Tingkatkan Produksi Pertanian Dengan Sistem Tanam Jajar Legowo

Tingkatkan Produksi Pertanian Dengan Sistem Tanam Jajar Legowo

Kini, upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, namun hal ini masih belum cukup. Untuk meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan, diperlukan inovasi teknologi agar usahatani lebih efisien. Salah satu alternatif teknologi yang dapat diterapkan adalah dengan menggunakan sistem tanam jajar legowo. Pada sistem ini, jarak tanam antar rumpun dan antar barisan dikontrol serta pemadatan rumpun padi dalam barisan dilakukan. Selain itu, jarak antar barisan juga melebar sehingga seolah-olah rumpun padi berada di barisan pinggir. Hal ini memberikan manfaat sebagai tanaman pinggir (border effect). Selain itu, teknologi ini juga dapat meningkatkan hasil produksi dengan meminimalisasi kerugian akibat kerusakan hama dan penyakit tanaman. Kebutuhan pangan yang semakin meningkat menyebabkan pertanian di Indonesia semakin maju dengan diterapkannya berbagai teknologi budidaya padi yang inovatif. Misalnya, sistem tanam benih langsung, sistem tanam tanpa olah tanah, dan sistem tanam Jajar Legowo. Keuntungan dari teknologi tersebut adalah mengurangi risiko kerusakan akibat serangan hama, penyakit, dan gulma. Kegiatan budidaya padi meliputi berbagai tahapan seperti pembibitan, persiapan lahan, pemindahan bibit/tanam, pemupukan, pemeliharaan, dan panen. Dengan teknologi tersebut diharapkan petani dapat meningkatkan hasil dan pendapatan yang lebih optimal. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas pada jarak tanam rapat adalah: (a) persaingan sinar matahari antar individu tanaman, (b) kelangkaan nutrisi dan air akibat perakaran yang intensif, dan (c) serangan penyakit endemik karena kondisi tertentu. Selain itu, juga dapat dipengaruhi oleh kondisi iklim yang tidak sesuai, penggunaan pupuk yang terbatas, dan kondisi lahan yang kurang subur. Dengan demikian, strategi pengelolaan yang tepat dapat membantu meningkatkan produktivitas tanaman dalam jarak tanam rapat. Jajar legowo adalah cara tanam jagung yang memiliki pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan di dalam barisan. Berbagai tipe legowo yang dapat diterapkan adalah (2:1), (3:1), (4:1), (5:1), (6:1). Namun, tipe terbaik untuk mendapatkan produksi bongkol jagung tertinggi adalah legowo 4:1, sedangkan untuk mendapat bibit jagung berkualitas benih adalah legowo 2:1. Jarak tanam yang dipakai secara umum adalah 20 cm dan bisa dimodifikasi menjadi 22,5 cm atau 25 cm.

Pengingkatan hasil panen

Gunaryo kewalahan karena panen jagung 3 musim tanam terakhirnya mencapai 6 ton jagung kering pipil, setara 12 ton per ha. Ini merupakan peningkatan 25% dibandingkan panen-panen sebelumnya (3,5-4,5 ton). Gunaryo mencapai hasil ini dengan mengebunkan jagung hibrida varietas Asia Gold 77, tanam berjarak 80 cm x 20 cm, memberi pupuk kandang fermentasi pada awal tanam, dan memupuk campuran Phonska dan Urea dengan perbandingan 2:1 sebagai pupuk dasar. Gunaryo kembali memberikan pupuk itu ketika tanaman berumur 25-35 hari dan umur 40-50 hari. Dosis per tanaman 3-4 gram, la tidak perlu menyemprotkan pestisida lantaran pertumbuhan jagungnya bandel.

Mengenal sistem tanam jajar legowo

Sistem tanam jajar legowo (tajarwo) adalah pola tanam berselang-seling antara dua baris padi atau lebih dan satu baris kosong yang memperhatikan susunan tanaman. Tujuan Sistem tanam jajar legowo adalah untuk mempertahankan dan memperluas, populasi tanaman per satuan luas.

Keuntungan Menggunakan sistim jajar legowo

Berikut ini adalah beberapa keuntungan menggunakan sistem jajar legowo:

  1. Sebagai permulaan, Lahan yang memiliki lebih banyak ruang di antara dua kelompok barisan tanaman akan memungkinkan lebih banyak sinar matahari untuk mencapai setiap rumpun tanaman padi. Pengaturan ini akan meningkatkan aktivitas fotosintesis, menghasilkan produktivitas tanaman yang lebih tinggi.
  2. Kedua, sistem jajar legowo memudahkan petani dalam memantau pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, serta pengendalian tikus.
  3. Ketiga, penambahan jumlah tanaman di kedua sisi setiap set legowo berpotensi mendongkrak produksi tanaman dengan meningkatkan produksi.
  4. Keempat, petani dapat membuat sistem produksi padi-ikan (mina padi) atau kombo nasi-ikan-bebek.
  5. Kelima, meningkatkan produksi beras sebesar 10-15%.

