Tracking Pergerakan Penyu melalui satelit

Laut Mindanau yang menghampar luas itu beriak pelan. Sang surya yang baru meninggi di ufuk barat laut di Filipina itu menyisakan gumpalan awan cerah. Pagi itu, 26 Juli 2006, di tengah lautan luas yang biru, sebuah titik hitam muncul di atas permukaan laut. Titik bertahan selama beberapa detik sebelum menghilang.

Nun di Maryland, Amerika Serikat, terpaut jarak ribuan kilometer, satelit National Oceanic & Atmospheric Administration (NOAA) milik US Department of Commerce menangkap pancaran sinyal titik itu setiap kali noktah hitam itu naik ke permukaan. Satelit yang dipakai untuk kepentingan lingkungan seperti pengamatan ekosistem, iklim, dan cuaca itu, sudah bekerja lebih dari sebulan untuk memantau setiap perpindahan gerak titik itu. Saat tertangkap satelit, waktu setempat menunjukkan pukul 08:34:28 GMT.

Titik hitam itu adalah seekor penyu hijau betina yang diberi nama Putri Derawan. la naik ke permukaan untuk menghirup udara karena bernapasdengan paru-paru. Embel-embel Derawan melekat karena Chelonia mydas itu berasal dari Pulau Derawan surga penyu hijau di Kalimantan Timur. Setelah susah-payah bertelur, ia terpilih memanggul transmiter alias pemancar di karapas. Transmiter itu dipasang untuk memantau arah perginya. Maklum tempat bertelur dan mencari pakan penyu lokasinya berbeda. Sebelum dilepas ke lautan, “Penyu perlu menginap selama 2 hari agar lem resin transmiter itu benar-benar kering,” kata Dewi Satriani, koordinator komunikasi World Wildlife Fund (WWF) Indonesia di Kuningan, Jakarta Pusat.

Setelah dilepas ke lautan, Putri Derawan terus dipantau dengan satellite tracking itu. la berkelana mencari pakan hingga jarak 720 km dan berenang di kedalaman laut kurang dari 500 m. Satelit NOAA setidaknya menangkap 11 kali pancaran sinyal dari Putri Derawan selama 42 hari menjelajah. Di Laut Mindanau itu sinyal terlacak hingga berhari-hari. “Ternyata di sanalah lokasi feedingground-rvya”ujar Dewi. Sejak itu pantauan satelit diputus. Maklum biaya sewa satelit selama pelacakan mencapai jutaan rupiah.

Program Bersama Kelautan Berau

Selain Putri Derawan, melalui Program Bersama Kelautan Berau WWF-TNC, transmiter dipasang pada 2 penyu hijau betina lain, Putri Berau dan Putri Hijau. Saat dilepas hingga 10 hari pertama, Putri Berau terpantau berputar-putar di perairan Pulau Derawan. Setelah itu ia berenang jauh ke utara menuju perairan Malaysia. Putri Berau menempuh jarak sejauh 212 km. Pengembaraan Putri Hijau tercatat paling jauh. Sampai satelit NOAA menangkap sinyal terakhir pada 26 Juli 2006 pukul 08:35:51 GMT dari ujung utara Sabah, Malaysia, ia sudah mengarungi lautan sejauh 925 km.

Penyu hijau memang paling mudah dipantau karena populasinya lebih banyak daripada penyu belimbing Dermochelys coriacea, penyu lekang Lepidochelys olivacea, dan penyu sisik Eretmochelys imbricata. Pemasangan transmiter pun jauh lebih mudah pada penyu hijau. Penyu belimbing karena bentuk karapasnya mirip belahan belimbing sehingga transmiter harus dipasang seperti memakai ransel.

Penyu belimbing pernah terpantau bertelur di Papua sebelum mengembara mencari pakan hingga Hawaii, Amerika Serikat. Dugaannya karena bertubuh lebih besar ia lebih tangguh saat mengarungi luasnya lautan. “Sejauh ini di antara penyu, jenis belimbing diketahui paling jauh perpindahannya,” kata Dewi.

Meski demikian tiga penyu hijau betina asal Pulau Derawan itu bernasib mujur. Teman-teman lainnya yang suka mengembara sering secara tak sengaja tertangkap kail dan jala nelayan atau kapal penangkap ikan. Tajamnya mata kail itu melukai mulut dan tubuh penyu. Namun, nelayan biasanya tak peduli karena itu bukan ikan buruan. Mereka akan membuang penyu itu hidup atau mati ke laut. “Dari catatan Observer on Boat kami selama 6 bulan pelayaran dengan kapal tuna ke Samudera Indonesia bisa terjala 300 penyu,” kata Dewi. Itu sungguh mengenaskan.

