Tanaman Gunung Incaran Para Eksportir

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
andalan ekspor

Order sebanyak 1 ton gula aren setiap pekan baru dipenuhi ling sepertiganya. Pengepul di Desa Cikuya, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya, itu harus pontang-panting mencari pasokan gula. Keluar-masuk kampung sudah menjadi pekerjaan rutin. “Barang sedikit sehingga jadi rebutan bandar,” ujarnya.

Kesulitan mendapatkan arenga sugar itu beralasan. Di sana saja ada 5 pengepul lain yang juga mengincar gula. Serapan mereka rata-rata setara. Padahal, jumlah pekebun di daerah itu hanya hitungan jari. Itu pun produksinya terbatas. Contoh, Mamat Rohimat hanya bisa memproduksi 30 kg/ minggu. Hasil sebanyak itu diperoleh dari 7 pohon yang dikhususkan diambil niranya.

Sebetulnya mantan Polisi Desa itu memiliki 600 pohon di areal seluas 2 ha. Dari jumlah itu 50 pohon sudah berproduksi dan sebagaian besar untuk diambil kolang-kalingnya. Rohimat tertarik mengebunkan aren karena alasan, “Pemasaran gampang, pengepul datang sendiri menjemput barang,” ujarnya. Karena barang langka, ling pun tak mensyaratkan kualitas gula. “Tak ada standar mutu, yang penting gula aren kering pasti diterima,” kata pengepul sejak 2 tahun silam.

Serapan gula terbanyak untuk industri kecap dan pemanis minuman segar. Mereka memilih gula aren lantaran aroma lebih tajam dibanding gula kelapa. Menurut Bambang Supriyadi, ketua Asosiasi Gula Kelapa Jawa Tengah, peluang pasar gula aren sangat besar. Gula aren diminati karena, “Kadar sukrosa rendah, 0,7% sehingga cocok untuk penderita diabetes,” ujarnya.

Peluang ekspor

Tak hanya pasar lokal, gula aren juga berpeluang ekspor. Lihat saja, volume ekspor gula aren meningkat setiap tahun. Pada 2001 tercatat 677.078 kg diekspor ke mancanegara dengan nilai US$368.190. Setahun sebelumnya 479.542 kg. Negara tujuan eskpor antara lain Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Bambang pernah mendapat order dari eksportir di Jakarta sebanyak 15 ton/bulan. Gula aren dikirim ke Timur Tengah. Namun, “Gara-gara perang teluk order distop,” ujar pengusaha di Banjarnegara, Jawa Tengah itu. Meski begitu ia tak kehilangan pasar. Sebab, permintaan di pasar lokal tak terbatas.

Gula semut gula aren berbentuk serbuk juga diminati pasar luar negeri. PT Puma Sentana Baja, anak perusahaan PT Krakatau Steel itu mengirim 4 kontainer atau setara 80 ton ke Nissin Sugar Co. Ltd di Jepang setiap bulan. Untuk memenuhi order sebanyak itu bukan pekerjaan mudah. Eksportir di Cilegon, Serang, itu harus mencari gula aren hingga Rangkasbitung, Cianjur, bahkan Banjarnegara. “Harga yang ditawarkan importir US$l,2/kg. Sayang, order itu mandeg setahun silam karena bahan baku kelewat sulit didapat,” ucap Sardi, bagian perdagangan.

Beragam produk

Gula cetak dan serbuk hanya sebagian kecil hasil olahan pohon yang tumbuh di lereng-lereng gunung itu. Banyak produksi yang bisa diambil dari aren. Sebut saja, batangnya pun laku dijual untuk dibuat tepung. Miharto, misalnya yang menggeluti usaha pengolahan tepung di Kampung Siluman, Desa Sadahayu, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Pengusaha sejak setahun silam itu memproduksi tepung batang aren 300-400 kg/hari. Tepung dijual ke pengepul di Majenang Rp9.000/kg.

“Itu baru sebagian kecil dari kebutuhannya yang mencapai 1 ton. Sayang bahan baku sudah sulit didapat,” ujarnya. Menurut perhitungan Miharto pohon aren setinggi 8 m atau berumur 10 tahun bisa menghasilkan 300 kg. Bahkan bisa lebih, tergantung kandungan sari pati.

