Saat Demam Aquascape Menerpa

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Di pusat jajan itu, sambil menikmati ayam goreng atau masakan jepang, panorama hutan dari sepasang akuarium aquascape akan melonggarkan urat saraf. Demam aguascape kini sudah menjalar hingga ke fasilitas umum.

Aquascape berukuran 2 m x 1,5 m x 80 cm itu banyak menyedot perhatian pengunjung. Isi aquascape tampak padat, tapi tertata rapi. Perancangnya Aquarista di Jakarta Barat, terlihat menyukai panorama hutan tropis. Itu terlihat dari rerimbunan tanaman air dari belakang hingga mengitari dinding akuarium. Untuk menambah kesan alami belasan ikan hias seperti kardinal tetra, botia, dan platy tampak menyesaki akuarium itu.

Menurut pengelola gedung, Henny, akuarium itu sudah ada sejak 2001. Tujuannya membuat pengunjung di pusat jajan betah berlama-lama. Yang pasti untuk memesan akuarium besar itu lengkap dengan segala sistemnya, puluhan juta rupiah mesti dirogoh.

Lantai pertama gedung EX di Plaza Indonesia juga menampilkan pemandangan serupa. Pengunjung yang berputar di lantai itu pasti sejenak akan berhenti tatkala menatap akuarium aquascape berukuran 90 cm x 45 cm x 45 cm yang penuh ditumbuhi java moss. Selangkah masuk ke dalam melewati sebuah pintu, panorama aquascape raksasa berukuran 4 m segera menohok mata.

Trend Aquascape Meningkat


Lacakan Mitrausahatani di beberapa kota besar seperti Semarang dan Surabaya menunjukkan tren aquascape mulai melanda. “Kebanyakan ingin memanfaatkan akuariun kosong yang sebelumnya diisi lou han,” papar Benyamin, perancang di Jl. Suyudono, Semarang. Hal senada diungkapkan pula oleh Rischard Tanayla dari Uvi Aquarium and Exotic Pets di Mojoarum, Surabaya, dan Thomas dari Aquarista Aquarium di Jakarta. “Selain sudah bosan lou han, di sini banyak yang berpindah dari akuarium laut ke tawar. Maklum merawat akuarium laut lebih susah,” ujar Rischard.

melanda. “Kebanyakan ingin memanfaatkan akuariun kosong yang sebelumnya diisi lou han,” papar Benyamin, perancang di Jl. Suyudono, Semarang. Hal senada diungkapkan pula oleh Rischard Tanayla dari Uvi Aquarium and Exotic Pets di Mojoarum, Surabaya, dan Thomas dari Aquarista Aquarium di Jakarta. “Selain sudah bosan lou han, di sini banyak yang berpindah dari akuarium laut ke tawar. Maklum merawat akuarium laut lebih susah,” ujar Rischard.

Kondisi itu membuat para perancang mendapat durian runtuh. Terutama fasilitas umum seperti restoran, hotel atau pertokoan masih sedikit,” ujar Simon A Torrys dari Amazonia Aquatic Plants Spesialist di Mangga Besar, Jakarta. Kebanyakan yang dipesan akuarium berukuran 90 cm x 45 cm x 45 cm setara 100 1.

Menurut Simon harga yang ditawarkan terggantung bahan yang dipakai. Jika mengunakan bahan yang seluruhnya impor untuk akuarium berukuran 90 cm x 45 cm x 45 cm bisa menyedot dana Rp8-juta—Rp9-juta. Harga bahan impor memang mahal. Sekadar contoh gravel mencapai Rp320.000 per 10 kg. Setidaknya akuarium butuh 40—50 kg agar ketinggian gravel mencapai 10—15 cm hingga dapat ditumbuhi tanaman air. “Agar tak susah, kita hitung per paket. Untuk luasan lm2 Rp3,5-juta. Jumlah itu tidak termasuk harga akuarium,” ujar Simon.

Tampil prima dengan harga murah tetap menjadi dambaan. “Hobiis biasanya bilang saya hanya punya uang segini, tapi ingin punya akuarium aquascape,” ujar Rischard. Untuk menyikapi hal itu alumnus YPPI jurusan Teknik Informatika itu mengakali memakai bahan lokal seperti gravel silika. Untuk tanaman air dipilih yang tahan banting dan murah seperti Nymphaea sp, Echinodorus sp dan Aponogeton sp. “Ikan saya yang pilih sendiri,” ujarnya. Setidaknya untuk akuarium berukuran 200 cm x 100 cm x 70 cm hanya butuh Rp3-juta—Rp5-juta.

Tanaman air meningkat


Seiring meningkatnya permintaan aquascape, pebisnis tanaman air sebagai ornamen utama pun ikut kecipratan. “Ada lonjakan meski tidak terlalu besar untuk tanaman tertentu,” ujar Henry, pengusaha tanaman air di Bandung. Anubias sp misalnya menjadi favorit para aquarist lantaran tahan banting. Setiap pekan pemilik Evergreen Aquarium itu mampu melepas ratusan pot seharga Rp 15.000 per pot. Bandingkan dengan 2 tahun lalu yang paling banter baru bisa melepas puluhan Anubias sp selama 2 bulan lebih.

“Jenis-jenis impor tetap disukai karena corak dan jenisnya banyak yang baru,” ujar Okie, pengusaha tanaman air di Cibinong, Bogor. Harganya pun lebih mahal karena jarang dan perlu diimpor dari Eropa. Hemiantes sp misalnya dapat dijual Rp75.000 per pot. Atau jenis Anubias sp variegata bisa menjulang hingga Rp 150.000 per pot. “Saya saja sudah menunggu 2 bulan tetapi barangnya Anubias sp variegata belum ada,” ujar Okie Tanujaya, perancang di Jakarta Selatan.

Menurut Benyamin jenis-jenis lama seperti cabomba, echinoduros, higrophylla, bacopa, dan rucia, tetap diminati para perancang. Bahkan jenis lokal seperti java moss Pesicularia dugiana dan java fem Microsorum terokrus sangat disukai karena menghadirkan suasana eksotis. “Kehadiran jenis baru justru akan membuat perancang lebih banyak memiliki pilihan tanaman,” tutur pemilik Ira Galeri Tanaman.