Sterilisasi Lahan Tanah Budidaya Strawberry

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Kebun stroberi

Tiga tahun sudah PT Mustika Nusantara Abadi (MNA) meninggalkan methil bromida untuk sterilisasi tanah. Sebagai gantinya salah satu produsen strobesi terbesar itu memanfaatkan methan sodium. Setidaknya Rp78-juta dihemat untuk pencucian tanah per ha. Padahal, anak perusahaan Kalbe Parma itu mengelola 12 ha.

Interval pemberian methan sodium setiap satu siklus penanaman berlangsung 30 bulan. Untuk luasan 1 ha, pioner pengembangan stroberi di Indonesia itu membutuhkan 300-400 liter methan sodium. Biaya yang dikeluarkan hanya Rpl2-juta per ha. Bandingkan ketika sebelumnya menggunakan methil bromida. Produsen stroberi di Bedugul, Bali, itu merogoh kocek hingga Rp90-juta untuk luasan sama. Artinya, terdapat selisih Rp78-juta yang dapat dihemat

Kelebihan lain, mampu meningkatkan daya tahan tanaman dan relatif aman. Sedangkan penggunaan methil bromida mengancam kesehatan. Berbagai gangguan kesehatan seperti sesak napas, pening, dan mendadak buta acapkali terjadi akibat paparan gas itu. Selain itu hasilnya pun bisa diandalkan. “Walau tidak semua organisme pengganggu tanaman mati, tapi serangan penyakit relatif terkendali,” tutur Ir Sahat Haloman Situmeang, penanggung jawab kebun MNA.

Botrytis cineria momok bagi pekebun stroberi pun menyingkir. Serangan berbagai hama yang dapat dikendalikan antara lain ulat ergotes, larva kumbang uret, dan jangkrik. Wajar saja jika hingga kini produk MNA dikenal berkualitas dan dicari pasar.

Kelembapan Tanah Yang pas

ladang strawberry
Kelembapan Tanah

Meski demikian, bukan berarti penggunaan methan sodium tanpa kekurangan. Menurut Sahat Haloman kemungkinan terserang penyakit tetap ada. Namun, menurut alumnus Institut Pertanian Bogor itu tak perlu dikhawatirkan. Di samping itu penggunaan methan sodium kurang efektif bila sebelumnya tanah pernah terinfeksi virus atau bakteri. Penggunaannya pun bisa diaplikasikan pada tanaman lain. Bahkan kini cara itu banyak diikuti oleh pengusaha stroberi lain.

Sebelum sterilisasi berlangsung, tanah diolah dengan traktor. Tanah dibalik dengan kedalaman hingga 30 cm. Kemudian pupuk kandang dan kapur ditebarkan di atasnya. Agar tepat dosis, sebelum pemberian methan sodium MNA melakukan kalibrasi. Caranya traktor yang mengangkut drum berisi air berkeliling lahan. Air menetes perlahan melalui lubang-lubang sepanjang pipa yang melintang di bawah traktor. Jumlah air yang habis menunjukkan dosis methan sodium yang diperlukan.

Begitu dosis diketahui, barulah methan disemprotkan. Untuk luasan 1 ha dibutuhkan sekitar 300-400 liter. Bahan itu lantas dicairkan dalam 1.600-1.700 liter air sehingga diperoleh larutan 2.000 liter yang disemprotkan ke seluruh permukaan lahan seperti saat kalibrasi. Lantaran methan sodium diberikan dalam bentuk cair, kelembapan mesti dipertahankan pada kisaran 60-70%. Maksudnya agar larutan berubah menjadi gas.

Tahap pengetesan dan percobaan

Setelah itu kelembapan ditingkatkan menjadi 80%. Harapannya gas yang terbentuk dari cairan meresap ke dalam tanah. Jika kelembapan kurang dari itu, gas yang terbentuk menguap ke udara. MNA menjaga kelembapan dengan mengalirkan air melalui sprinkel yang diatur dengan jarak tertentu.

Dua hari setelah aplikasi, bedengan dibuat, dilanjutkan pemasangan mulsa plastik. Saat itu diasumsikan racun telah bereaksi dan tidak menyerang tanaman. Untuk memastikan racun hilang, Sahat mencoba dengan menanam benih polong-polongan. Jika benih berkecambah dan tumbuh, berarti pada hari ke-5 lahan bisa ditanami stroberi.