Sang Ratu Buah Ditunggu Pasar Mancanegara

Deru mesin motor itu berujung di halaman gudang milik Sunardi di bilangan Nglegok, Blitar. Setelah mesin dimatikan, 2 keranjang berisi manggis diturunkan dari jok.

Hari itu ratusan keranjang total setara 2 ton diterima Sunardi. Kesibukan terus berdenyut di sana hingga petang menjelang. Dari perniagaan sang ratu buah, ayah 3 anak itu menangguk laba bersih hingga Rp7-juta per 2 hari.

Bacaan Lainnya

Pendapatan yang terbilang sangat besar. Sunardi membeli manggis Rp2.000 per kg. Setelah disortir, kelas A untuk memasok eksportir; B, pasar swalayan; dan C, pasar becek. Volume dan harga per kg untuk masing-masing pasokan adalah 1 ton (Rp6.000), 500 kg (Rp4.000), dan 2,5 ton (Rp3.000). Setelah dikurangi biaya pembelian Rp2.000 per kg, laba yang ditangguk Sunardi Rp7-juta.

Harga jual itu melonjak tajam hingga Rp12.000 sampai Rp15.000 per kg ketika November Desember. Maklum ketika itu pasokan seret. Pria paruh baya itu memperoleh pasokan Garcinia mangostana dari pekebun dan pengepul di sekitar Blitar. Di kota kabupaten itu manggis belum dikebunkan intensif. Wajar jika banyak permintaan belum mampu dipenuhi. “Pasar Surabaya butuh 2 truk (setara 8 ton, red) per hari belum terlayani karena ngga ada barang,” katanya.

Makin Diburu

Serapan pasar tinggi

Buah anggota famili Guttiferae itu memang diburu pasar. Itu tercermin dari lonjakan permintaan para eksportir. PT Agroindo Usaha Jaya, umpamanya, mengekspor ke Perancis,Belanda, Spanyol, dan kawasan Timur Tengah. Jika tahun lalu volume hanya 1 ton sekarang meningkat 1,5 sampai 2 ton per hari. Volume melambung hingga 30 sampai 40% menjelang Natal, Tahun Baru, Idul Fitri, Idul Adha, Imlek, dan Ramadhan.

Buyers di Eropa menginginkan kemasan berbobot 2 kg; Timur Tengah, 700 g. “Permintaan manggis sangat bagus. Asal ada barang saja yang memenuhi standar eskpor pasti bisa terserap pasar,” kata Direktur PT Agroindo Usaha Jaya (AUJ), Husein.

Pendapat serupa dikemukakan H Enen Karmana, pengepul di Tasikmalaya, “Selama kualitas sesuai untuk ekspor, manggis tetap laku, tidak seperti buah lain.” Tentu saja AUJ tak mengebunkan sendiri. Kesinambungan pasokan selama ini terjaga lantaran perusahaan yang berdiri pada 1990 itu merangkul para pekebun di berbagai wilayah.

Saat ini harga pembelian per kg mencapai Rp4.500 sampai Rp5.000 terdiri atas 10 sampai 14 buah. Sedangkan di Eropa ia menjual US$3,90 per kg. Buah yang dicari: mulus tanpa bercak, 4 kelopak buah utuh, dan tingkat kematangan 80%. Menurut Husein, 90% pasokan pengepul memenuhi spesifikasi yang diinginkan.

Produksi Meningkat

Mulai dikebunkan

Lonjakan permintaan pun dialami PT Alindojaya Pratama. Perusahaan itu mengekspor manggis ke Arab Saudi. Volume per pengiriman 1 ton. Padahal, Alindojaya mengirimkan 4 kali sepekan pada Ahad, Selasa, Kamis, dan Sabtu. Setahun silam volume ekspor hanya 750 kg per pengiriman.

Ekspor manggis Indonesia merambah ke 30 negara. Pasar utama adalah Taiwan, Hongkong, Malaysia, dan Singapura. Taiwan menyerap produk manggis Indonesia 50,58%, Hongkong 30,49%, Malaysia 10,30%, dan Singapura 2,42%. Produksi manggis Indonesia cenderung melonjak. Pada 1998 tercatat 23.511 ton manggis yang dituai dari lahan 5.266 ha.

Setahun kemudian melorot menjadi 19.174 ton (4.124 ha), dan kembali melambung pada 2000: 26.400 ton (5.192 ha). Keragaman waktu panen antarsentra suatu kekuatan untuk memenuhi permintaan pasar dunia. Sentra manggis antara lain di Mandailing Natal, Pariaman, Lahat, Purwakarta, Tasikmalaya, Purworejo, Blitar, dan Trenggalek.