Produk lain yang patut dilirik ialah ijuk. Menurut Hengky Navarianto, ahli peneliti madya di Balai Penelitian Kelapa Manado volume ekspor ijuk meningkat setiap tahun. “Pada 1990 telah diekspor ijuk sebanyak 821.007 ton dengan nilai US$ 1,886,457,” ujarnya. Di sana ijuk dimanfaatkan untuk jok mobil mewah dan pelapis kabel di laut.

Buahnya berupa kolang-kaling menjadi menu utama berbuka puasa di bulan Ramadhan. Buah putih mirip batu cincin itu sangat lezat ketika dibuat kolak atau campuran es serut. Tak hanya di tanah air, kolang-kaling disukai masyarakat mancanegara. Beberapa perusahaan mengekspornya ke Timur Tengah setelah dikalengkan dengan label palm seed.

Selain dibuat gula, nira aren sangat potensial sebagai penghasil etanol untuk bahan bakar kendaraan. Setelah masa produktifnya usai, batang kayu dapat diolah menjadi mebel dan kerajinan tangan. “Batang aren mempunyai tekstur khas. Urat-uratnya menonjol sehingga terlihat artistik,” tutur Rohimat.

Gula Aren
Pohon penghasil uang

Berkurang

Sayang, peluang yang cukup besar itu belum direspon pekebun. Penanaman aren selama ini hanya sebatas usaha sampingan. Wajar bila populasi Arenga pinnata itu dibeberapa sentra malah menurun, seperti di Banjarnegara, Cilacap, dan Tasikmalaya. “Pekebun cenderung menebang pohon berumur 5-6 tahun untuk diambil batangnya lalu dijual,” kata Joko Cahyono, kepala seksi perkebunan, Dinas Pertanian Banjarnegara.

Oleh karena itu pihak terkait tengah melakukan pengembangan. Berbagai kendala di lapangan berupaya diatasi. Misalnya, untuk memecah masa dormansi yang terlalu lama, 1 tahun, Dinas Perkebunan telah mengaplikasikan hasil penelitiannya. Dengan temuan baru itu untuk mengecambahkan benih hanya butuh waktu 3 bulan. “Keberhasilannya di atas 60%,” ujar Joko. Selain itu kini ditemukan pohon induk yang menghasilkan nira di atas 20 liter/pohon/hari.

Sayang, begitu bibit ditanam banyak yang mati. “Saya pernah mendapat bantuan bibit, tapi tak satu pun yang hidup,” kata Suharyo, pekebun di Sadahayu, Majenang, Cilacap. Menurut pekebun turun temurun itu, tanaman yang ada sekarang tidak sengaja ditanam. Termasuk 100 pohon miliknya, tumbuh dengan sendirinya. Penyebaran tanaman aren lewat careuh alias musang, sehingga jarak tanam tak beraturan.

Kendala lain yang dihadapi, teknologi pengolahan nira. Akibatnya, rendemen nira dari masing-masing pekebun berbeda mencolok. Padahal itu sangat penting karena menyangkut pendapatan pekebun. Jika hasilnya sedikit pekebun tak bergairah menanam atau merawat pohon-pohonnya.

Pohon Aren
Bibit tumbuh sendiri,” ujar Sunaryo

Untung Besar

Hasil hitung-hitungan Rohimat, menanam aren menguntungkan. Sebuah pohon mampu disadap selama 7 bulan dalam setahun. Penyadapan berlangsung setiap hari. Dari 7 pohon itu dihasilkan 20 liter lahang alias nira. Setelah diolah, diperoleh 4 kg gula aren.

Harga gula aren saat ini Rp3.000 per kg. Dalam sebulan paling tidak Rp350.000 bisa dikantungi. “Coba kalau 600 pohon, pekebun minimal berpenghasilan Rp3,5-juta/bulan. Toh biaya perawatan hampit tidak ada, paling hanya kayu bakar untuk memproses nira jadi gula,’’paparnya.

Apalagi pertanaman aren bisa ditumpangsarikan dengan tanaman semusim atau tahunan seperti kopi dan nanas. Pestisida praktis tak dikeluarkan (antaran hingga saat ini belum pernah tanaman aren terserang hama atau penyakit.