Tiga Gelar untuk Anggrek Terbaik

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
bunga angrek

Ketika gulungan terakhir penilaian juri dibuka Susono Hadinugroho, ketua panitia, menyebut 07. Sontak tepuk tangan membahana mengiringi kemenangan Angraecum euburnum. Koleksi Santy Peeters yang bernomor 07 itu dinobatkan sebagai anggrek terbaik di Surabaya Orchid Show 2003. Ia mengalahkan Phalaenopsis winter kaala x mount kaala, bernomor 212, koleksi Rizal Djaafarer dengan skor 9:4.

Penentuan grand champion lomba anggrek yang berlangsung di World Trade Centre, Surabaya memang ditentukan lewat sistem tertutup. Ke 13 juri dari berbagai daerah memasukkan suara—anggrek terbaik pilihannya— dalam amplop tertutup. Sistem itu dianggap lebih fair ketimbang sistem terbuka yang selama ini diterapkan. Ke 2 anggrek yang berlaga di babak akhir itu terbaik dari jenis spesies dan silangan. Memang, sejak pendaftaran, kedua anggrek itu terlihat menonjol di antara 216 peserta.

Winter kaala x mount kaala, misalnya, dengan mudah menyisihkan puluhan anggrek hibrida di berbagai kelas. Demikian pula Angraecum euburnum menyingkirkan juara spesies dari berbagai kelas, termasuk Dendrobium spectabile. Anggrek asal Papua itu lumayan menarik lantaran mengeluarkan 7 tangkai dengan bunga prima. Namun, karena angraecum lebih sehat sehingga dipilih sebagai spesies terbaik.

Di partai puncak, penentuan juara berlangsung menegangkan lantaran masing masing berpeluang menang. Pemiliknya pun terbawa suasana. Rizal Djaafarer meski terlihat santai, ternyata mengaku sedikit tegang. Demikian pula Santy yang agak grogi.

Bunga terbalik

Angraecum dinobatkan sebagai juara lantaran sosok bunga aneh, seperti terbalik. “Anggrek seperti itu langka dan jarang,” tutur R.E Alda, juri. Sosok sang juara setinggi 70 cm itu berdaun rimbun dan tersusun rapat. Di pucuk batang 3 tangkai merunduk seolah kedodoran menahan 23 kuntum. Sebelum melaju ke puncak,anggrek asal Amerika Selatan itu terpilih sebagai the best of section dan the best of spesies.

Lawan di partai puncak, Phalaenopsis winter kaala x mount kaala sebenarnya lebih showy. Meski hanya menghasilkan 1 tangkai, tetapi ia bercabang 5 dan masing masing digelayuti 6 sampai 7 kuntum. Dengan total 36 kuntum—lebar 10—12 cm silangan Rizal Djaafarer itu amat semarak. Apalagi bunga tebal dengan permukaan putih bersih.

Dengan meraih grand champion, Santy Peeters berhasil mengulang sukses. Pada 2002, hobiis di Jagakarsa, Jakarta Selatan itu juga meraih grand champion lewat cattleya reines des violettes. Waktu itu ia mengalahkan Dendrobium densiflorum, juga koleksi Santy. Kegembiraan pemain Ketoprak Humor itu bertambah lantaran ia juga memboyong 16 penghargaan dari 26 tanaman yang disertakan. Sedangkan Rizal bisa tersenyum lantaran 12 dari 17 anggrek yang dilombakan meraih juara.

anggrek juara
Sang juara, bunga terbalik

Baru dan unik

Ajang Surabaya Orchid Show 2003 itu diikuti 216 anggrek dari berbagai daerah. Mereka datang dari Magelang, Jakarta, Bandung, Malang, Bali, dan Surabaya.

Selain sang juara, beberapa anggrek unik cukup menarik animo pengunjung. Misal, Paphiopedilum koopowitz koleksi Regar Orchid dari Bandung. Anggrek kantung semar itu berpetal menjuntai 20 cm dan melintir. Itu mengingatkan pendekar Cina yang berkumis tipis menjuntai. Catasetum orchidglode ‘jack of diamond’ koleksi Lila Natasaputra dari Salatiga, tak kalah aksi. Bunganya yang merah menjuntai laik tampah bertopi.

Yang tak kalah menarik, oncidium motif baru. Oncidium chane koleksi Santy Peeters tampil berani dengan warna merah bergaris putih. Juga bisa disimak cattleya netrasiri star bright milik Royal Orchid. Tangkai ratu anggrek itu digelayuti 17 kuntum bunga berwarna merah cokelat. (Syah Angkasa)