Terserap pasar

Tingginya permintaan pasar tak hanya dinikmati para eksportir. Pengepul pun kecipratan rezeki berkat perniagaan buah eksotis kegemaran Ratu Victoria itu. H. Enen Karmana, contohnya. Pengepul di Puspahyang, Tasikmalaya, itu memasok eksportir 4 sampai 5 ton per hari.

Malahan ketika panen raya tiba sampai 3 tahun sekali dan berlangsung 2 bulan sejak April pasokan melambung hingga 25 ton per hari. Pria paruh baya itu beberapa tahun lalu menikmati harga tinggi Rp 15.000 sampai Rp 17.000 per kg untuk manggis kualitas ekspor.

April lalu harga jual turun menjadi Rp7.000 per kg. Dari total pasokan itu, hanya 50% yang memenuhi standar mutu ekspor. Selebihnya mengisi pasar lokal. Di luar panen raya saja, laba bersih yang ditangguk pengepul itu mencapai Rp 18-juta sehari.

Biaya pembelian di tingkat pekebun berkisar Rp2.000 sampai Rp2.500 per kg. Laba itu tentu saja membumbung ketika panen raya tiba. Permintaan memang tidak ajek, terutama ketika Thailand panen atau musim dingin di Taiwan. Saat itu Enen hanya mampu memasok 3 ton per hari. Di luar musim itu ia kewalahan memenuhi tingginya permintaan. Enen hanya mengandalkan pasokan pekebun.

Dari luar sentra

Sortir untuk ekspor

Pekebun di Tasikmalaya umumnya mengirimkan manggis puspahyang. Harga beli Rp200 sampai Rp300 per kg lebih tinggi ketimbang manggis lain. Maklum, mutu manggis itu lebih baik. Kelopak buah keras, bentuk agak lonjong, dan warna kulit merah. Buah tahan hingga sepekan.

Banyak manggis dari luar Tasikmalaya yang dikirim ke Puspahyang. Embel-embel puspahyang seolah menjadi jaminan mutu. Pada 2002 umpamanya, tercatat 150 ton manggis kaligesing dari Purworejo, Jawa Tengah, yang dikirim ke Puspahyang. Belum dari daerah lain seperti Sukabumi, Ciamis, Purwakarta, dan Bogor.

Menurut Dr Roedhy Purwanto volume ekspor manggis menempati urutan ke-2 setelah pisang. Oleh karena itu manggis layak dikembangkan. Peluang itu antara lain ditangkap pekebun di Tasikmalaya. Menurut catatan Dinas Pertanian setempat, pertambahan luas penanaman di Tasikmalaya mencapai 200 ha per tahun sejak 2001.

Dikebunkan

Jika dulu pohon hanya warisan, lima tahun terakhir mulai banyak yang mengebunkan intensif. Di Puspahyang pada awal Januari silam kelompok tani Triguna Pancawarna mengembangkan manggis di lahan 27 ha. Jarak tanam 10 m x 8 m atau 10 m x 10 m sehingga populasi per ha 125 tanaman atau 100 pohon. Selama ini orang gamang membudidayakan tanaman kerabat mundu itu lantaran lamanya berproduksi.

Itu salah satu kendala. Hambatan lain adalah rendahnya mutu buah. Sunardi di Blitar sempat merugi Rp20-juta pada 1995. Penyebabnya, mutu buah pasokan pekebun sangat jelek sehingga gagal dipasarkan.

Kandungan air tinggi menyebabkan buah mudah rusak Rata-rata bibit asal sambung berproduksi setelah 7 tahun. Meski demikian itu tak menyurutkan langkah pekebun mengembangkan manggis. “Lama (berproduksi, red) itu dianggap sebagai tabungan anak-cucu saya,” ujar A Syamsir, pekebun di Pandeglang, Banten.

Hal senada diungkapkan Ade Sugema. Sepuluh tahun silam ia menanam 100 bibit di Wanayasa, Purwakarta. Saat ini ia menuai hasil rata-rata 9 kg per pohon. Untuk menyiasati pengeluaran selama belum berproduksi, Ade menumpangsarikan dengan melinjo dan pala. Ada pula yang memilih salak atau teh sebagai tanaman tumpang sari. “Saya tak pernah memupuk khusus untuk manggis. Pupuk hanya mengandalkan tanaman sela,” tutur Ade. Praktis ia tak mengeluarkan biaya perawatan selama pohon belum berproduksi.

Pos terkait