Rabu, Oktober 20, 2021
BerandaAgrobisnisSegarnya Sayuran dari Kota Musim Semi Abadi

Segarnya Sayuran dari Kota Musim Semi Abadi

Pagi itu sinar matahari malu-malu menerobos masuk di antara dahan-dahan pohon pinus. Kabut putih melapang tipis memeluk deretan bukit-bukit hijau di Langbian Lam Vien, dalam bahasa Vietnam bagian dari dataran tinggi Cao Nguyen. Di sebuah rumah makan sederhana, semangkuk sup menghangatkan tubuh yang menggigil digigit udara dingin mirip Lembang, Bandung.

Sup panas ala Vietnam yang diseruput sambil menikmati keindahan Dalat 305 km dari Ho Chi Minh City, ibukota Vietnam berisi potongan ketela pohon, kikil, plus beragam sayuran. Di situ juga ada penganan mirip lumpia semarang. Kulit “lumpia” berwarna putih dan tipis terbuat dari tepung beras itu diisi rajangan sayuran segar dan ikan atau daging.

Kalau tidak suka kombinasi yang ada, silakan buat “lumpia” sendiri. Di piring-piring tersedia rajangan wortel, kubis, seledri, parsley, mint, bawang bombay, mentimun, dan basil segar. Pun udang, ikan, daging, dan kulit “lumpia”. “Kita pilih sendiri kombinasi sayuran dan lauknya. Taruh di kulit “lumpia”, gulung, baru dimakan,” tutur Ir Agus Setiyono, sales manager PT Seminis Vegetable Seed Indonesia yang berkunjung ke Dalat pada penghujung Agustus.

Buah buahan di pasar
Buah-buahan juga dijajakan

Buat yang belum terbiasa, cara makan seperti itu memang merepotkan. Toh, masih ada pilihan lain. Macam-macam miberbahan tepung beras layak dicoba. Lagi-lagi potongan sayuran ikut bergabung dalam semangkuk pho salah satu jenis mie yang mengepulkan asap.

Daun dan rempah

Harap mafhum, sebagian besar menu masyarakat Vietnam memang berbasis sayuran. Pada 2000, tingkat konsumsi sayuran di negara Indocina itu mencapai 58 kg per tahun per kapita. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 37 kg per tahun per kapita, Filipina (14), dan Thailand (45). Tingkat konsumsi itu bakal dinaikkan menjadi 83 kg per tahun per kapita pada 2010. Pantaslah di negara bekas jajahan Perancis itu, para gadis terlihat langsing-langsing.

Sayuran-sayuran itu antara lain dipasok dari Dalat. Bermacam jenis ditanam di sana. Sebut saja bawang bombai, tomat, dan kubis. “Tapi paling banyak sayuran daun dan rempah,” kata Agus. Daerah yang punya julukan kota musim semi abadi—karena udaranya selalu sehangat musim semi, bersuhu antara 15—24°C—juga produsen buah-buahan dan tanaman hias.

gudangnya sayuran
Dalat, gudangnya sayuran dan buah subtropis

Stroberi bersosok gemuk berwarna merah terang terlihat dijajakan di pasar-pasar tradisional di Dalat. Masih di tempat sama, tumpukan daun bawang, seledri, kacang kapri, bit, radichio, dan artichoke tertata rapi. Semua bersih tanpa tanah dan bagian yang busuk.

Peran Dan Dukungan pemerintah

Pantas Dalat menjadi salah satu-sentra hortikultura Vietnam. Daerah yang disebut-sebut sebagai Paris dari Timur itu beriklim sejuk, tanah subur dengan kontur cenderung mendatar walaupun terletak di daerah pegunungan. Kota terletak di Provinsi Lam Dong yang bergunung-gunung itu dikhususkan untuk produksi sayuran dataran tinggi dan buah-buahan subtropis.

Tanaman yang dibudidayakan mirip dengan sentra sayuran di utara Vietanam. Sebut saja Vinh Phuc, Bac Gang, Bac
Ninh, Hai Duong, Ninh Binh, Nam Dinh dan Hai Phong di sepanjang delta Sungai Merah. Sementara di delta Sungai Mekong di wilayah barat daya Vietnam,sayuran dan buah-buahan dataran rendah yang dikembangkan.

Sebagian lahan pertanian di Dalat semula bekas bukaan hutan yang telantar. “Pemerintah membantu menjadikannya kebun-kebun dengan mengoperasikan alat-alat berat untuk membentuk kontur lahan. Lahan yang kurang subur karena topsoil tipis, diberi pupuk kandang,” papar Agus. Kebutuhan air dipenuhi dengan membentangkan beratus meter selang dari mata air menuju kebun-kebun pribadi, rata-rata 2.000 m2per orang.

Dukungan kuat pemerintah memang salah satu kunci sukses pengembangan pertanian di Vietnam. Iklim investasi dibuat sekondusif mungkin untuk menarik minat investor luar. “’Selama 4 tahun pertama, investor tak perlu membayar pajak dan bunga pinjaman bank,” ujar Torn Hooft dari Dalat Hasfarm Agrivina grup PT Perkebunan Mangkurajo—yang membuka kebun tanaman hias dan sayuran di sana.

Fasilitas lain, kemudahan dalam mengimpor sarana produksi tanaman, seperti mesin, bibit, hingga greenhouse. Maklum teknologi budidaya mutakhir, seperti hidroponik mulai diperkenalkan. Semua dengan mudah didatangkan ke Vietnam tanpa bea masuk. Urusan surat izin investasi pun tak berbelit-belit. Pantas bila areal penanaman sayuran (dan buah) naik 29% dari 1991 ke 2001 menjadi 445.000 ha. Jumlah itu terus ditingkatkan menjadi 600.000 ha pada 2005 dan 800.000 pada 2010.

Dengan kondisi itu Vietnam bak naga kecil yang tengah menggeliat. Negara yang bentuknya seperti 2 keranjang padi dan pikulannya itu juga mengekspor mentimun, tomat, kubis, bawang bombay, kacang-kacangan, jagung, dan cabai. Tujuan utamanya ialah Cina, Australia, Jepang, Singapura, Taiwan, Korea, dan Amerika Serikat. Kalau Indonesia tidak hati-hati, “Lima tahun mendatang, Vietnam bakal jadi pesaing kita,” kata Agus. (Mitra)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments