

Chiper yang mengandalkan 10 tenaga kerja mampu memproduksi 50 peti tomat per hari. Harga jual Rp700 per peti. “Itung-itung mengurangi sampah,” tutur Lukman. Oleh pedagang perantara, peti made in Chiper itu diboyong ke Bandung untuk dipasarkan kepada para petani.

Pedagang di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta, A. Hatta setiap hari dipasok 800kg tomat. Sayuran buah itu dikemas dalam sebuah peti berukuran 60cm X 40cm X 20cm.

Bobot setiap kemasan 40kg sehingga dalam sehari ia menerima sekitar 200 peti. Peti dengan jumlah setara juga diterima Made, pedagang duku dan salak di Kramatjati.

Peti-peti rusak yang sekilas tak berguna didaur ulang Yono. Ia mencari peti tersebut di Kramatjati, Pasarrebo, dan Senen. Setelah merakit ulang, “Saya menjualnya dengan harga Rpl.300 per peti,” tutur Yono. Konsumennya adalah para pemasok buah dan sayuran dari Lampung dan Palembang. Setiap hari ia mampu menjual hingga 400 peti.

Komoditas Ekspor Papan Sengon

Sengon juga dimanfaatkan untuk mengemas komoditas ekspor. PT Mitra Firdaus yang rutin mengirim hanjuang dan pachira ke Korea Selatan membutuhkan minimal 5 kubik papan sengon setiap dua pekan.

Perusahaan itu mengekspor 2 kontainer hanjuang yang dipotong-potong 15cm dan 10cm per bulan.

Setelah kedua ujung dicelupkan ke dalam cairan lilin mendidih, hanjuang itu dikemas dengan peti sengon berukuran 50cm X 30cm X 20cm.

Peti yang sudah dikirimkan ke Negeri Ginseng itu tak akan dikembalikan ke eksportir. Itulah sebabnya, kebutuhan Mitra Firdaus relatif besar.

Sedangkan untuk mengemas pachira, MF tidak memanfaatkan sengon. Alasannya, “Terlalu rapuh,” tutur Manajer Produksi MF Iwan Riswandi. Bobot pachira memang lebih berat ketimbang hanjuang sehingga butuh kemasan yang kuat. Perusahaan di Cibadak, Sukabumi itu memilih kayu petai untuk mengepak pachira.

Selain untuk pengemasan, sengon juga diekspor dalam bentuk batangan walau bersifat temporer. “Kami mengekspor bila ada permintaan dari Korea Selatan,” ujar Manajer Produksi PT Sumber Indo Jaya, A. Ramdhanie kepada tomat. Standar mutu yang diinginkan republik di Asia Timur itu hanya grade A.

Cirinya: berukuran 29cm X 6,9cm X 6,9cm dan S4S atau semua sisi tampak mulus. “Kayu juga harus bebas dari blue stain atau jamur kayu,” kata Ramdhanie. Sekali pengiriman, Sumber Indo Jaya mengapalkan 2 kontainer dari Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara.

Sengon Sown Timber

Sumber Indo Jaya membeli bahan baku ekspor dari para petani di sekitar perusahaan yang berlokasi di Leuweungdatar, Sukabumi. Walau mempunyai beberapa mesin pemotong dan pembelah, “Kami biasanya membeli bahan baku dalam bentuk sown timber” kata Ramdhanie.

Sown timber adalah kayu yang sudah berbentuk papan, bukan gelondongan. Langkah itu ditempuh lantaran permintaan importir biasanya mendesak.

Walau Sukabumi merupakan salah satu sentra albisia, tetapi beberapa perusahaan kesulitan mencarinya. Terutama bila musim hujan tiba.

“Produksi kami sampai merosot hingga setengahnya,” tutur Lukmanulhakim. Pada kemarau perusahaan yang semula memasok sebuah pabrik kertas itu mengolah 8 kubik log.

Namun, ketika musim hujan tinggal 4 kubik log lantaran sulitnya mencari bahan baku. Jampang Tengah, salah satu sentra sengon di Sukabumi belum dilengkapi infrastruktur memadai.

“Jalanan belum diaspal sehingga truk kami sering kepater (selip, Red) bila ke sana,” tutur Lukman. Kondisi jalan yang buruk menyurutkan para produsen papan sengon untuk memperoleh bahan baku di wilayah berbukit-bukit itu.

Di samping membeli langsung dari petani, Chiper juga mendapatkan bahan baku dengan cara menebas memborong suatu komoditas sebelum dituai. Yakni membeli sengon yang masih berdiri tegak di lahan.

Satu hektar lahan sengon berumur 5 tahun misalnya, ditebas dengan harga Rp1,5-juta sampai Rp2-juta. Bila diolah hasil tebasan menghasilkan hingga 15 kubik log.

Menurut Syaefuddin dari Dinas Perkebunan Kabupaten Sukabumi, saat ini di wilayah seluas 3.932,47km2 itu terdapat sekitar 4.500 ha perkebunan sengon.

Antara lain terdapat di Kecamatan Cikidang, Cibadak, Jampang Tengah, Kelapanunggal, dan Parungkuda. Selain oleh petani, lahan itu juga dikelola oleh perkebunan besar swasta.

Document Last Updated on 5 November 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.