SIASAT DEMI Mendongkrak Produksi Cabai

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
cabe super

Begitulah cara Totok Wigianto mendongkrak produksi cabai. Bandingkan jika populasinya cuma 14.000 seperti lazim dilakukan pekebun. Produksi per ha hanya 11,2 ton. Toh, ketika jumlah tanaman ditingkatkan, tambahan biaya produksi relatif kecil, sekitar Rpl-juta—Rp2-juta. Itu untuk pembelian benih dan pestisida. Sedangkan biaya pengolahan tanah, mulsa plastik, dan pupuk tetap sama.

Memang pria 46 tahun itu mesti menambah ajir-batang bambu untuk memperkokoh tanaman. Harga sebuah ajir Rp 120 sehingga ia mesti mengalokasikan penambahan dana ajir Rp360.000. Artinya untuk satu musim tanam, tambahan biaya ajir hanya Rp 180.000. Soalnya, ajir dapat digunakan untuk 2 kali penanaman. Penambahan biaya produksi RpRp2.180.000 relatif kecil ketimbang penambahan omzet yang mencapai Rp7,2-juta.

Meski demikian bukan berarti populasi padat tanpa hambatan. Menurut ahli cabai, Rudy Purwadi, jarak tanam padat menyebabkan kelembapan meningkat. Kondisi itu surga bagi kehidupan bakteri dan cendawan penyebab penyakit. Misalnya antraknosa dan layu bakteri saat musim hujan. Saat kemarau? Giliran hama semacam thrips dan ulat grayak yang merongrong cabai.

Untuk mencegah organisme pengganggu tanaman, Totok yang mengebunkan cabai sejak 1989 memantau kebun saban hari. Bila terjadi serangan ayah 2 anak itu lekas mengatasi. Rudy berpendapat populasi padat juga memicu persaingan hara sehingga mempengaruhi vigor dan pertumbuhan tanaman. Solusinya antara lain dengan meningkatkan volume pupuk. Yang harus diingat adalah apakah peningkatan pupuk masih tetap ekonomis?

Di lahan datar, “Peningkatan populasi sampai 15.500-16.000 tanaman masih bisa. Kalau 17.000 tanaman agak berlebihan,” ujar alumnus Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu. Sedangkan di lahan miring, populasi dipengaruhi oleh derajat kemiringan. Penanaman di lahan miring sebaiknya dimulai dari posisi paling bawah. Tujuannya untuk menekan penyebaran penyakit dari tanaman tua melalui pengairan.

Cabai Varietas unggul

Pemilihan varietas juga andil terhadap peningkatan produksi. Harap mafhum, tak semua varietas adaptif di suatu daerah. Siasat itulah yang ditempuh Arif Rahayu Pamungkas. “Saya berganti-ganti varietas untuk mencari tanaman yang tahan penyakit seperti antraknosa dan virus kuning,” ujar pekebun di Kajoran, Kabupaten Magelang. Tahan serangan penyakit saja belum cukup.

Pekebun berusia 28 tahun itu juga mencermati prevalensi konsumen. Sebab, produksinya dikirim ke Batam, Pangkalpinang, dan Jakarta. Setiap daerah menghendaki cabai dengan standar mutu berbeda. Contoh, Jakarta dan Batam lebih menyukai cabai dengan panjang 12 cm dan diameter 0,5 cm; Tanjungpinang, ukurannya jauh lebih kecil. Salah satu varietas yang memenuhi kriteria itu adalah phantom.

Cabai keriting itu sepanjang 25 cm banyak dikebunkan di Magelang, Yogyakarta, Lampung, dan Ogan Komering Ulu. Varietas baru yang juga menjadi pilihan pekebun adalah adipati dan senopati. Benih keluaran PT East West Seed Indonesia itu cocok dikembangkan di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpi. Keduanya tahan layu bakteri. Potensi produksi lebih dari 1 kg per tanaman. Produsen benih itu juga merilis varietas keriting baru bernama bagayo. Potensi produksi lebih dari 1 kg per tanaman.

Secara umum si pedas cocok dikembangkan di tanah latosol cokelat atau andosol. Sedangkan di atas tanah grumosol dan podsolik, produksi Capsicum annuum tak optimal. Itulah sebabnya Rudy Purwadi mengingatkan sebelum penanaman, calon pekebun sebaiknya mengetahui jenis tanah. Toh, untuk mengetahuinya cukup bertanya pada penyuluh. Faktor lain yang mempengaruhi tingkat produksi adalah perawatan seperti pemberian pupuk.

