Sayur Lilin Tumbuhan Khas Papua

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
sayur lilin
sayur lilin

Masyarakat Papua menyebutnya sayur lilin. Boleh jadi lantaran bentuk dan ukurannya menyerupai alat penerangan itu. Bagian pangkal lebih besar ketimbang ujung. Panjang 15 cm, diameter 1,5-2 cm. Warna putih seperti lilin pada umumnya. Ketika digigit, kres, terasa gurih. Malahan ada yang bilang lebih enak daripada daging ayam. Maklum, teksturnya memang amat lembut, berbutir halus seperti gula pasir.

Di Papua sayuran lilin diolah dengan cara digoreng. Ada pula yang dimasak santan setelah dibungkus daun melinjo. Apa pun masakannya, sayuran lilin tetap lezat disantap.

Sayur lilin Gulai Telur ikan

Sayuran tradisional ini memang tak hanya milik orang Papua. Buktinya, di Sulawesi Tengah ia juga menjadi sayuran yang digemari. “Ia enak digulai,” papar Verra Gorianto, warga Bogor yang menghabiskan masa kecil di Banggai, Sulawesi Tengah.

Masyarakat Jakarta dan Bogor pun sudah lama mengenal tanaman yang banyak tumbuh di wilayah Bogor ini. Di sekitar Jabotabek anggota keluarga Gramineae itu
umumnya direbus sebelum dimakan seperti menyantap jagung atau dibuat sambal goreng. Masyarakat Jawa menyebutnya telur tebu lantaran sosok mirip telur ikan. Sedangkan masyarakat Sunda mengenalnya sebagai tiwu (tebu, red).

Sayur lilin dipanen dari tanaman sejenis rumput-rumputan mirip tebu. Bagian yang dikonsumsi tersembunyi di dalam pucuk tanaman, terbungkus pelepah. “Ia sebenarnya bakal bunga yang belum mengembang,” tutur Ir Rudy Saragih dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura. Oleh karena itu bila tidak dipanen, selubung di pucuk tanaman memunculkan beberapa malai bunga persis sorgum.

Sayur lilin termasuk forma lain dari tebu Saccharum officinarum. Tanaman tumbuh merumpun dan seringkah bercabang. Tinggi tanaman mencapai 3 m dengan diameter batang 2-3 cm. Ruas-ruas batang pendek, mengembang, dan tertutup pelepah. Daun memanjang hingga 60 cm dan lebar 4-6 cm. Permukaan daun agak berbulu, tepi daun tajam. Pucuk tanaman tertutup daun-daun pelepah dan membengkak di bagian bawah.

sayur lilin
tanamannya mirip tebu

Bernilai ekonomis

Sayur lilin dipanen sebelum bunga terbentuk. Setelah dipanen selubungnya dibakar agar isinya tidak hancur saat pelepah dibuka. Sayuran dipotong-potong dan dimasak sesuai selera. Jika dibiarkan beberapa hari setelah dipanen, ia akan melapuk dan tak bisa dikonsumsi lagi.

Meski langka, di Papua dan Sulawesi Tengah, sayur lilin sudah dibudidayakan secara tradisional. Maklum, ia termasuk sayuran bernilai ekonomis.

Di Kabupaten Jayapura, misalnya, luas areal penanaman sedikitnya 52 ha. Daerah pengembangan terdapat di Kemtukgresi, Kemtuk, Benjai, dan Sentani. Sedangkan di Sulawesi Tengah ia berkembang di wilayah Kabupaten Luwuk dan Banggai Kepulauan. Kerabat gandum ini ditumpangsarikan dengan ubi-ubian, nanas, timun, dan jagung.

Namun di Jawa Barat, ia tidak ditanam secara komersial. Kebanyakan hanya tumbuh liar di kebun-kebun masyarakat. Padahal, di pasar-pasar Jakarta dan Bogor, ia pun banyak dicari konsumen. Di pasar Serpong, Tangerang, misalnya, ia dijual Rp 10.000 per ikat. Malah menurut Heyne dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia, sayur lilin menjadi masakan yang dihargai di Eropa. Harga yang bagus untuk potensi yang hampir terlupakan. (Fendy R Paimin)