Ubi daluga : Alternatif Pangan Selain Padi

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Keheranan itu tercermin dari ujaran Ir Lusiana Sigilipu seolah mewakili orang-orang yang berkerumun di sana. “Baru kali ini saya melihat ubi daluga sebesar ini,” kata pegawai Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Sebuah kekaguman yang wajar. Jangankan dari luar daerah, masyarakat Sulawesi Utara pun banyak yang belum mengenal ubi berbentuk kerucut itu.

“Bagaimana mencabut tanamannya kalau sudah sebesar ini,” tuturnya. Maklum diameter pangkal umbi mencapai satu pelukan tangan orang dewasa atau hampir 1 meter. Menurut Ir Rita Novarianto MS, penjaga paviliun Sulawesi Utara, daluga tanaman spesifik Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Ia tumbuh di lahan basah, termasuk rawa pasang surut air laut. “Di rawa gambut Kalimantan mungkin bisa tumbuh, tapi belum pernah dicoba,” kata Rita.

Produksi Yang cukup tinggi

Sepintas tanaman daluga mirip talas. Hanya saja penampilannya lebih bongsor dan rimbun. Ia berbatang semu, tidak berkayu  Tanaman sukulen itu memunculkan daun-daun bertangkai panjang langsung dari permukaan tanah. Tangkai daun tampak kokoh dan berdiri tegak. Daun lebar berbentuk jantung. Daluga dipanen pada umur 1 tahun dengan bobot rata-rata 2-3 kg. Tidak semua tanaman menghasilkan umbi berukuran raksasa.

“Umbi di atas 20 kg dicapai jika umur panen mencapai lebih dari 3 tahun,” papar Sukardi di stan Kabupaten Sangihe. Setiap rumpun menghasilkan 10-15 umbi berdiameter minimal 15 cm. Total jenderal hasil panen mencapai 20-25 kg per rumpun.

Daluga tidak tersedia di pasaran sepanjang tahun. Ia hanya ditemukan saat musim panen, Maret-Juni. Sebab, tanaman berumur panen panen di atas 1 tahun itu biasanya ditanam saat kemarau, Juni- September, setiap tahun. Sentra daluga di Kecamatan Tamako. Di kampung halaman pengusaha dan politikus terkenal Arnold Baramuli itu daluga tumbuh di ketinggian 1-5 m dpi.

Pangan alternatif

Menurut Sukardi, masyarakat di sana membudidayakannya meski tidak intensif. Sebab, meski bukan lagi sebagai bahan makanan pokok, daluga tetap menjadi pangan alternatif penting bagi masyarakat. Itu karena rasanya manis, bertekstur halus hampir tak berserat, dan kering.

Selama ini masyarakat masih mengkonsumsi daluga sebagai teman minum teh pada pagi atau sore hari. Umbi dipotong sesuai selera, lalu cukup direbus atau digoreng. Selain itu, ia juga diolah menjadi keripik dan katang-katang penganan khas setempat. Bahkan, kini ia mulai dikembangkan menjadi tepung untuk berbagai olahan.

Di pasaran daluga dijual dalam kelompok 4-5 umbi seharga Rp 5.000- Rp 7.500. Meski ada yang dijual mentah, banyak konsumen lebih senang membeli yang sudah direbus. Maklum, daging daluga cukup keras. “Tak cukup 1 jam untuk merebusnya hingga matang,” tutur Sukardi. Serba ubi Selain daluga, umbi raksasa lain dari kawasan timur Indonesia adalah suza. Bentuknya bulat panjang hingga satu meter dan diameter 15 cm. Kulit berwarna cokelat. Ketika dipotong, daging umbi yang putih bergetah. Tanaman dipanen saat berumur 1-2 tahun pada musim kemarau. Sebuah tanaman hanya menghasilkan 1 umbi berbobot sekitar 5 kg.

Umbi daluga yang pulen itu masih menjadi makanan pokok masyarakat Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Ia dimanfaatkan dalam upacara Geki. Ketika itu orang dilarang makan nasi dan harus menyantap umbi-umbian termasuk suza. Bahan pangan itu diperoleh dari tanaman menjalar. Daunnya berbentuk jantung dengan bagian ujung meruncing.

Masyarakat Aimere menanamnya pada penghujung kemarau atau awal musim hujan. Sebulan setelah penanaman, ajir bambu ditancapkan sebagai rambatan batang berduri. Suza dibudidayakan tumpang sari dengan jagung dan tanaman kacang-kacangan. Menurut Silvester Teda dari Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Ngada, peran suza amat penting bagi penyediaan bahan pangan.

Suza disertakan dalam perayaan Geki
Suza disertakan dalam perayaan Geki

Tanaman Pangan

Kumbili Aimere, kota di Kabupaten Ngada, juga menyimpan umbi lain bernama uwi. Di seluruh dunia setidaknya terdapat 600 jenis ubi. Sedangkan di Asia dan Afrika baru 18 jenis yang telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan, obat-obatan, dan racun. Uwi dari Ngada, salah satu di antaranya. Seperti halnya suza, uwi juga wajib dikonsumsi saat penyelenggaraan upacara Geki.

Sosoknya pendek, panjang 20 cm. Kulit cokelat dan daging umbi putih atau kekuningan. Tanaman merambat itu dibudidayakan dengan jarak 1 m x lm di atas guludanpada Oktober -November. Setelah berumur 3 bulan, tanaman dibumbun sekaligus pembersihan gulma. Di ketinggian 0-200 m dpi itu luas penanaman uwi rata-rata 700
ha per tahun. Kepemilikan lahan uwi di sana sekitar 0,5-1 ha. Uwi siap panen setelah berumur 8 bulan.

Umbi lain yang tak kalah lezat adalah kumbili. Permukaan kulit umbi dari Saparua, Maluku, itu ditumbuhi akar serabut tipis. Warna kulit cokelat. Namun, warna daging buah beragam tergantung jenisnya. Menurut Basir Watihelu dari Dinas Pertanian Provinsi Maluku, ada kumbili berdaging putih, kuning, dan ungu. Ia diolah dengan merebus sehingga terasa manis. Selain tumbuh di hutan, kumbili juga dibudidayakan di pekarangan penduduk.

Menurut Teda dan Basir, umbi-umbian itu berperan penting terhadap penyediaan bahan pangan bagi masyarakat. Dengan demikian tak semua orang mengejar padi yang identik dengan Dewi Sri sebagai sumber karbohidrat. (Sardi Duryatmo & Fendy R Paimin)