Ada kejadian unik selama pemantauan WWF Indonesia pada 2005. Seekor penyu hijau bertransmiter tampak berpindah cepat sekali dari satu lokasi ke lokasi lain dalam pantauan satelit NOAA. Yang mengherankan, satelit membaca gerak perpindahan penyu itu justru antarpelabuhan! Dengan demikian pasti sang penyu sudah terperangkapjala penangkap ikan.

Transmiter pelacak penyu

Satelit NOAA
Satelit NOAA yang dipakai untuk melacak penyu

Teknologi transmiter untuk mengetahui pola migrasi penyu jarang digunakan lantaran butuh biaya tinggi. Cara termurah untuk mengamati perpindahan penyu sekaligus sensus populasi dengan tagging. Hal ini sudah diterapkan di semua negara yang memiliki habitat penyu seperti Indonesia, Malaysia, Kepulauan Solomon, dan Papua Nugini.

Penyu hijau asal Indonesia pernah mendarat di Darwin Australia. Pada besi tagging antikarat terdapat tulisan: KKH PHPA Jakarta Indonesia Faks#62215720227 dan sederet nomor registrasi yang berurutan.”Sejauh ini, itu laporan perpindahan penyu paling jauh,” kata Andi Budiono, pengendali ekosistem hutan (PEH) Taman Nasional Merubetiri (TNMB) di Jawa Timur. Hingga 31 Maret 2007 saat Mitra Usaha Tani meliput langsung, nomor registrasi terakhir di TNMB tercatat nomor 430.

Penyematan tagging tidak menyakitkan penyu karena tidak melukai daging, tapi hanya di gelambir atau sirip kiri depan. Prosesnya pun cepat, tak sampai 5 menit. Mula-mula kait besi tagging berbentuk segitiga dibuka. Dengan tang, ujung tagging ditusukkan ke gelambir. Tak ada darah setetes pun keluar dalam proses pen-tagging-an. Setelah itu ke ujung besi tagging dikaitkan sehingga tidak lepas.

MenurutSuhadi Ponihadi, PEH diTaman Nasional Alaspurwo (TNAP) di Jawa Timur, penyu-penyu yang ditagging di Ngagelan pusat penangkaran penyu di TNAP terpantau kembali bertelur di tempat yang sama. “Dari semua penyu yang di-tagging hampir 70% kembali bertelur di sini,” katanya. Penyu memang hewan setia. Di mana ia mendarat dan bertelur, di situ pula ia akan bertelur lagi. Bahkan menurut Dewi Satriani, satu penelitian di Australia mengungkapkan tukik yang menetas akan kembali ke tempat semula saat dewasa sekitar 20 sampai 30 tahun ke depan. “Itu terjadi karena ada masa imprinting memori untuk merekam kondisi lingkungan saat ia ditetaskan,” katanya.

Tagging penyu

Waktu pe-tagging-an setiap jenis penyu berbeda, sangat tergantung dari masa bertelur. DiTNAP penyu lekang dapat di-tagging setiap musim bertelur antara April sampai Agustus. Penyu sisik muncul November Januari. Kecuali penyu belimbing yang tidak tentu naiknya, pemasangan tagging pada flliper penyu hijau sama waktunya seperti penyu sisik. Penyu biasa mendarat sekitar pukul 20.00 sampai 03.00 pagi. Puncaknya antara pukul 23.00 sampai 00.00 WIB.

Pemasangan tagging juga sangat memperhatikan kebiasaan penyu bertelur. Penyu hijau bertelur berjarak sekitar 10 m dari bibir pantai atau dekat vegetasi rerumputan. Penyu lekang bertelur lebih dekat lagi ke bibir pantai. Yang masuk sampai sejauh lebih dari 20 m hingga menembus vegetasi perdu adalah penyu sisik. “Jadi, kalau patroli sudah tahu di mana menemukan mereka,” ujar Ponihadi.

Memang tak jarang penyu ber-tagging dengan nomor dan kode lain mendarat di lokasi berbeda. Bila itu terjadi petugas atau awak konservasi yang kebetulan mengetahui, wajib melaporkan sesuai nomor kontak yang tercetak ditagging. Itulah bentuk wujud kepedulian bersama untuk melindungi sang penyu yang gemar menjelajah lautan luas. (Dian Adi jaya S)

https://www.fisheries.noaa.gov/feature-story/motherload-story-fertile-turtle-hawaiian-islands
https://www.anton-nb.com/artikel/reptil-purba-rindu-pantai.html

Last Modified: 7th Des 2020