Udang Organik: Si Bongkok Melenggang ke Pasar

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Petambak kerap gigit jari lantaran udangnya ditolak pasar ekspor gara-gara mengandung antibiotik chloramphenicol. Udang windu produksi petambak di Buduran, Sidoarjo, malah jadi rebutan pasar. Swedia saja meminta 3.500 ton per tahun. Maklum Pennaeus monodon di sana dibudidayakan secara organik.

Mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sidoarjo Ir Sunaryo, menuturkan kecil kemungkinan udang windu Sidoarjo mengandung zat antibiotik. “Sejak 1991, para petambak menerapkan metode pemeliharaan secara tradisional dan menggunakan pupuk organik,” tuturnya. Dari 15.539 ha lahan tambak di Sidoarjo, 2.200 ha menggunakan sistem organik.

Bacaan Lainnya

Nun di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran sekitar 18 ha Tambak Inti Rakyat menjadi percontohan sistem tambak organik. Ali Subhan, petambak beserta rekan-rekannya yang tergabung dalam Grup Ali Ridho memasok 2.500 ton per tahun ke Jepang dan Swedia.

Kesuksesan Ali bermula sejak label organik menempel di udangnya. Pada bulan April sertifikat organik diraih dari Badan Penerbit Sertifikat Organik, Nature Land dari Jerman. Tambak Grup Ali Ridho juga direkomendasikan oleh IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements) di Swedia.

Jalan berliku Menuju Kesuksesan

Ganggang sebagai pakan alami
Tak mudah bagi Ali dan kawan-kawan mendapatkan sertifikat itu. Awalnya kerjasama dengan ATJ (Alter TradeJapan) pada 1999. ATJ merupakan gabungan 9 koperasi di Jepang yang menampung udang organik. Sejak itu sistem pertambakan dikontrol secara ketat. Para petambak mendapatkan kursus dan pelatihan manajemen tambak organik secara kontinu selama 2 tahun. Metode input dan output tambak serta pencatatan kegiatan tambak terkontrol dengan baik.

“Seiring dengan itu tambak kami mendapat Internal Control System, sistem pengawasan dalam yang terdiri dari penilaian kualitas air, pemberian pakan, pemupukan, pembenihan, sampai pemanenan,” ujar ayah seorang putri itu.

Udang juga diuji laboratorium untuk mengetahui kandungan residu. Lima tahun berselang sertifikat itu digenggam oleh Grup Ali Ridho.

Menurut Suwiji Wongso dari ATJ, udang organik adalah hasil sistem pertambakan dengan manajemen produksi bahan pangan yang mengembangkan dan memperhatikan ekosistem. Sistem itu harus menekankan bahan-bahan organik dan menghindari pemakaian bahan sintetis.

Prinsip dasar produk organik budidaya air, antara lain: memperhatikan siklus biologis dalam pengelolaan produk dan penggunaan pakan alami. Selain itu penanganan hama penyakit yang ramah lingkungan dan menghindari zat sintetis serta bahan kimia untuk sterilisasi air.

Serba Alami

“Ada tiga hal yang menonjol pada sistem tambak TIR, yaitu pupuk organik, sterilisasi air secara alami, dan pemberian bakteri pengurai,” kata pria 34 tahun itu. Ramuan pupuk organik dan bakteri pengurai merupakan olahan sendiri. Ali, yang juga aktivis LSM Peduli Lingkungan Pesisir piawai memanfaatkan sumber daya alam untuk kesinambungan tambak organik. Saat Kami berkunjung akhir Juli 2004, tampak daun api-api tumbuh di sepanjang pematang tambak. Api-api dijadikan bahan pembuatan pupuk dan pakan udang.

Ali membuat biakan bakteri sebagai starter dan pengomposan sebagai pupuk organik. Fungsinya untuk menyuburkan tanah serta menumbuhkan zooplankton dan fitoplankton sebagai pakan udang. Bahan biakan bakteri berupa bekatul, terasi, gula, rumen kambing, dan air. Sedangkan untuk kompos dipakai pupuk kandang, daun api-api, sekam, abu, dan bakteri yang telah dibiakkan sebagai starter.

Untuk menghambat gempuran white spot pria pehobi bulu tangkis itu menancapkan batang pisang di sebilah bambu. Jarak antargedebok 0,5—1 m dengan tinggi masing-masing 0,5 m. Dari pinggir tambak, jarak penanaman sekitar 5 m. Untuk tambak 1 ha dibutuhkan 32— 64 gedebok. Sejak pemakaian gedebok produksi udang meningkat 30%. Jika biasanya produksi 60 kg/ha, kini meningkat menjadi 100 kg/ha dari 2.500 benur yang disebar.

Pasokan Aliran air

Secara umum perairan Sidoarjo sangat menguntungkan petambak lantaran kondisi pasang surut setiap 6 jam. Itu memungkinkan pasokan air tidak memerlukan bantuan mesin. Namun, untuk tambak sistem organik diperlukan sterilisasi yang baik guna menjaga kualitas air dari kontaminasi.

Filter biologis berupa rangkaian kayu yang ditutupi kawat dan diisi arang. Ukurannya disesuaikan dengan pintu air, ukuran standar 2m x 1m dengan ketebalan 30 cm. Arang kayu dipilih karena dapat menyerap logam berat yang terbawa oleh aliran sungai. Selain itu aliran air menuju tambak melalui perjalanan panjang. Sebelum menuju tambak aliran sungai melewati filter di setiap tandon air.

Kualitas air terjaga, pakan, pupuk serta perawatan yang ramah lingkungan menjadi satu paket yang menyatu untuk menghasilkan windu organik. Kini bukan hanya lezatnya si bongkok yang tercecap di lidah, tetapi juga menyehatkan lingkungan.

Pemanfaatan Gedebok Pisang

Windu organik buruan eksportir
Aji Subhan petambak udang windu di Sawohan, Sidoarjo, sukses menghambat white spot. la hanya memanfaatkan gedebok pisang. Selama ini batang itu terbuang setelah buah dipanen. Setelah penggunaan batang Musa sp. itu kini produksinya mencapai 1 kuintal/ ha; sebelumnya hanya mencapai 60 kg/ha.

Pemanfaatan gedebok terjadi secara kebetulan. Saat pertemuan pertanian organik akhir tahun ini di Jawa Tengah, koleganya asal Indramayu mengisahkan penggunaan batang pisang di tambaknya. Akhirnya, alumnus IAIN Sunan Ampel itu pun menancapkan gedebok pisang di sekeliling tambak. Untuk satu musim panen, dibutuhkan 32 gedebok per hektar dengan ukuran masing-masing 0,5 m.

White spot disebabkan parasit Ichthyophthirius multifiliis. la merupakan momok bagi pembudidaya udang. Gejalanya ditandai bintik putih di permukaan kulit. Penularannya akibat infeksi dari ikan atau tanaman air. Pada budidaya ikan hias, gempuran white spot biasanya diatasi dengan penggunaan methyline blue atau obat antiwhitespot. Di budidaya udang, gedeboklah solusinya.

Menurut Ir Koko dari Kontrol Tani dan Lingkungan Hidup, Surabaya, gedebok pisang memunculkan bakteri Pf (Pseudomonas flourcen). Bakteri itu dapat mencegah vibrio patogen penyebab white spot. Organisme lain yang timbul adalah cendawan trichoderma dan Gliocladium. Duet cendawan itu berfungsi menambah unsur hara yang dibutuhkan si bongkok dalam pertumbuhannya.

Pos terkait