Sayur Lilin Tanaman Khas Papua Bertekstur Manis Dan Lembut

Sayur Lilin
sayur lilin

Masyarakat Papua menyebutnya pohon sayur lilin papua. Boleh jadi lantaran bentuk dan ukurannya menyerupai alat penerangan itu. Bagian pangkal lebih besar ketimbang ujung. Panjang 15 cm, diameter 1,5-2 cm. Warna putih seperti lilin pada umumnya. Ketika digigit, kres, terasa gurih. Malahan ada yang bilang lebih enak daripada daging ayam. Maklum, teksturnya memang amat lembut, berbutir halus seperti gula pasir.

Cara masak sayur lilin biasanya diolah dengan cara digoreng. Ada pula yang dimasak santan setelah dibungkus daun melinjo. Apa pun masakannya, sayuran lilin tetap lezat disantap.

Saccharum edule (sayur lilin)

pohon sayur lilin papua adalah spesies tebu, yang merupakan rumpun dalam genus Saccharum tumbuhan tangkai berserat yang kaya gula. Tumbuhan Ini tumbuh di iklim tropis Asia Tenggara. Duruka, tebu telor, Fiji asparagus, dule (Fiji), pitpit (Melanesia), dan naviso adalah beberapa nama yang umum digunakan.

Di Asia Tenggara, termasuk Fiji dan komunitas pulau tertentu di Indonesia, kepala bunga Saccharum edule yang masih muda dan belum dibuka dimakan mentah, dikukus, atau dipanggang, dan dimasak dengan berbagai cara.

Saccharum edule, umumnya dikenal sebagai tebu, adalah spesies rumput yang banyak dibudidayakan untuk getah manisnya, yang digunakan untuk membuat gula, tetes tebu, dan rum. Tanaman ini berasal dari Dunia Lama, tetapi telah banyak dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis. Saccharum edule adalah rumput tinggi abadi yang tumbuh dalam rumpun dan dapat mencapai ketinggian hingga 6 meter. Daunnya panjang dan seperti bilah, dan batangnya tebal dan silindris. Bunganya kecil dan tidak mencolok, dan buahnya adalah buah silindris yang berwarna hijau saat belum matang dan berubah warna menjadi coklat kemerahan saat matang.

Cairan yang diekstrak dari Saccharum edule merupakan sumber yang kaya akan karbohidrat dan sukrosa. Saccharum edule dapat digunakan untuk membuat gula, molase, dan rum. Molase adalah sirup kental berwarna coklat tua yang dibuat dengan merebus air tebu sampai semua airnya menguap. Rum adalah minuman beralkohol suling yang terbuat dari jus tebu atau molase.

Tebu merupakan tanaman pangan yang populer di daerah tropis dan subtropis. Saccharum edule adalah sumber utama karbohidrat dan sukrosa, dan digunakan untuk membuat gula, molase, dan rum. Tanaman ini juga digunakan sebagai bahan baku untuk produksi etanol.

Sayur lilin sebagai bahan makanan masyarakat papua

Sayuran tradisional ini memang tak hanya milik orang Papua. Buktinya, di Sulawesi Tengah ia juga menjadi sayuran yang digemari. “cara memasak Saccharum edule antara lain digulai” papar Verra Gorianto, warga Bogor yang menghabiskan masa kecil di Banggai, Sulawesi Tengah.

Masyarakat Jakarta dan Bogor pun sudah lama mengenal tanaman yang banyak tumbuh di wilayah Bogor ini. Di sekitar Jabotabek anggota keluarga Gramineae itu umumnya direbus sebelum dimakan seperti menyantap jagung atau dibuat sambal goreng. Masyarakat Jawa menyebutnya telur tebu lantaran sosok mirip telur ikan. Sedangkan masyarakat Sunda mengenalnya sebagai tiwu (tebu, red).

Pohon sayur lilin papua dipanen dari tanaman sejenis rumput-rumputan mirip tebu. Bagian yang dikonsumsi tersembunyi di dalam pucuk tanaman, terbungkus pelepah. “Ia sebenarnya bakal bunga yang belum mengembang,” tutur Ir Rudy Saragih dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura. Oleh karena itu bila tidak dipanen, selubung di pucuk tanaman memunculkan beberapa malai bunga persis sorgum.

Pohon sayur lilin papua termasuk forma lain dari tebu Saccharum officinarum. Tanaman tumbuh merumpun dan seringkah bercabang. Tinggi tanaman mencapai 3 m dengan diameter batang 2-3 cm. Ruas-ruas batang pendek, mengembang, dan tertutup pelepah. Daun memanjang hingga 60 cm dan lebar 4-6 cm. Permukaan daun agak berbulu, tepi daun tajam. Pucuk tanaman tertutup daun-daun pelepah dan membengkak di bagian bawah.

Sayur Lilin

tanamannya mirip tebu

Bernilai ekonomis

Pohon sayur lilin papua dipanen sebelum bunga terbentuk. Setelah dipanen selubungnya dibakar agar isinya tidak hancur saat pelepah dibuka. Sayuran dipotong-potong dan dimasak sesuai selera. Jika dibiarkan beberapa hari setelah dipanen, ia akan melapuk dan tak bisa dikonsumsi lagi.

Meski langka, di Papua dan Sulawesi Tengah, Saccharum edule sudah dibudidayakan secara tradisional. Maklum, ia termasuk sayuran bernilai ekonomis.

Di Kabupaten Jayapura, misalnya, luas areal penanaman sedikitnya 52 ha. Daerah pengembangan terdapat di Kemtukgresi, Kemtuk, Benjai, dan Sentani. Sedangkan di Sulawesi Tengah ia berkembang di wilayah Kabupaten Luwuk dan Banggai Kepulauan. Kerabat gandum ini ditumpangsarikan dengan ubi-ubian, nanas, timun, dan jagung.
Namun di Jawa Barat, ia tidak ditanam secara komersial.

Kebanyakan hanya tumbuh liar di kebun-kebun masyarakat. Padahal, di pasar-pasar Jakarta dan Bogor, ia pun banyak dicari konsumen. Di pasar Serpong, Tangerang, misalnya, ia dijual Rp 10.000 per ikat. Malah menurut Heyne dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia, pohon sayur lilin papua menjadi masakan yang dihargai di Eropa. Harga yang bagus untuk potensi yang hampir terlupakan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.