Salak Pondoh Makin Marak di lumajang

Avatar
  • Whatsapp
salak pondoh sleman
Rasa tak kalah daripada pondoh sleman

Ukuran boleh lebih besar, tapi rasa tetap sama seperti pondoh. Bahkan kerena kadar air lebih tinggi, teksturnya sedikit empuk, dan enak dimakan. Itulah salak pondoh asal Lumajang yang mencoba menyaingi popularitas pondoh Sleman.

Karena kepopulerannya, banyak orang tertarik menanam salak pondoh. Termasuk para pekebun di Lumajang yang tidak puas dengan kualitas salak lokal. Belakangan tersebar berita, toko buah dan pasar swalayan di Surabaya, Malang, serta Jember mendapat pasokan salak pondoh asal Lumajang. Kota itu kini menjadi pusat produksi yang baru.

Salak Pondoh varietas unggul

panen salak pondoh
Sortir buah sebelum dipasarkan

Keunggulan salak pondoh asal Lumajang teruji di arena kontes buah se-Jawa Timur 1997. Salak yang mulai dikembangkan sekitar 9 tahun lalu itu menyabet gelar juara pertama untuk jenis salak, dan juara ketiga kategori buah-buahan.

Padahal di arena kontes pondoh Lumajang harus bersaing dengan salak-salak yang sudah punya nama seperti swaru dari Malang, bangkalan dari Madura, serta salak-salak dari Tuban atau Pasuruan. “Pondoh lumajang berdaging tebal, masir, dan manis sekali. Penampilan fisik lebih besar daripada pondoh yang ada di Sleman,” ungkap Ny. Gito, salah satu pelopor salak di Lumajang.

Ukuran inilah yang digunakan pedagang salak untuk membedakan pondoh lumajang dan sleman. Pondoh lumajang berisi 12 sampai 15 buah/ kg; pondoh sleman, 17 sampai 20 buah/kg. “Soal rasa relatif sama, tak ada sepet, dan sudah manis sejak pentil.

Hanya saja kadar air pondoh lumajang lebih tinggi, walau masih bunyi kraek-kraek ketika dikunyah,” jelas Purtini, SPd, kebun dan sekaligus penampung salak di desa Pronojiwo, Lumajang. Bentuknya kebanyakan bulat, berisi rata-rata tiga siung. Warna daging ada yang putih bersih dan kekuningan, tergantung varietasnya.

“Di Sleman sendiri pondoh ada lima varietas, di antaranya nglumut dan pondoh hitam. Pondoh lumajang yang berdaging kuning berasal dari salak nglumut,” tambah Purtini. Salak berdaging kuning ini lebih tebal ketimbang yang hitam. Aroma lebih tajam, tapi cenderung asam sebelum tua. Kecuali itu bentuknya agak panjang dan warna sisik kekuningan. Sementara yang berdaging putih warna sisik hitam mengkilap. Persamaan keduanya, kulit ari yang memisahkan siung tampak kasar.

Salak Segar dipetik Langsung dari kebun

buah salak pondoh
Buah salak matang di pohon

Sekalipun unggul dan pemasarannya hampir meliputi seluruh Jawa Timur, pondoh lumajang belum punya sebutan paten. Di kardus-kardus kemasan maupun logo yang dipajang di pasar swalayan tak ada embel-embel kata lumajang. Di situ hanya tertulis salak pondoh. “Bukan takut tidak laku, tapi belum terpikir untuk berpromosi,” kata Mochammad Sari, tokoh pemuda tani di Pronojiwo.

“Bandar-bandar besar di Surabaya sudah tahu betul kualitas salak pondoh lumajang. Kalau di sini ada barang pasti tak akan mencari ke tempat lain,” tandas Purtini. Sarjana pendidikan ini menduga eksportir sudah memanfaatkan salak pondoh lumajang. Sebagian bandar-bandar penampung memasok ke eksportir. Wajar karena ukuran memenuhi persyaratan. Kesegaran terjamin lantaran jarak lebih dekat. Sayangnya produksi masih terbatas, maklum total pertanaman yang berproduksi baru 35 ha.

Saat panen raya ia memasok 6,5 kuintal per dua hari ke bandar di Surabaya. Masing-masing 1 kuintal keempat kios buah di Malang dan 1 kuintal di Jember. Namun, ketika produksi kurang, ke Surabaya hanya bisa 2 ton/bulan, serta kios buah dan pasar swalayan 5 kuintal/minggu.

Pengakuan Purtini tak berlebihan. Sebab, waktu Trubus bertandang ke rumahnya, pedagang pengecer yang “meminta” salak ditolaknya. Stok buah tidak ada karena panen raya yang jatuh antara Oktober sampai Februari sudah lewat. Harganya pun Rp4.500,00/kg, lebih tinggi Rp1.500,00 sampai Rp2.000,00 dibanding saat panen raya.

Kebun salak di Lereng gunung

Lumajang berhasil memproduksi salak pondoh berkualitas karena kemiripan kondisi geografis. Desa Pronojiwo, Kecamatan Pronojiwo,yang menjadi sentra salak pondoh lumajang merupakan daerah pegunungan.

Pertanaman yang kini mencapai 50 ha berada di ketinggian 500 sampai 800 m dpi. “Terletak di kaki Gunung Semeru, identik dengan di Sleman yang dilingkupi Gunung Merapi. Lahannya kebanyakan berlapis endapan vulkanik karena sering dilanda hujan debu,” Purtini yang telaten mengamati kondisi salak di Pronojiwo memaparkan.

Meskipun begitu, tingkat keasaman tanah di Pronojiwo beragam, dari mulai tak terukur (di bawah nol) sampai 6. “Mungkin ini yang menyebabkan salak kadang terasa sedikit asam jika pemupukannya kurang diperhatikan. Atau sebelum ditanam lubang galian tidak ditaburi dolomit,” ujar Mochammad Sari, pemilik 1.000 tanaman salak. “Tak sekadar asam, malah salak bisa gonyeh,” timpal Purtini.

Berdasarkan pengamatannya, penyinaran matahari juga mempengaruhi kualitas buah. Salak yang mendapat sinar matahari pagi kualitas jauh lebih bagus.

“Keragaman kualitas menurut hemat saya wajar-wajar saja. Di Sleman pun tidak seratus persen sama. Yang jelas pondoh lumajang bisa berproduksi tinggi dan berkulitas baik di tanah ber-pH 5 sampai 7, ketinggian tempat 600 sampai 800 m di atas permukaan laut, dan dirawat secara intensif,” terang Purtini panjang lebar.

Di ketinggian kurang dari 500 m atau lebih dari 800 m dpi laut ukuran buahnya kecil. Akibatnya tingkat produktivitas rendah. “Salak pondoh lumajang yang baik, pada umur tiga tahun ke atas berproduksi 5 sampai 15 kg/ pohon/tahun,” ucap Wagiran Hadi Siswanto, pekebun di Pronojiwo. (Kaijono)

Editor: Anton Nb