Solusi Alternatif Mengatasi Kendala Pemasaran Jamur

Berawal dari sulitnya memasarkan jamur, dibentuklah Koperasi Supa Fajar Mas (KSFM). Dengan “bersatu” 20 orang pemain baru jamur tiram dan kuping itu memiliki posisi tawar yang baik. Sejak dibentuk akhir 1998, segala masalah bisa diatasi …

Berawal dari sulitnya memasarkan jamur, dibentuklah Koperasi Supa Fajar Mas (KSFM). Dengan “bersatu” 20 orang pemain baru jamur tiram dan kuping itu memiliki posisi tawar yang baik. Sejak dibentuk akhir 1998, segala masalah bisa diatasi dengan beragam alternatif. Salah satunya menciptakan produk olahan.

Ketika mengawali usaha jamur, 20 orang peserta pelatihan wirausaha Depnaker-LPM IPB sempat kelabakan. Pasalnya mereka membangun 6 kumbung, tapi tak tahu jalur pemasarannya.

Akhirnya dibentuklah sebuah koperasi yang bertugas ganda. Menyediakan sarana produksi dan bibit, sekaligus menampung produk dan memasarkannya.

Banyaknya Pemain Baru Membuat Saturated market

Setelah bersatu, mereka jadi mudah melempar produk. Tak hanya itu, para anggota koperasi punya alternatif kala menemui kendala lain. Misalnya ketika harga berfluktuasi naik turun tak karuan.

Kasus anjloknya harga jamur tiram sampai titik terendah pernah teijadi. Harga yang semula menyentuh angka Rp7.000/kg, lantas menukik hingga Rp1.800/kg.

Pemicunya, makin banyak pemain yang masuk akibat tren bertanam jamur yang sedang naik daun. Selain itu, didirikan sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang yang sama. Hal ini makin memperburuk keadaan. Harga jamur tiram di pasar turun drastis.

Dampaknya, hampir seluruh petani jamur di Bogor kelimpungan, termasuk anggota KSFM. Produksi terus menumpuk, tetapi harga masih belum bergerak naik.

Sebulan setelah kondisi tersebut, para pengurus KSFM berhasil menemukan jalan keluar. “Timbul ide mengolah jamur menjadi jamur instan,” kata Endhi Pujosanyoto. Pasar ini dirasa masih baru dan belum banyak yang meliriknya.

Pertimbangan lain, tiram hanya berumur 1 sampai 2 hari, sehingga tidak mampu menjangkau pasar lebih luas. Beranjak dari sana, produk tersebut harus dikembangkan menjadi makanan yang bisa berumur lama.

Selain itu, “Masyarakat perkotaan butuh sesuatu hal yang praktis,” jawab lulusan Teknik Industri IPB itu. Produk-produk pangan dengan konsep cepat relatif mudah diterima. Seperti halnya produk bumbu dan mi instan.

Beranjak dari ide itu, mereka langsung mengadakan penelitian cara olahnya. Uji coba ini dilakukan sekitar Oktober 1999. “Dibuat dengan minimalis proses hingga tidak mengurangi dan menghilangkan kandungan gizi yang ada,” ujar Maryono Utomo, pemasaran KSFM.

Produksi Jamur Makin Terkatrol

Dengan alternatif ini, produksi jamur tiram segar yang berlimpah bisa diatasi. Daya tahan yang semula 1 sampai 2 hari bisa diperpanjang hingga 3,5 bulan. Di samping itu, jamur tiram segar yang banjir di pasaran bisa ditahan.

Apalagi dengan pengurangan produksi yang dilakukan perusahaan besar jamur tiram lain. Hal itu makin mempengaruhi jumlah jamur yang beredar di pasar. Harga pun beranjak naik. Dari Rp 1.800/kg menjadi Rp4.000/kg. Petani bisa bernafas lagi.

Dari 120g jamur tiram segar setelah diolah jadi 14,5g jamur tiram kering. Jamur tersebut lalu dikemas dalam plastik, bersama bahan lainnya. Di antaranya bumbu soto, soun, bawang goreng dan seledri kering.

Dengan’Tormasi” ini, produk yang diberi merek “Sayur Mas” bdrmenu Soto Jamur Tiram dipasarkan. Harga jualnya Rpl.650. “Harga pokok produksinya Rpl.450,” ujar Endhi.

Saat ini penjualan koperasi yang berkantor di Loji, Bogor ini mencapai 350 bungkus/hari. Pemasaran dipusatkan ke daerah Bogor dan Depok. “Kini melayani permintaan 17 swalayan,” tambah Endhi.

Respon pembeli ternyata cukup positif. Hal tersebut sesuai dengan hasil survey. “Dari uji rasa ke-55 responden, 98.1% menyatakan suka dan enak, bahkan banyak yang tertipu, disangka ayam padahal jamur,” jelas Endhi.

Dengan keseriusan para pengurus dan anggota koperasi, usaha tersebut kini makin berkembang.

Dari 6 kumbung saat ini bertambah menjadi 15 kumbung. Anggotanya pun telah membengkak sampai 37 petani. “Mereka tersebar di kodya dan kabupaten Bogor,” tutur Endhi.

Kualitas Jamur Tetap Terjamin

Meski olahan, KSFM terkesan ketat dalam hal menjaga mutu. Bibit misalnya, harus berasal dari koperasi. “Karena dari bibit inilah standar mutu bisa dipertahankan,” kata Endhi. Ia mengaku bisa membedakan jamur tiram asal KSFM dengan jamur lainnya.

Tak hanya di bibit, ketika akan diolah syarat jamur sebagai bahan baku juga harus dipatuhi. “Jamur harus tampak sehat dan bersih, tidak ada cacat atau luka karena dimakan binatang. Juga dilihat kebersihan sekitar kumbung,” papar Maryono. Setelah jamur dipetik lalu di oven hingga kering

Sesudah itu bonggol jamur dibersihkan dan disuir-suir antara 2 sampai 6 bagian tergantung besarnya. Jamur digoreng dengan minyak panas dalam waktu singkat. Tiriskan selama beberapa jam, lalu dikemas bersama bahan lain.

Bumbu soto sebelumnya disterilisasi ulang, lalu dipak. Cara pengepakan harus hati-hati karena dapat mempengaruhi kualitas dan daya tahan produk

Saat ini KSFM juga menjajaki produk olahan lain, seperti abon tiram. Dengan diversifikasi ragam olahan, diharapkan pangsa pasarnya bisa terus berkembang. Jadi, para petani tak lagi hanya bergantung pada pasar jamur segar saja.

Document Last Updated on 7 November 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.