Sistem Filterisasi: Degup si Jantung Akuarium

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Modelnya mirip rumah siput seukuran kardus mi. Bulat setengah lingkaran dengan pipa pengeluaran mendongak. Isinya kombinasi filter biologi dan mekanik. Fungsi filter itu semakin garang berkat pemasangan ultra violet carbon (UVC) alias biotron. Ia akan membuat alga dan bakteri patogen berpikir seribu kali untuk menetap.

Filter untuk kolam kecil berkapasitas 3.000 sampai 11.0001 air itu mengusung high quality technology. Prinsipnya isap saring keluar. Pipa yang tingginya melampaui batas air itu akan berperan sebagai bak pancuran.

Bacaan Lainnya

Sayangnya barang yang dipopulerkan di Aquarama itu belum bisa dijumpai di tanah air. Peminat filter yang diyakini pembuatnya dapat mempertahankan kualitas air di kolam jangka waktu lama itu, paling paling dapat membelinya di negara tetangga, Singapura.

Filter Murah tapi bagus

Filter selalu menjadi incaran para hobiis ikan hias. Maklum peran utamanya mengubah senyawa berbahaya hasil dekomposisi kotoran dan sisa pakan tidak dapat tergantikan. Pemelihara ikan tanpa filter ibarat menyuruhnya mati. Sebab itu filter sering dijuluki hearts of the Aquarium.

“Dari semua aksesori, filter yang banyak dibeli,” ujar Suryo Budianto di Surabaya. Menurut penjual besar aksesori di bilangan Wonorejo itu, filter akuarium lah terbesar. Maklum banyak hobiis yang memiliki akuarium daripada memiliki kolam. “Akuarium kan tak perlu tempat besar. Bisa diletakkan di dalam rumah,” ujar Suryo.

Menurut pemilik Modem Aquarium itu penjualan filter akuarium paling kencang terjadi saat lou han ngetren selama periode tahun ini. Setiap pekan lebih dari 1.000 filter aneka ukuran dan merek habis dipesan hobiis dan pedagang di kota kota Indonesia Timur seperti Balikpapan, Samarinda, dan Bali. Harga filter bervariasi tergantung ukuran dan kapasitas. Termurah Rp25.000; termahal, Rpl 50.000 sampai Rp250.000.

Namun, kini penjualan filter akuarium menurun hingga 75% seiring pudarnya lou han. “Dulu yang berharga mahal juga dibeli, sekarang yang dicari yang berharga murah,” tutur alumnus Universitas Surabaya itu. Hal senada diucapkan Yoyo dari Lou Han Strore di sentra penjualan ikan hias Kelapagading, Jakarta Barat. “Sekarang hobiis memilih membeli power head filter nya saja. Harganya Rp 15.000 sampai Rp20.000,” ujarnya. Power head filter adalah alat pompa yang menyedot air ke saringan filter.

Toh, meski menurun tetapi tetap diakui penjualan filter akuarium menempati urutan teratas. “Setidaknya seminggu bisa terjual 8 10 filter,” ujar Alex dari Exotic Aquarium di Jakarta Barat. Meski yang dibidik hobiis yang murah, tapi soal kualitas mereka pilih pilih. Beberapa merek pilihan antara lain; Resun, Boyu, Jeco, Altman, dan Aquila.

Mahal tetap diminati


Meski pasar filter akuarium cukup besar, tapi filter filter kolam berharga jutaan hingga ratusan juta rupiah tetap ada peminatnya. Mereka hobiis berkocek tebal dan memiliki klangenan berharga mahal seperti koi. “Orang orang seperti ini tak sayang membuang uang untuk filter mahal yang diimpor, asalkan ikannya tetap tampil prima,” ujar Suryo.

Setiawan Hardi misalnya merogoh kocek hingga Rp80 juta untuk membuat sistem filter biologi mekanik yang akan menyaring air di kolam bervolume 3.0001. Cara kerjanya, air kotor dari kolam dipompa masuk ke bak bak berisi berbagai media penyaring seperti kassa, bioball, dan zeolit. Air yang sudah terbebas dari amonia itu masuk kembali ke dalam kolam secara gravitasi melewati bebatuan yang mendongkrak oksigen terlarut. “Meski mahal tapi hasilnya memuaskan,” ujar ayah 2 putri di Sunter, Jakarta Utara, itu.

Pemanfaatan teknologi komputer dipakai Erick Jonathan untuk mengatur sistem filter koi di kolam berkapasitas 40 ton. Sistem vortex yang dipakai Erick menggunakan 8 bilik yang tersusun seri. Dari bilik bilik itu setiap 4 jam, 5% air kolam terganti secara otomatis dan terkomputerisasi. “Sistem pengolahan mirip air PAM,” ujarnya. Untuk filterisasi Erick tak segan segan mengucurkan dana hingga Rp400 juta.

Meski kebanyakan produk filter berasal impor, tapi belakangan buatan lokal pun mencoba menerobos. “Buatan lokal masih bisa bersaing dengan impor,” papar Herman Oei di Bumi Serpong Damai. Pengusaha ikan hias eksotik itu kini mulai meluncurkan filter akuarium sederhana. Filter yang didesain tegak dengan selimut busa dan selang sebagai sumber oksigen bahkan kini sedang dicoba ditawarkan ke Singapura.

Pos terkait