Penerapan sistem tanam jajar legowo

Pada musim tanam berikutnya Gunaryo akan menerapkan teknik budidaya jajar legowo. la yakin produksi bakal lebih tinggi. Gunaryo paham benar cara tanam jajar legowo, yakni 2 baris tanam dan 1 baris kosong, begitu berselang-seling. Jarak antar baris tanam dan baris kosong 80 cm dan 40 cm. Adapun jarak antarbaris tanam hanya 40 cm. Teknik jajar legowo sejatinya bukan hal baru, terutama bagi para petani padi. Namun, bagi sebagian besar petani jagung kering, teknologi itu relatif baru. Menurut ahli jagung dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, Drs Muhammad Iskandar Ishaq MP, “Sebetulnya jajar legowo itu kearifan lokal petani.” Iskandar mengatakan, penerapan jarwo alias jajar legowo meningkatkan populasi tanaman anggota famili Poaceae itu. Dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm per 10.000 m2 atau 40.000-50.000 tanaman per ha untuk jagung berumur panjang, 105-120 hari. Bila berumur genjah, 80-90 hari, populasi 80.000-90.000 tanaman. Bandingkan dengan sistem budidaya pertanian jagung konvensional, populasi hanya 30.000 tanaman per ha. Akibat populasi meningkat, produksi pun terdongkrak hingga 25%. Namun, sejatinya peningkatan produktivitas tanaman asal Meksiko itu bukan semata-mata karena populasi yang melonjak. Menurut Drs Muhammad Iskandar Ishaq MP peningkatan produktivitas juga karena pengaruh proses fotosintesis. Hasil Pengamatan Mitra Usaha Tani , Teknik jajar legowo mengesankan tanaman seolah-olah di bagian tepi lahan yang mendapat sinar matahari berlimpah. Karena tanaman mendapat sinar matahari lebih banyak sehingga mampu berfotosintesis secara maksimal. Hasilnya, produksi tongkol lebih berbobot. Gunaryo memetik hanya satu tongkol per tanaman. Namun dengan populasi padat pria 40 tahun itu memperoleh total 6 ton per 0,5 ha jagung pipil-tanpa bonggol. Ketika panen terakhir pada Oktober 2014, harga jagung pipil Rp 2.700-Rp 4-000 per kg pipil. Omzet pekebun jagung sejak 2009 itu mencapai Rp 32.400.000 dalam 3,5 bulan. Laba bersih Gunaryo Rp 8.500.000 per musim tanam. Itulah sebabnya ia berhasrat terus mengebunkan Zea mays. [caption id=”attachment_16121” align=”aligncenter” width=”640”]jajar legowo jagung
Penambahan populasi meningkatkan produksi 10-25% Penambahan populasi meningkatkan produksi 10-25%[/caption]

Cara Yang Terbukti Ampuh

Kombinasi sistem tanam jajar legowo dan varietas unggul baru terbukti efektif meningkatkan produktivitas jagung. Periset dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta, Eko Srihartanto dan Sri Wahyuni Budiarti bekerja sama dengan Suwarti dari Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros membuktikannya secara ilmiah. Mereka meneliti lima varietas berbeda produksi perusahaan di Indonesia. Para periset itu menanam bibit mengikuti lajuryang sudah ditetapkan, yaitu 1: 2,1: 3,1: 4, atau 1: 5. Pola 1: 2 artinya setiap satu lajur saluran air, terdapat 2 lajur tanaman dan seterusnya. Jarak tanam bervariasi, antara lain 80 cm x 40 cm x 20 cm untuk 1 biji per lubang tanam. Pilihan lain jarak 80 cm x 40 cm x 40 cm yang terdiri 2 biji per lubang tanam), dan (100 cm x 40 cm x 40 cm) 2 biji per lubang). Agar tanaman jagung tumbuh baik, mereka memupuk organik 2 ton, Urea (450 kg) dan NPK phonska (325 kg) per ha. Hasil pengkajian menunjukkan produktivitas tanaman yang dibudidayakan berjarak tanam 100 cm x 40 cmx 20 cm mencapai 6,8% atau 10,55 ton per ha. Itu produksi tertinggi. Penggunaan teknologi jajar legowo dan varietas baru memang menjadi salah satu strategi untuk mendongkrak produksi. Menurut Yasin H. Gafar, peneliti jagung di Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) Maros, Sulawesi Selatan, syarat utama untuk meningkatkan produksi jagung yaitu menanam varietas baru, baik yang bersari bebas, atau pun hibrida. Tanpa varietas baru produksi jagung hanya 5-6 ton per ha. [caption id=”attachment_16120” align=”aligncenter” width=”510”]teknik jajar legowo
Pemakaian varietas baru mutlak untuk panen 12-14
ton/ha Pemakaian varietas baru mutlak untuk panen 12-14 ton/ha[/caption]

Kunci Keberhasilan

Kunci lain untuk meningkatkan produktivitas adalah penggunaan pupuk yang tepat. “Beberapa petani di Kediri dan Banyuwangi, mampu memetik 13-14 ton per ha per musim,” kata Yasin. Mereka memanfaatkan pupuk kandang fermentasi. Kotoran ayam disemprot dengan mikrobakteri, misal EM 4 atau Starbio, lalu ditutup rapat dengan terpal selama 1-2 pekan. Setelah terurai, pupuk fermentasi siap diberikan ke tanaman sebagai pupuk dasar. Setelah itu berikan pupuk fermentasi pertanian jagung setiap bulan di antara 2 tanaman sebanyak 2 genggam atau 400-500 g. Selain pupuk organik, Gunaryo juga rutin memberikan Urea dan phonska dengan dosis 400-600 kg per musim tanam yang diberikan per bulan. Peningkatan produksi menjadi jawaban atas tingginya permintaan pasar. Permintaan jagung meningkat seiring pemanfaatannya yang kian beragam. Kini muncul beragam olahan baru jagung kering seperti tepung, susu, dan produk kesehatan. Pemanfaatan hibrida unggul baru, jajar legowo, dan pemupukan tepat diharapkan mampu meningkatkan produktivitas.

Share on:

Yudianto
Yudianto Yudianto, penulis aktif di Budidayatani dan Mitrausahatani.com, memiliki hobi di bidang pertanian. Ia sering menulis artikel terkait teknik budidaya tanaman dan usaha tani, berkontribusi untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan dan inovatif.
comments powered by Disqus