Cabai Varietas unggul
Petani Cabai

Empat kilo per pohon

Arif mencampur pupuk kandang dan pupuk dasar setelah pengolahan tanah. Untuk 1 ha lahan ia memberikan 40 ton kotoran sapi matang, 2,5 ton kapur pertanian, dan 3 ton campuran ZA, TSP, dan KCl. Pekebun di Magelang biasanya memberikan pupuk kandang di lubang tanam. Volumenya 1 ons per lubang tanam. Dengan cara itu pekebun hanya menuai rata-rata 4-5 ons; Arif, 8 ons per tanaman. Untuk cabai keriting, produksi 8 ons relatif tinggi.

Menurut Arif dengan mengoplos pupuk kandang tanah menjadi lebih gembur. Akibatnya akar tanaman lebih mudah berkembang sehingga memperlancar transformasi hara. Hasil yang dicapai AF Kushianto lebih spektakuler. Pekebun di Kemuningsari Lor, Jember, Jawa Timur, itu menuai minimal 2 kg per tanaman. Malahan, “Sekitar 10–15% produksinya sampai 4 kg per tanaman,” katanya.

Kushianto membudidayakan tanaman asal Amerika tropis itu seluas 2 ha. Dengan populasi per ha 16.000 tanaman, artinya terdapat 3.200 tanaman yang masing-masing berproduksi 4 kg. Untuk 3.200 tanaman itu saja total jenderal produksinya mencapai 12 ton. Ayah 3 anak itu menanam varietas red star 901. Sosoknya besar dengan panjang buah 22 cm. Satu kilo terdiri atas 39 buah; varietas lain, rata-rata 55 buah.

Selain varietas, kunci sukses Kushianto ditunjang pemupukan yang tepat. Ia memberikan pupuk kandang dengan cara dioplos ketika mengolah lahan. Satu tanaman mendapat jatah 2 kg atau atau 32 ton per ha. Pupuk dasar berupa NPK 13: 13: 13. Dipilih NPK rendah lantaran si bintang merah bersifat genjah. Panen perdana pada umur 75 hari. Sebaliknya jika menggunakan NPK tinggi menyebabkan pertumbuhan tanaman amat cepat sehingga rentan terserang penyakit.

Lagi pula hujan yang turun-penanaman pada musim hujan-membantu pemberian nitrogen. Pupuk susulan diberikan 20 hari setelah tanam. Kushianto memberikan NPK
15: 18: 20. Sampai mumet pun tak bakalan menemukan NPK itu di pasaran. Pekebun itu memang mesti repot mengoplos NPK sendiri ‘ sesuai kebutuhan tanaman.

Suplemen Tambahan

Pemanfaatan suplemen atau zat perangsang pertumbuhan/pembuahan yang tepat terbukti mendongkrak produksi. Cara itu ditempuh Ir Mugiharjo. Pekebun di Tegalwangun, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, rutin memanfaatkan suplemen berbahan aktif asam humik dan asam folat. Fungsinya memperbaiki struktur tanah dan penyedia hara bagi tanaman.

Pemberian pertama 1 bulan usai penanaman. Frekuensinya 1 pekan sekali berdosis 1 gelas per tanaman. Ketika tanaman berbunga, frekuensi ditingkatkan 2 kali sepekan. Dengan cara itu fruitset-bunga yang berhasil menjadi buah-lebih banyak. Wajar jika Sarjana Pertanian alumnus Universitas Negeri 11 Maret Surakarta itu memanen 15% lebih banyak.

Membicarakan strategi peningkatan produksi cabai, tak lengkap bila tanpa menyinggung Yan Wahyu Nugroho. Pekebun di Malang, Jawa Timur, itu mempunyai jurus jitu untuk mendongkrak produksi. Cabai yang dikebunkannya rata-rata menghasilkan 3-3,5 kg per tanaman. Pantas jika total produksinya menembus angka fantastik: 50 ton per ha. Populasi per ha 15.000 tanaman.

Apa rahasia sukses Yan? “Pilih varietas tepat,” katanya. Maksudnya, jangan memilih varietas dataran tinggi ditanam di dataran rendah atau sebaliknya. Atau sesuaikan dengan ketinggian lahan. Setelah itu seleksi beberapa varietas unggulan. Cara serupa ditempuh Arif Rahayu Pamungkas di Kajoran, Magelang. Yan lebih memilih lahan bekas sawah beririgasi untuk menjamin ketersediaan air. Strategi lain dengan mengatur pemupukan. Siasat yang ditempuh pekebun memang beragam. Namun, tujuannya satu: meningkatkan produksi sehingga laba yang diraih lebih tinggi.