Seri Walet: Seriti pun Tak Merasa Ditipu

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
rumah walet

Bukan tanpa alasan Gondol Sugito memusnahkan ratusan sriti pada awal 1992. Aktifitas anggota keluarga Apodidae membuat sarang menyebabkan puluhan saung beratap ijuk bocor dan rusak berat.

Padahal saung berbentuk jamur itu menjadi daya tarik pengunjung rumah makan, kolam renang, dan pemancingan yang datang untuk menikmati hidangan dan melepas lelah. Tak ayal lagi, Kumpul ayah Gondol mesti mengganti atap itu setahun sekali.

Bacaan Lainnya

Baru pada 1995 Gondol sadar perusak atap itu bisa memancing rupiah setelah membaca artikel di robekan kertas koran. Ia mendapat informasi telur yang berada di sarang seriti bisa diganti dengan telur walet. “Wah, gedung tua ini bisa disulap jadi rumah walet,” ujarnya ketika itu. Sugih sapaan akrab Gondol Sugito bertambah girang saat tahu sarang seriti pun dihargai tinggi, Rp4-juta/kg.

Sayang, impiannya menukar telur seriti dengan telur walet tertunda sampai 3 tahun. Sang ayah tak mengizinkan gedung tua itu dibangun secara permanen karena takut merugi. Ia hanya diperbolehkan membiarkan sekitar 500 pasang seriti membuat sarang dan menjualnya secara iseng.

Namun, Sugih tak terlalu kecewa karena masih menggeluti bisnis patin yang untungnya tak kalah menarik. Sampai akhirnya pada awal 1998 permintaan bahan baku pindang itu terus menurun. Ia pun teringat kembali pada potensi liur I bernilai jutaan rupiah di gedung tua dan berusaha meyakinkan ayahnya.

Tukar telur

sarang seriti
Ijuk bahan sarang seriti

Tahun itu juga Sugih menjual setengah sarang burung seriti untuk mendapat modal renovasi gedung. Jendela tak berkaca di lantai 2 ditutup dengan papan. Dinding di lantai 1 dibangun untuk melapisi kaca. Dinding luar itu dilapis lagi dengan dinding bagian dalam.

Rongga keduanya sekitar sejengkal tangan orang dewasa. “Celah itu saya isi dengan jerami. Agar ruangan lebih sejuk,” ujar kelahiran Parung, Bogor, 26 tahun silam itu. Kelembapan dijaga dengan menempatkan gentong tanah berisi air. Total ada 20 gentong di kedua lantai gedung itu.

Dibantu seorang teman ia mulai mencari telur walet ke Jakarta. Tak sungkan-sungkan Sugih menguras Rp2-juta dari kantongnya untuk 80 pasang telur. Ia pun menukar telur seriti muda dengan telur walet muda.

Sedangkan telur siap tetas ditukar telur walet tua. Sayang teknik itu tak berhasil, hanya 30% telur walet yang berhasil ditetaskan. “Insting seriti sangat kuat. Ia tahu telurnya terganggu,” ujar pria lajang itu.

Menurutnya, cara itu membuat seriti bingung. Telur yang semestinya menetas tak jadi piyik. Seriti menganggap telur itu rusak. Tak ayal lagi telur walet banyak berjatuhan tersenggol. Walet yang berhasil hidup pun tak lebih dari hitungan jari.

Metode pemberian pakan

Banyak pasangan walet muda mati karena induk seriti tak sanggup memberi pakan. Maklum, secara genetis tubuh walet lebih besar sehingga ia lebih rakus.

Teknik pun diubah. Setiap telur seriti ditukar dengan telur walet yang siap menetas 4 hari kemudian. Hanya 1 telur seriti yang ditukar dengan telur walet pada setiap sarang seriti. Terbukti cara itu berhasil. Telur walet menetas mendahului telur seriti.

Dari 100 pasang telur walet yang dibeli, 80 pasang berhasil ditetaskan. Umumnya keberhasilan telur walet menetas oleh seriti hanya 40%.

Karena seringkali telur walet itu menetas saat dalam perjalanan. Sugih pun meletakkan piyik itu pada sarang walet yang telurnya sudah tua. Yang menakjubkan, hampir semua telur yang menetas hidup semua. Pasalnya, induk seriti sanggup memberi pakan walet yang jumlahnya 1 ekor. Hasilnya dalam satu sarang terdapat 1 piyik seriti dan 1 piyik walet.

Dua tahun kemudian walet Collocalia fuciphaga yang hidup bertelur. Ia bertelur di atas sarang seriti. Ini membuat induk seriti pindah mencari tempat lain. Baru setelah 2 sampai 3 kali bertelur sarang seriti yang dileleti liur walet alias sarang banci dicopot.

Secara bertahap terbentuk 2 koloni yang terpisah. Koloni walet mengambil tempat yang lebih gelap, sedangkan seriti bisa di tempat yang agak terang.

Jangan biarkan populasi seriti terlalu banyak agar walet tak kalah nyali dalam koloni yang berdekatan. Pemisahan koloni dipercepat dengan rutin memanen sarang seriti. Namun, jangan biarkan seriti pergi, karena ia pun menguntungkan. Tempatkan sarang buatan dari plastik agar seriti tak kehilangan sarang untuk beristirahat.

Tempat cocok

Menurut Sugih, kolam renang dan pemandian yang terletak di kompleks wisata itu jadi penyebab seriti dan walet betah. Bagaimana tidak, sumber pakan tersedia. Apalagi bentuk gedung yang alami cocok bagi mereka.

Rumah walet menghadap ke selatan sehingga cahaya matahari tak menyorot langsung ke dalam ruangan. Di depan gedung terdapat jalan masuk dan pelataran parkir yang luas. Itu menyebabkan proses keluar masuk seriti dan walet tak terganggu.

Tak heran setiap 40 hari sekali Sugih bisa memanen 5 kg sarang seriti. Sayang, harga sarang Collocalia esculenta itu jauh menurun dibanding 7 tahun silam, hanya Rp800-ribu—Rp2,5-juta.

Namun, bila tak ada aral melintang sarang walet yang harganya jauh lebih tinggi dipanen September Desember mendatang. Ia pun menjaga gedung itu agar walet dan seriti tetap betah. Sugih tak perlu lagi mengendap-ngendap di gelapnya malam sambil menggenggam raket.

Pos terkait