Sayuran Bermutu dari Bawah Naungan Sungkup

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Ipomoea aquatica segar

Deretan kangkung berlabel all natural tersusun rapi di gerai sayuran eksklusif di swalayan Ranch. Sosok tegak, akar pendek, daun tidak kaku, dan berwarna hijau cerah. Bunyi kres terdengar saat batang berukuran 18-20 cm itu ditekan. Itu persis sayuran aeroponik. Padahal kangkung itu ditanam secara konvensional.

Dengan kualitas seperti itu wajar jika ia bersanding dengan komoditas serupa yang dibudidayakan secara aeroponik. Kangkung berkualitas itu diproduksi oleh Ngalim, pekebun di Desa Tenjo, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor. Rahasianya menggabungkan cara konvensional dan modern sehingga modal dapat ditekan.

Ngalim memanfaatkan plastik UV (ultraviolet) sebagai sungkup. Sepintas bangunan itu mirip greenhouse mini. Yang membedakan, sungkup lebih sederhana. Lima bilah bambu ditancapkan dengan interval tertentu. Panjang 13 m dan lebar 6 m. Setelah itu plastik UV dihamparkan di atasnya. Supaya kuat, Ngalim menarik kuat-kuat plastik itu. Sebuah ujung sungkup ditutup, ujung lain dibuat mirip pintu sebagai jalan keluar-masuk.

Pembuatan irigasi Parit

Bentuk sungkup itu mirip terowongan, sehingga ia disebut tunnel greenhouse alias greenhouse terowongan. Di sisi kanan dan kiri sungkup itulah ayah 2 anak itu mengembangkan sayuran daun seperti sawi, selada keriting, dan kangkung. Lebar bedengan di kedua sisi masing-masing 2,5 m. Panjang 13 m sesuai panjang terowongan. Dengan demikian terdapat area tersisa selebar 1 m.

Area itu digunakan sebagai parit berkedalaman 15 cm yang dilapisi plastik UV. Setiap kali air menipis, Ngalim menambahkan dengan mengocorkan melalui selang. Tujuannya, untuk menjaga kelembapan. Air di parit juga berfungsi untuk menyiram tanaman.

Plastik UV berfungsi sebagai pelindung serangan hama dan hujan. Faedah lain lengkungan atap menyebabkan pantulan sinar matahari sempurna. Tanaman memanfaatkan energi yang terkurung dalam terowongan untuk berfotosintesis. Tanah steril dari hama karena sinar matahari menembus ke dalam. Itu yang membuat penampilan sayuran prima.

Belum banyak pekebun di tanah air yang menggunakan greenhouse sungkup. “Di Jepang model seperti itu familiar. Tidak sekadar hemat, tetapi juga lebih efisien dalam penyerapan matahari,” tutur Ir Yos Sutiyoso, praktisi hidroponik di Bogor. Maklum negara sakura itu beriklim subtropis. Jika diadopsi di Indonesia pemberian nutrisi harus optimal. Tanaman bisa lemas karena energi terkuras untuk pembentukan makanan.

Greenhouse Tahan sampai Lima tahun

Tunnel greenhouse
Tunnel greenhouse, hemat dan efisien

Menurut Ngalim biaya pembuatan sebuah sungkup seluas 78m2(13mx6 m) mencapai Rp2-juta. Artinya, biaya per meter persegi hanya Rp25.000. Itu jauh lebih murah ketimbang biaya pembuatan greenhouse permanen. Pengalaman Ngalim menunjukkan, sungkup mampu bertahan hingga 5 tahun. Pekebun itu mengelola 10 sungkup di lahan 2.500 m2.

Pemilik AT3 (Aneka Tanaman & Ternak Terjalin) itu menafikan penggunaan pestisida kimiawi. Tekadnya memang ingin mewujudkan pertanian terpadu dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber nutrisi. Masing-masing 5 kg pupuk kandang berupa kotoran ayam dihamparkan di setiap bedengan. Jarak antarbaris 10 cm. Sedangkan jarak antartanam dibuat memanjang sesuai alur bedengan.

Alumnus Institut Pertanian Bogor itu langsung menanam biji di bedengan. Cara itu lebih efektif lantaran Ngalim tidak membenihkan terlebih dulu. Hingga panen rata-rata umur 21 hari setelah semai Ngalim tak pernah memberikan pupuk. Ia rutin menuai rata-rata 10 kg masing-masing kangkung, sawi, dan selada keriting setiap 3 hari.

Harga jual tinggi

kangkung mahal
kangkung organik tinggi harga jualnya

Kakek 2 cucu itu tak perlu repot memasarkan beragam sayuran. Seorang pengepul biasanya menyambangi kebun setiap kali panen. Ngalim menjual Rp2.000 per seperempat kg atau Rp8.000 per kg. Oleh pemasok, sayuran produksinya dijual ke pasar swalayan.

Ia pantas dihargai tinggi, lantaran sayuran nyaris mulus tanpa lubang. Kebanyakan kangkung yang ditanam di lahan daunnya berlubang. Padahal Ngalim tidak menggunakan pestisida. “Asal tidak lupa menutup pintu hama tidak bakal menyusup. Karena itu pintu sengaja dibuka keatas tanpa penyangga, sehingga begitu masuk pintu langsung tertutup,” ujarnya.