Saat Kelezatan Durian Udang Merah Tercecap di Lidah

durian udang merah

Pantas bila kegembiraan langsung pecah begitu Khor Hun Hin menyodorkan udang merah. Sudah sejak 2 perjalanan sebelumnya Karjono dan Sardi Duryatmo pada 2002, serta Evy Syariefa pada 2003 durian andalan Pulau Penang itu jadi incaran. Sayang, udang merah urung dicicipi lantaran lewat musim.

Perjalanan kali ini, Destika Cahyana, berharap-harap cemas. Musababnya, dari data yang didapat mestinya Mei waktu perjalanan durian tengah musim raya di Penang. Namun, 6 hari berkeliling bersama Khor Ooi Meng tak satu pun udang merah dijumpai. Pantas pada hari kunjungan terakhir Meng mewanti-wanti pada Khor Hwh Sen putranya. “Hari ini harus ketemu,” begitu pesan Meng. Maka bersama Sen yang mengemudikan sedang mungilnya, Mitra Usaha Tani menyusuri jalan-jalan yang biasanya banyak penjaja durian.

Dalam perjalanan dari hotel menuju pusat kota, hasil perburuan nihil. Penjaja yang ditemui di kios pertama langsung menggeleng begitu anghe disebut. Di bilangan Jl. Macalister yang terkenal sebagai pusat makanan dan buah terkenal sebuah toko buah bernama Eng Leong disambangi. Lagi-lagi sang pemilik menggeleng lalu berkata, “Semestinya ini musim durian. Anehnya, hingga saat ini saya kesulitan mendapat pasokan. Sekalipun ada, harganya selangit,” kata Eng. Toko itu pun memilih tak menjajakan durian. Penjelasan itu seperti kata pamungkas yang mengakhiri perburuan udang merah.

Beruntung Sen mengambil jalan memutar menuju penginapan. Di tengah perjalanan itulah sebuah pick up yang diubah menjadi kios durian ditemui. Colt diparkir persis di pertigaan Jl. Macalister dengan Jl. Kek Chuan. Di sanalah putus asa berubah menjadi kegembiraan.

durian Lin feng jiao
Lin feng jiao, paling pahit dan biji hepe

Durian johan

Begitu udang merah diserahkan, Khor Hun Hin, menyebut angka RM25 setara Rp75.000 untuk anghe berbobot 1,3 kg. Anghe berbobot 2,8 dibandrol RM80 setara Rp240-ribu. Mendengar harga itu ingatan langsung melayang pada kata-kata Dr Moh Reza Tirtawinata, pakar buah di Bogor. “Itu durian termahal di dunia. Namun, kalau menyerah mendengar harganya, lalu tak mencicip, rugi seumur hidup,” tutur Reza sebelum Mitra Usaha Tani berangkat.

Setelah tercapai harga kesepakatan, anghe yang berkulit cokelat itu pun dibelah. Aroma harum menguar. Dari balik juring terlihat pongge berwarna kuning kemerahan. Daging buah kering, betul-betul memikat. Posisi pongge melengkung, mirip udang yang telah dimasak. Dari penampilannya itu julukan udang merah didapat.

Begitu buah dicecap, rasa manis bercampur agak pahit menyergap lidah. Yang istimewa daging buah kering itu terasa kental begitu melewati tenggorokan. Itu mengingatkan pada durian tarmin dan karman. Keduanya durian legenda pasca petruk di Jepara yang berdaging kering, tapi kental di lidah dan tenggorokan. Bedanya tarmin dan karman kuning tanpa semburat merah.

Keistimewaan udang merah membuat mereka yang pernah mencicipi tak kan lupa. “Di Jakarta saya belum pernah makan durian seenak udang merah,” kata Yosef Susanto, pekebun dan mania durian di Puncak, Cianjur. Yosef menyebut hanya durian lokal di pelosok-pelosok Sumatera Utara yang setara udang merah. Sayang, durian asal Sidikalang dan Belawan tak bernama dan tidak muncul ke permukaan seperti udang merah.

Menurut Reza, udang merah terkenal karena pernah menjadi durian johan alias juara. Ia disukai karena mempunyai 2 keunggulan: rasa lezat dan warna menarik, kuning kemerahan. Di Indonesia durian berwarna kemerahan disebut-sebut turunan lai Durio kutejensis. Sayang, lai tak seenak durian Durio zibethinus. Reza menduga udang merah varietas Durio zibethinus yang mengalami kelainan warna.

Durian udang merah

durian Holo
durian Holo, kering dan legit

Sejatinya, tak hanya udang merah yang menjadi kebanggaan warga Pulau Penang. Di sana ada durian holo, kun po, dan lin feng jiao yang tak kalah lezat. Yang disebut pertama populer karena pernah menjadi juara kontes di Pulau Penang setelah udang merah tak dibolehkan mengikuti lomba. Ia disebut holo (bengkok, red) karena bentuk buah menekuk seperti angka 8.

Tiga durian itulah yang membuat Mitra Usaha Tani bersama 3 kolega Chee Kin Thoong, Lim Kean Pheng, dan Ooi Earn Hin memburu durian dengan Toyota Lexus RX 300 ke Pondok Upeh, Balik Pulau, begitu tiba di negeri jiran.

Menurut Quah Ewe Kheng, pengamat buah di Pulau Penang, Pondok Upeh, sentra durian enak di Penang. Sayang, udang merah gagal dipanen karena saat berbunga, hujan turun. Bunga-bunga udang merah berguguran. “Yang ada hanya holo, kun po, dan lin feng jiao. Ketiganya lebih bandel sehingga jumlah yang dipanen lebih banyak,” katanya. Kheng, menyebut pada 2007 panen durian turun hingga tinggal 25% dari jumlah biasa.

Di kebun Fong Pow Pin, 3 durian dicicip. Holo berdaging kering dan legit. Sayang, yang tercicip agak berserat. Menurut, Chee Kin Thoong, itu karena buah dipanen dari pohon berumur 10 tahun. Rasa holo kian lezat bila dipetik dari pohon berumur di atas 30 tahun. Yang paling menarik, kun po. Durian berbobot 2,5 kg yang Mitra Usaha Tani cicip berdaging kuning kemerahan, lebih merah dibanding udang merah. Rasanya manis nyaris tanpa pahit.

Durian terakhir yang dinikmati lin feng jiao. Ia digemari etnis Tionghoa di Pulau Penang. Musababnya, rasa lin feng jiao paling pahit dibanding durian lain. Daging buah pun tebal, hampir 50% biji hepe alias kempes. Sebutan ling fung chow diambil dari nama istri aktor terkenal Jacky Chan.

Di kebun Fong seluas 3,24 ha terdapat 130 pohon durian. Selain 4 jenis itu udang merah, holo, kun fo, dan lin feng jiao masih ada ang jin dan siaw hong. Sayang, hari itu tak ada buah yang jatuh. Toh, perburuan kali ini tak sia-sia. Udang merah yang dicari tercecap sudah. Penantian selama 5 tahun pun terbayar lunas.

Last Modified: 8th Des 2020