Yellow Pitaya Columbia di Wonosobo

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Walau sama-sama menyandang gelar pitaya, sosok kaktus ini berbeda dengan red pitaya alias dragon fruit berkulit merah. Sosok pitaya kuning jauh lebih kecil, sekitar 80 – 100 g/buah. Namun jangan tanya rasanya. “Benar-benar manis. Sekali makan pasti ingin lagi,” ujar Jack Craig, kolektornya.

Sayangnya, Selenicerus megalanthus agak malas berbuah. Jack butuh waktu 3 tahun mulai dari setek. Bandingkan dengan dragon fruit Hylocereus sp yang hanya perlu 1-2 tahun untuk panen. Meski begitu panen dari setek jauh lebih cepat ketimbang dari biji yang bisa mencapai 4 tahun bahkan lebih.

Setek dari Hawaii sepanjang 40 cm itu hasil seleksi dari 37 klon yang ada. Wajar bila citarasanya lebih enak. Selama 1 tahun lebih Jack menanam dalam pot berisi media pasir dan pupuk kandang. “Baru tahun kedua dipindah ke tanah,” kata penggemar buah asal Amerika. Ini dilakukan untuk menghindari iklim ekstrim, seperti curah hujan tinggi di Wonosobo yang bisa menghambat pertumbuhan.

Di lahan, kelahiran Ohio, Amerika Serikat itu sengaja menanam tepat di samping tembok rumah. Dinding terbuka,
sarana pas untuk memanjat. Saat pemindahan, Jack hanya memberi pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Selanjutnya ia rutin meletakkan kotoran sapi di sekeliling tanaman. “Kotoran itu memang sengaja saya biarkan membusuk sendiri,” ucap Jack yang lebih senang bertanam organik. Menurutnya, kandungan unsur hara bisa dipertahankan lengkap.

Setek tumbuh pesat menjadi tanaman dewasa. Akar udara “mencengkeram” tembok sehingga batang tidak terkulai. Batang tumbuh subur meliuk-liuk ’’menjelajah” dinding. Saat Mitra Usaha Tani berkunjung, buah berwarna kuning menempel di ruas batang. Permukaan buah diselingi benjolan duri halus. Dengan sekali putar, Jack “memanen” 3 buah pitaya.

yellow pitayya
Paduan rasa yang manis dan biji yang renyah membuat yellow pitayya banyak disukai

Butuh naungan

Yellow pitaya belum banyak dikembangkan. Baru Columbia dan Israel yang memproduksi dalam skala besar. Pasarnya ke negara-negara Eropa. Di sana buah asli daerah tropis kering dijual sebagai buah eksklusif. Per buahnya bisa mencapai US$ 5.

Penanaman secara intensif dilakukan dalam areal tertutup net. Di habitatnya, pitaya kuning memang ditemukan pada daerah ternaungi. Di kebun skala komersil, pitaya tumbuh optimal di bawah naungan net 30%-60%. Tanpa net, ia bakal kekeringan atau membusuk. Daerah penanaman umumnya bercurah hujan sedang, 600-1.300 mm/tahun. Ia masih bisa hidup pada suhu 7°-38°C. Di tempat yang beriklim sedang, ia akan berbunga lebih cepat, sekitar September.
Di lokasi yang lebih panas, November sampai Desember.

Penanaman dilakukan di batang pohon mati atau teralis besi. Jarak tanam 3 m x 5 m. Secara berkala batang disemprot pupuk. Akar udara yang muncul di sela-sela batang akan menangkap nutrisi itu. Selain lewat akar, pupuk organik dibenamkan ke dalam media tanah berpasir. Komposisi nutrisi yang
diberikan kebun-kebun di Israel ialah 35 ppm N dari 23 N : 7 P : 23 K.

Tak tahan kering

Berbeda dengan dragon fruit, yellow pitaya lebih rentan terhadap kondisi ekstrim kering. Artinya, ia tak boleh melewati masa kekurangan air. Tak adanya parenkim dan lapisan lilin-seperti pada dragon fruit-membuatnya sensitif terhadap stres air. Namun sebagai anggota sukulen kebutuhan air per tanaman tetap kecil, 150 mm-250 mm/tahun.

Dengan tercukupinya semua kebutuhan, bunga yang terbentuk bisa berbuah. Bunga bersifat self compatible. Jadi tak perlu orang untuk mengawinkan bunga jantan dan betina. Lain halnya dengan dragon fruit yang butuh bantuan.

Buah siap panen umur 90-180 hari setelah berbunga. Panen biasanya jatuh pada Januari -pertengahan Mei. Dengan penanganan intensif, bobot pitaya kuning yang umumnya 100 g/buah bisa mencapai 350 g. Sangat pas sebagai pilihan buah eksotis.